Abu Al-Jauzaa' :, 27 Januari 2009
Shalat adalah satu ibadah ’amaliy terbesar yang harus dilakukan muslim yang pernah mengikrarkan dua kalimat syahadat. Ia merupakan tiang agama. Namun sayangnya, banyak diantara kaum muslimin yang menyia-nyiakannya. Ini adalah musibah bagi dirinya dan juga kaum muslimin seluruhnya......
Diantara yang telah mengerjakannya (dan kita ucapkan alhamdulillah atas hal ini), masih banyak yang tidak mengerti akan hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat. Bagaimana cara yang benar dalam shalat. Oleh karena itu, di sini saya akan mencoba meringkaskannya tentang bahasan ini..... Semoga Allah ta’ala menjadikannya satu kemanfaatan bagi diri saya (di dunia dan di akhirat), juga bagi kaum muslimin semua.
1. Makna Shalat
Shalat secara bahasa (etimologis) maknanya adalah doa [1]. Adapun secara syari’at (terminologis) maknanya adalah perkataan dan perbuatan yang dimulai dari takbir (takbiratul-ihram) dan diakhiri dengan salam, yang dibarengi dengan niat.
2. Dalil Pensyari’atan Shalat
Allah ta’ala berfirman :
قُل لّعِبَادِيَ الّذِينَ آمَنُواْ يُقِيمُواْ الصّلاَةَ وَيُنْفِقُواْ مِمّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلانِيَةً مّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خِلاَلٌ
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan” [QS. Ibrahim : 31].
3. Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat
Orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya, maka dia telah kafir dan keluar dari agama Islam. Kaum muslimin (ulama) telah sepakat mengenai hal itu. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang hukum orang meninggalkan shalat karena malas atau bisikan hawa nafsu (tanpa mengingkari kewajibannya). Sebagian ulama mengkafirkan, dan sebagian lagi tidak mengkafirkan (kufur ashghar). Yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan tidak kafir.[2] Akan tetapi bukan berarti hal ini meremehkan kewajiban shalat. Bahkan orang yang meninggalkan shalat (karena malas dan dorongan hawa nafsu), maka ia telah berbuat salah satu dosa besar yang paling besar yang hampir menjerumuskannya pada pintu kekafiran. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat” [HR. Muslim no. 82].
4. Jumlah Shalat Fardlu
Jumlah shalat fardlu dalam sehari semalam adalah lima kali shalat.
عن طلحة بن عبيد الله يقول: جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم من أهل نجد، ثائر الرأس، يسمع دوي صوته ولا يفقه ما يقول، حتى دنا، فإذا هو يسأل عن الإسلام، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (خمس صلوات في اليوم والليلة) فقال: هل علي غيرها؟ قال: (لا إلا أن تطوع).
Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah ia berkata : “Telah datang seorang laki-laki penduduk Nejed kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kepalanya telah beruban, gaung suaranya terdengar tetapi tidak bisa dipahami apa yang dikatakannya kecuali setelah dekat. Ternyata ia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : ‘Shalat lima waktu dalam sehari semalam’. Ia bertanya lagi : ‘Adakah saya punya kewajiban shalat lainnya ?’. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : ‘Tidak, melainkan hanya amalan sunnah saja” [HR. Al-Bukhari no. 46].
Ia adalah shubuh (2 raka’at), dhuhur (4 raka’at), ‘asar (4 raka’at), maghrib (3 raka’at), dan ‘isya’ (4 raka’at).
5. Waktu-Waktu Shalat
Allah ta’ala berfirman :
أَقِمِ الصّلاَةَ لِدُلُوكِ الشّمْسِ إِلَىَ غَسَقِ الْلّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوداً
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” [QS. Al-Israa’ : 78].
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
وقت الظهر إذا زالت الشمس. وكان ظل الرجل كطوله. ما لم يحضر العصر. ووقت العصر ما لم تصفر الشمس. ووقت صلاة المغرب ما لم يغب الشفق. ووقت صلاة العشاء إلى نصف الليل الأوسط. ووقت صلاة الصبح من طلوع الفجر. ما لم تطلع الشمس.
“Waktu dhuhur jika matahari telah tergelincir sampai bayangan seseorang sama tinggi dengan seseorang itu selama belum masuk waktu ‘ashar. Waktu ‘ashar sampai matahari berwarna kuning. Waktu shalat maghrib selama sinar matahari belum hilang. Waktu shalat ‘isya’ sampai tengah malam. Waktu shalat shubuh mulai terbitnya fajar (shadiq) sampai matahari belum terbit” [HR. Muslim no. 612].
Perinciannya adalah sebagai berikut :
a) Waktu shubuh, dimulai dari terbitnya fajar shadiq sampai sebelum matahari terbit.
b) Waktu dhuhur, dimulai saat matahari telah tergelincir (bayangan seseorang telah nampak sesaat setelah matahari tepat di atas kepala) sampai panjang bayangan seseorang sama dengannya tinggi badannya.
c) Waktu maghrib, dimulai sesaat setelah matahari tenggelam sampai dengan sinar lembayung merah di ufuk barat habis.
d) Waktu ‘isya’, dimulai setelah sinar lembayung merah di ufuk barat habis sampai dengan tengah malam tiba.
6. Waktu Terlarang untuk Shalat
Dari Amru bin Abasah radliyallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia pernah berkata kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Beritahukanlah kepadaku sesuatu tentang shalat”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
صل صلاة الصبح. ثم أقصر عن الصلاة حتى تطلع الشمس حتى ترتفع. فإنها تطلع حين تطلع بين قرني شيطان. وحينئذ يسجد لها الكفار. ثم صل. فإن الصلاة مشهودة محضورة. حتى يستقل الظل بالرمح. ثم أقصر عن الصلاة. فإن، حينئذ، تسجر جهنم. فإذا أقبل الفيء فصل. فإن الصلاة مشهودة محضورة. حتى تصلي العصر. ثم أقصر عن الصلاة. حتى تغرب الشمس. فإنها تغرب بين قرني شيطان. وحينئذ يسجد لها الكف
“Lakukanlah shalat Shubuh, kemudian berhentilah melakukan shalat lain, hingga terbit matahari, hingga matahari meninggi. Sesungguhnya matahari itu terbit di antara sepasang tanduk setan. Waktu itulah orang-orang musyrik bersujud kepadanya. Kemudian shalatlah karena shalat pada saat itu disaksikan oleh para malaikat hingga bayang-bayang tembok tegak. Kemudian berhentilah melakukan shalat lain, karena kala itu neraka Jahannam dinyalakan. Apabila matahari sudah tergelincir, shalatlah hingga datang waktu Ashar. Kemudian berhentilah melakukan shalat hingga matahari tenggelam. Karena matahari tenggelam di antara sepasang tanduk setan, dan ketika itulah orang-orang musyrik bersujud kepadanya” [HR. Muslim no. 832].
Perincian waktu terlarang untuk shalat adalah sebagai berikut :
a) Setelah shalat Shubuh sampai terbit matahari.
b) Ketika terbit matahari sampai matahari meninggi setinggi satu tombak (dimulainya waktu Dluha).
c) Ketika matahari tepat di atas kepala (pertengahan siang) sampai tergelincir (zawal – masuk waktu Dhuhur).
d) Setelah shalat Ashar sampai terbenam matahari.
e) Ketika matahari mulai tenggelam sampai betul-betul tenggelam (masuk waktu Maghrib).
Kelima waktu di atas adalah diharamkan bagi setiap muslim untuk melakukan shalat sunnah mutlak.[3] Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang dilakukannya shalat sunnah dengan sebab-sebab tertentu (contoh : shalat tahiyyatul masjid, shalat sunnah wudlu, shalat kusuf (gerhana), dan lain-lain) yang dilakukan pada 5 waktu terlarang tersebut. Yang lebih rajih (kuat) insya allah adalah diperbolehkan – wallahu a’lam. [4]
7. Meninggalkan Shalat karena Ketiduran atau Kelupaan.
Maka hendaknya ia segera mengerjakannya begitu ia teringat, sebagaimana perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
من نسي صلاة فليصل إذا ذكرها لا كفارة لها إلا ذلك
“Barangsiapa yang tidak mengerjakan shalat karena lupa, maka hendaknya ia mengerjakan shalat tersebut ketika ia teringat dengannya. Tidak ada kaffarat lain selain itu” [HR. Al-Bukhari no. 572 dan Muslim no. 684].
8. Syarat sahnya shalat :
a) Islam
b) Berakal
c) Tamyiz (mampu membedakan antara baik dan buruk
d) Suci dari hadats besar dan hadats kecil.
e) Suci badan, pakaian, dan tempat shalat.
f) Menutup aurat (bagi wanita seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan).
g) Dikerjakan pada waktunya.
h) Menghadap kiblat.
i) Niat
9. Rukun-Rukun Shalat :
a) Berdiri jika mampu.
b) Takbiratul-ihram.
c) Membaca Al-Fatihah.
d) Rukuk.
e) I’tidak setelah rukuk.
f) Sujud pada tujuh anggota tubuh.
g) Bangkit dari sujud.
h) Duduk antara dua sujud.
i) Thuma’ninah pada seluruh gerakan.
j) Tertib pada seluruh pelaksanaan rukun-rukun shalat.
k) Tasyahud akhir.
l) Duduk (pada tasyahud akhir).
m) Bershalawat pada Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam.
n) Salam.
10. Shalat Berjama’ah Bagi Wanita
v Para ulama sepakat bahwa kaum wanita tidak wajib mengerjakan shalat berjama’ah, akan tetapi syari’at tetap membenarkan mereka shalat berjama’ah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة
“Shalat berjama’ah duapuluh tujuh derajat lebih utama daripada shalat sendirian” [HR. Al-Bukhari no. 619 dan Muslim no. 650].
v Posisi imam seorang wanita yang mengimami wanita lainnya adalah di tengah-tengah shaff pertama.
عن ريطة الحنفية أن عائشة أمتهن وقامت بينهن في صلاة مكتوبة
Dari Raithah Al-Hanaifiyyah : “Bahwasannya ‘Aisyah pernah mengimami mereka dan ia berdiri di tengah mereka (barisan pertama) dalam shalat fardlu” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 5086, Ad-Daruquthni 1/404, dan Baihaqi 3/131; shahih bisyawahidihi].
v Rumah adalah Tempat Shalat yang Paling Baik Bagi Wanita
عن بن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تمنعوا نساءكم المساجد وبيوتهن خير لهن
Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid; akan tetapi shalat di rumah adalah lebih baik bagi mereka” [HR. Abu Dawud no. 567, Ibnu Khuzaimah no. 1683, Al-Hakim no. 755 dan yang lainnya; shahih lighairihi].
v Seorang wanita boleh mengimami sesama wanita atau anak kecil yang belum baligh. Wanita tidak boleh menjadi imam bagi laki-laki.
11. Kaifiyyah (Tata Cara) Shalat
a) Niat
Tidak disyari’atkan mengucapkan/melafadhkan niat, sebab hal itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, para shahabat, dan para ulama setelahnya (termasuk imam empat).[5]
b) Menghadap Sutrah (Pembatas dalam Shalat).
Sutrah adalah sesuatu yang digunakan sebagai pembatas shalat yang diletakkan di depan orang shalat.
Hukum menghadap sutrah ini adalah wajib bagi shalat munfarid (sendirian) dan bagi imam [6]. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
لا تصل إلا إلى سترة ولا تدع أحدا يمر بين يديك فإن أبى فلتقاتله فإن معه القرين
“Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sutrah (pembatas). Dan jangan engkau biarkan seorangpun lewat di hadapanmu (ketika engkau shalat). Jika ia enggan, maka perangilah ia, sesungguhnya ia bersama dengan qarin (syaithan)” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 800; shahih].
وَقَالَ ابن مَسعود : أَربَع منَ الخلَفَاء : أن يصلي الرّجل إلى غير سترة … أو يسمع المنادي ثم لا يجيبه
Dan Ibnu Mas’ud berkata : “Empat hal dari kemunkaran yaitu : Seseorang melakukan shalat tidak menghadap sutrah….. atau mendengar panggilan (adzan) lalu tidak menjawabnya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/61 dan Al-Baihaqi dalam Al-Kubra 2/285; shahih].
Tinggi sutrah minimal seukuran bagian belakang pelana kuda atau kira-kira dua pertiga sampai satu hasta, berdasarkan hadits:
إذا قام أحدكم يصلي فإنه يستره إذا كان بين يديه مثل آخرة الرحل
“Jika berdiri salah seorang di antara kalian untuk melaksanakan shalat, sesungguhnya terbatasi dia jika di depannya terdapat seukuran bagian pelana kendaraan tunggangan/kuda” [HR. Muslim no. 510].
Adapun jarak antara tempat berdiri shalat dengan sutrah adalah sepanjang tiga hasta, berdasarkan hadits :
...ثم صلى وجعل بينه وبين الجدار نحوا من ثلاثة أذرع
“….Kemudian beliau shalat dimana jarak antara beliau dan dinding (sebagai sutrah – Abul-Jauzaa’ (Pent.)) adalah sekitar tiga hasta” [HR. An-Nasa’i no. 749 dan Ahmad 2/138; shahih].
c) Berdiri jika mampu
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
صل قائما فإن لم تستطع فقاعدا فإن لم تستطع فعلى جنب
“Shalatlah sambil berdiri. Bila tidak sanggup, maka shalatlah sambil duduk. Bila tidak sanggup juga, shalatlah sambil berbaring” [HR. Al-Bukhari no. 1066, Abu Dawud no. 939, dan At-Tirmidzi no. 369].
Seluruh ulama sepakat (ijma’) bahwa orang yang sehat lagi mampu wajib melakukan shalat fardlu sambil berdiri, baik sendiri maupun menjadi imam.
Bila ia sedang naik pesawat, kapal, atau kendaraan lain yang tidak mungkin baginya untuk turun (ke tanah/darat) sewaktu-waktu, maka ia tetap wajib shalat sambil berdiri jika mampu. Namun jika tidak mampu, maka boleh baginya shalat sambil duduk.
Boleh mengerjakan shalat sunnah sambil duduk tanpa alasan apapun, akan tetapi ia hanya mendapatkan pahal setengah dari orang yang berdiri. ‘Imran bin Hushain pernah bertanya kepada Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wasallam tentang orang yang shalat sambil duduk. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab :
إن صلى قائما فهو أفضل ومن صلى قاعدا فله نصف أجر القائم ومن صلى نائما فله نصف أجر القاعد
“Barangsiapa yang shalat dengan berdiri, maka hal itu lebih baik. Orang yang mengerjakan shalat sambil duduk mendapatkan setengah pahala orang yang mengerjakannya sambil berdiri. Orang yang mengerjakan shalat sambil berbaring mendapatkan setengah pahala orang yang mengerjakannya sambil duduk” [HR. Bukhari no. 1064].
Namun jika ia melakukan shalat sambil duduk atau berbaring karena udzur (sakit atau yang lainnya), maka ia tetap mendapatkan pahala sebagaimana orang berdiri (tidak kurang). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا
“Barangsiapa yang jatuh sakit atau melakukan perjalanan jauh, maka dicatatkan pahala baginya pahala seperti yang biasa ia dilakukannya ketika bermukim atau sehat” [HR. Al-Bukhari no. 2834].
d) Takbiratul-Ihram dan Mengangkat Tangan
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مفتاح الصلاة الطهور وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم
“Kunci shalat itu adalah suci, pengharamannya[7] adalah takbir (yaitu takbiratul-ihram), dan penghalalannya[8] adalah salam” [HR. Abu Dawud no. 61, Asy-Syafi’i dalam Al-Umm 1/87, At-Tirmidzi no. 3 dan lain-lain; hasan].
إنه لا تتم صلاة لأحد من الناس حتى يتوضأ، فيضع الوضوء مواضعه ثم يقول : اَللهُ أَكْبَرُ
“Sesungguhnya tidaklah sempurna shalat salah seorang di antara manusia sehingga ia berwudlu dan meletakkan wudlu tersebut pada tempatnya (yaitu pada anggota badan yang wajib terkena air wudlu), lalu berkata : Allaahu Akbar” [HR. Thabarani dalam Al-Kabiir no. 4526; shahih].
Kadangkala Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir.
أن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: رأيت النبي صلى الله عليه وسلم افتتح التكبير في الصلاة، فرفع يديه حين يكبر، حتى يجعلهما حذو منكبيه
Bahwasannya ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma berkata : “Aku melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memulai shalat dengan takbir. Maka beliau mengangkat kedua tangannya ketika (bersamaan) takbir setinggi kedua pundaknya” [HR. Al-Bukhari no. 705].
Kadangkala beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan sebelum takbir.
أن بن عمر قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام للصلاة رفع يديه حتى تكونا حذو منكبيه ثم كبر
Bahwasannya Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila berdiri untuk shalat, maka beliau mengangkat kedua tangannya setinggi kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir” [HR. Muslim no. 390].
Kadangkala beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan setelah takbir.
عن أبي قلابة أنه رأى مالك بن الحويرث إذا صلى كبر ثم رفع يديه وإذا أراد أن يركع رفع يديه وإذا رفع رأسه من الركوع رفع يديه وحدث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يفعل هكذا
Dari Abu Qilabah : “Bahwasannya ia melihat Malik bin Al-Huwairits apabila ia melakukan shalat, maka ia bertakbir kemudian mengangkat kedua tangannya. Dan apabila ia hendak rukuk, maka ia mengangkat kedua tangannya. Apabila ia mengangkat kepalanya dari rukuk (i’tidal), maka ia mengangkat kedua tangannya. Ia mengatakan bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan demikian (dalam shalat)” [HR. Al-Bukhari no. 704 dan Muslim no. 391].
Beliau shallalaahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan sejajar kedua pundaknya (berdasarkan hadits di atas). Kadangkala, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya.
عن مالك بن الحويرث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا كبر رفع يديه حتى يحاذي بهما أذنيه
Dari Malik bin Al-Huwairits : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya” [HR. Muslim no. 391].
e) Meletakkan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri di Dada
عن سهل بن سعد قال كان الناس يؤمرون أن يضع الرجل اليد اليمنى على ذراعه اليسرى في الصلاة
Dari Sahl bin Sa’id radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Adalah para shahabat diperintahkan (oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam) bahwa seseorang agar meletakkan tangan kanannya di atas hasta kirinya dalam shalat” [HR. Al-Bukhari no. 707].
Dari Wa’il bin Hujr radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :
صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ووضع يده اليمنى على يده اليسرى على صدره
“Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau meletakkan tangan kanannya atas tangan kirinya di dadanya” [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 479].
Adapun meletakkan kedua tangan di bawah dada atau perut, maka hal ini tidak benar (menyelisihi sunnah).[9]
f) Melihat Tempat Sujud dan Khusyu’
عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا صلى رفع بصره إلى السماء فنزلت الذين هم في صلاتهم خاشعون فطأطأ رأسه
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah shalat dengan mengangkat pandangannya ke langit. Maka turunlah ayat : “(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya” {QS. Al-Mukminun : 2}. Maka beliau kemudian menundukkan kepalanya” [HR. Al-Hakim no. 3483; shahih sesuai syarat Muslim].
Dilarang menoleh ketika shalat, sebagaimana penjelasan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika beliau ditanya tentang hukum menoleh ketika shalat :
هو اختلاس يختلسه الشيطان من صلاة العبد
“Itulah ikhtilaas (mencuri-curi), yang dicuri-curi syaithan dari shalat seorang hamba” [HR. Al-Bukhari no. 718].
Akan tetapi diperbolehkan untuk melirik (tanpa menoleh) jika ada keperluan.
عن بن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يلحظ في الصلاة يمينا وشمالا ويلوى عنقه خلف ظهره
Dari Abdullah bin ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melirik ke kanan dan ke kiri dalam shalat, namun beliau tidak menolehkan leher beliau ke belakang” [HR. At-Tirmidzi no. 587 dan Ibnu Khuzaimah no. 485 dengan sanad shahih].
g) Membaca Iftitah/Istiftah
Hukumnya adalah sunnah menurut jumhur ulama (dan ini adalah pendapat yang rajih/kuat). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إنه لا تتم صلاة لأحد من الناس حتى يتوضأ، فيضع الوضوء يعني مواضعه ثم يكبر ويحمد الله جل وعز ويثني عليه ويقرأ بما تيسر من القرآن
“Sesungguhnya shalat seseorang tidaklah sempurna kecuali bila dia wudlu pada anggota tubuh yang terkena air wudlu, kemudian mengucapkan takbir, memuji Allah jalla wa ‘azza dan mengagungkannya, serta membaca Al-Qur’an yang mudah baginya” [HR. Abu Dawud no. 857; shahih].
Kalimat { وَيَحْمَدُ اللهَ جَلَّ وَعَزَّ} “memuji Allah jalla wa ‘azza” dijelaskan oleh para ulama mempunyai makna membaca doa iftitah.
Macam-macam doa iftitah/istiftah antara lain :
o { اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اَللَّهُمَ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ }
Alloohumma baa’id bainii wa bainaa khothooyaaya kamaa baa’atta bainal-masyriqi wal-maghrib. Alloohumma naqqinii min khothooyaaya kamaa yunaqqots-tsaubul-abyadlu minad-danas. Alloohummagh-silnii min khothooyaaya bits-tsalji wal-maa-i wal-barad.
“Ya Allah, jauhkanlah diriku dari dosa-dosaku sebagaimana Engkau telah menjauhkan jarak antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala dosa-dosaku seperti baju putih yang dibersihkan dari noda. Ya Allah, cucilah diriku dari segala dosa-dosaku dengan salju, air, dan embun” [HR. Al-Bukhari no. 711 dan Muslim no. 598].
o {سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ}
Subhaanakalloohumma wabihamdika watabaarokas-muka wata’aalaa jadduka walaa ilaaha ghoiruka.
"Aku menyucikan-Mu dan memuji-Mu ya Allah. Sungguh berkah nama-Mu dan sungguh tinggi kekayaan-Mu. Dan tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau” [HR. Abu Dawud no. 776, At-Tirmidzi no. 243, dan yang lainnya; shahih].
* Dan yang lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam hadits-hadits shahih.
h) Membaca Isti’adzah
Para ulama sepakat bahwa hukum membaca isti’adzah di permulaan shalat (maksudnya : sebelum membaca Al-Fatihah) adalah wajib. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang kewajiban membacanya di tiap raka’at.
Allah ta’ala berfirman :
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيمِ
“Apabila kamu hendak membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk” [QS. An-Nahl : 98].
Isti’adzah dalam shalat dapat dilakukan dengan membaca salah satu lafadh sebagai berikut :
o { أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ }
A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim
“Aku berlindung kepada Allah dari gangguan syaithan yang terkutuk” [QS. An-Nahl : 98].
o { أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ }
A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi
“Aku berlindung kepada Allah dari gangguan syaithan yang terkutuk, yaitu dari bisikan, tiupan, dan hembusannya” [HR. Ahmad 6/156 no. 25266; hasan].
o { أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ }
A’uudzu billaahis-samii’il-‘aliimi minasy-syaithoonir-rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari gangguan syaithan yang terkutuk, yaitu dari bisikan, tiupan, dan hembusannya” [HR. Abu Dawud no. 775; shahih].
i) Membaca Surat Al-Fatihah
Wajib membaca Al-Fatihah (dan ini menjadi bagian dari rukun shalat). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب
“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah” [HR. Al-Bukhari no. 723 dan Muslim no. 394].
Jika ada orang yang tidak hafal surat Al-Fatihah, maka dia boleh membaca :
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلاَ إِلَهَ إِلا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلا بِاللهِ
Subhaanalloohi wal-hamdulillaahi walaa ilaaha illalloohu walloohu akbar. Walaa haula walaa quwwata illaa billaah
“Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Allah Maha Besar dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah” [HR. Abu Dawud no. 832; hasan].
Namun keringanan ini hanya berlaku bagi orang yang benar-benar tidak mampu menghafalnya setelah berusaha sekuat tenaga untuk menghafalnya.
Dalam shalat jama’ah jahriyyah (yang dikeraskan suaranya, seperti shalat shubuh, maghrib, dan ‘isya’), maka bacaan basmalah adalah sirr (tidak dikeraskan – tapi tetap dibaca) berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :
أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم وأبا بكر وعمر رضى الله تعالى عنهما كانوا يفتتحون الصلاة ب-{اَلحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ}
”Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan ‘Umar membuka (bacaan) shalatnya dengan membaca Alhamdulillaahi rabbil-‘aalamiin”. [HR. Al-Bukhari no. 710].
j) Mengucapkan Amiin Setelah Membaca Al-Fatihah
عَنْ وَائِل بْنِ حُجْر قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأَ { وَلاَ الضَالِينَ } قَالَ آمِيْنَ وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ
Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bila selesai membaca Waladl-dlooolliin; maka beliau berkata : Aamiin, dan beliau mengangkat suara dengannya” [HR. Abu Dawud no. 932; shahih].
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إذا أمن الإمام فأمنوا فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه
“Jika imam mengucapkan aamiin, maka ikutilah dengan mengucapkan aamiin juga. Sesungguhnya, barangsiapa yang ucapan amin-nya bersamaan dengan aamiin yang diucapkan oleh malaikat; maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” [HR. Al-Bukhari no. 747 dan Muslim no. 410].
Sebagian ulama mengatakan bahwa membaca aamiin setelah Al-Fatihah adalah wajib. Adapun tambahan rabbighfirlii sebelum membaca aamiin (sebagaimana dilakukan oleh sebagian kaum muslimin), maka itu adalah perbuatan yang sama sekali tidak dilandasi dalil (shahih). Sudah sepatutnya perbuatan tersebut untuk ditinggalkan.
k) Membaca Surat /Ayat yang Dihafal dari Al-Qur’an
§ Hukumnya adalah sunnah.
عَنْ أبِيْ هرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ يَقُوْلُ فيْ كُلِّ صَلاَةٍ يُقْرَأُ فَمَا أَسْمَعَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْمَعْنَاكُمْ وَمَا أَخْفَى عَنَّا أَخْفَيْنَا عَنْكُمْ وَإِنْ لَمْ تَزِدْ عَلَى أُمِّ الْقُرْآنِ أَجْزَأَتْ وَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ta’ala ‘anhu ia berkata : "Al-Qur’an dibaca pada setiap shalat. Bacaan yang dikeraskan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kami pun mengeraskannya ketika kami menjadi imam. Dan bacaan yang tidak dikeraskan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka kami pun tidak mengeraskannya. Jika kamu tidak menambah bacaan selain Ummul-Qur’an (Al-Fatihah), maka itu sudah cukup. Jika kamu menambah bacaan surat selain Ummul-Qur’an, maka itu lebih baik" [HR. Al-Bukhari no. 738].
عن جبير بن مطعم قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم قرأ في المغرب بالطور
Dari Jubair bin Muth’im ia berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca surat Ath-Thuur dalam shalat maghrib” [HR. Al-Bukhari no. 731 dan Muslim no. 463].
§ Sebagian ulama menjelaskan bahwa sebaiknya bacaan pada raka’at pertama lebih panjang daripada raka’at kedua.
§ Disunnahkan pula membaca surat lain setelah Al-Fatihah pada raka’at ketiga dan/atau keempat berdasarkan hadits :
عن أبي سعيد الخدري أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الظهر في الركعتين الأوليين في كل ركعة قدر ثلاثين آية وفي الأخريين قدر خمس عشرة آية
Dari Abi Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca surat (setelah Al-Fatihah) dalam dua raka’at pertama shalat Dhuhur untuk setiap raka’atnya sekitar tigapuluh ayat. Sedangkan dalam dua raka’at terakhir beliau membaca sekitar lima belas ayat” [HR. Muslim no. 452].
§ Bila shalat sendirian, maka ia boleh memperpanjang bacaan ayat sesukanya. Namun jika ia menjadi imam, maka hendaknya ia memperhatikan kondisi makmum. Jika makmum adalah dari kalangan yang kuat, semangat ke-Islamannya tinggi, dan biasa dibacakan ayat-ayat yang panjang; maka tidak apa-apa jika ia memperpanjang bacaan suratnya. Namun jika makmumnya adalah orang yang lemah, para wanita, anak-anak, dan orang-orang yang mempunyai keperluan; hendaknya ia memperpendek bacaan suratnya.
عن أنس بن مالك أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم قال إني لأدخل في الصلاة وأنا أريد إطالتها فأسمع بكاء الصبي فأتجوز في صلاتي مما أعلم من شدة وجد أمه من بكائه
Dari Anas bin Malik, bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda : “Sungguh aku akan memulai shalat (berjama’ah) dan aku ingin memperpanjangnya. Namun tiba-tiba aku mendengar suara tangisan seorang bayi. Maka aku memperingan (memperpendek) shalatku, karena aku mengetahui betapa cintanya (gelisahnya) ibunya terhadap tangis (anak)-nya itu” [HR. Al-Bukhari no. 677 dan Muslim no. 470].
l) Rukuk
* Setelah membaca ayat Al-Qur’an, hendaknya ia berhenti sejenak sebelum memulai gerakan untuk rukuk, sebagaimana riwayat Samurah bin Jundub radliyallaahu ‘anhu.[10] Lama berhenti ini sekitar satu nafas.
o Mengangkat kedua tangan ketika hendak rukuk.
عن وائل بن حجر ........فلما أراد أن يركع رفعهما مثل ذلك (رفع يديه)
Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Ketika beliau hendak rukuk, maka beliau melakukan hal yang serupa (yaitu mengangkat kedua tangannya)” [HR. Abu Dawud no. 726; shahih].
o Meletakkan kedua tangannya di lututnya dengan menguatkan pegangan dan merenggangkan jari-jemarinya. Posisi tangan agak dijauhkan dan sedikit dibengkokkan di kedua siku.
عن وائل بن حجر .......فلما أراد أن يركع رفعهما مثل ذلك ثم وضع يديه على ركبتيه
Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Ketika beliau hendak rukuk, maka beliau melakukan hal yang serupa (yaitu mengangkat kedua tangannya), kemudian meletakkan kedua tangannya pada lututnya” [idem].
فقال أبو حميد الساعدي....... وإذا ركع أمكن يديه من ركبتيه
Berkata Abu Humaid As-Sa’idy radliyallaahu ‘anhu : “….. Dan apabila beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam rukuk, maka beliau menguatkan kedua tangannya pada kedua lututnya” [HR. Al-Bukhari no. 794].
عن أبي حميد : .... ثم ركع فوضع يديه على ركبتيه كأنه قابض عليهما ووتر يديه فتجافى عن جنبيه
Abu Humaid radliyallaahu ‘anhu berkata : “….. Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam rukuk dan beliau meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya, seakan-akan beliau memegang erat kedua lututnya tersebut. Beliau membengkokkan dan menjauhkan kedua tangannya di samping badannya” [HR. Abu Dawud no. 734, At-Tirmidzi no. 260 dan Ibnu Khuzaimah no. 589; shahih].
عن وائل بن حجر أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا ركع فرج بين أصابعه
Dari Wail radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila rukuk, maka beliau merenggangkan jari-jemarinya” [HR. Al-Hakim no. 814; shahih].
* Ketika rukuk, posisi punggung dan kepala adalah lurus dan rata.
كان إذا ركع سوِى ظهره حتى لو صب عليه الماء لاستقر
“Apabila beliau rukuk, maka beliau meluruskan punggungnya. Bahkan seandainya disiramkan air di atas punggung tersebut, maka pasti tidak akan tumpah ke bawah” [Lihat Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 4732].
إن رسول اللَّه لم يصب رأسه ولم يقنعه
“Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak menundukkan kepalanya dan tidak pula mengangkat/ menegakkannya” [HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa; shahih].
* Bacaan dalam rukuk (bisa dipilih dan dibaca yang mudah) :
- { سُبْحَانَ رَبِّيَّ الْعَظِيْمِ}
Subhaana Rabbiyal-‘Adhiim (tiga kali)
“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung” [HR. Abu Dawud no. 871, Ibnu Majah no. 890, dan lain-lain; shahih].
- { سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَ اغْفِرْ لِيْ }
Subhaanakalloohumma wabihamdika alloohummagh-firlii
“Aku menyucikanmu ya Allah, Tuhan kami, dan aku memujimu. Ya Allah, ampunilah aku” [HR. Al-Bukhari no. 761 dan Muslim no. 484].
- { سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ }
Subbuuhun qudduusun robbul-malaaikati war-ruuh
“Engkau Maha Suci, Maha Qudus, Tuhan para malaikat dan ruh" [HR. Muslim no. 487 dan Abu Dawud no. 872].
Masing-masing doa/bacaan dalam rukuk di atas dapat diulang lebih dari tiga kali berdasar keumuman hadits :
عن البراء رضى الله تعالى عنه قال كان ركوع النبي صلى اللَّه عليه وسلم وسجوده وإذا رفع رأسه من الركوع وبين السجدتين قريبا من السواء
Dari Al-Barra’ radliyallaahu ‘anhu ia berkata : "Adalah rukuk dan sujudnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, serta bangkitnya beliau dari rukuk (i’tidal) dan duduknya diantara dua sujud; hampir sama lamanya" [HR. Al-Bukhari no. 768 dan Muslim no. 471].
* Wajib thuma’ninah dalam rukuk. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
....ثم اركع حتى تطمئن راكعا
"Kemudian rukuklah sampai engkau merasa thuma’ninah dalam rukuk itu" [HR. Al-Bukhari no. 724 dan Muslim no. 397].
m) Bangkit dan Berdiri dari Rukuk (I’tidal).
· Mengucapkan : { سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ} « Sami’alloohu liman hamidah » ketika mengangkat badan dari rukuk, dan { رَبَنَا لَكَ الْحَمْدُ} « Robbanaa lakal-hamdu » ketika telah berdiri. Hal itu berdasarkan hadits :
عن أبي هريرة يقول كان رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة يكبر حين يقوم ثم يكبر حين يركع ثم يقول : سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حين يرفع صلبه من الركعة ثم يقول وهو قائم رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu : "Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila berdiri shalat beliau mengucapkan takbir ketika dalam keadaan berdiri, kemudian beliau bertakbir ketika hendak rukuk. Beliau mengucapkan : Sami’alloohu liman hamidah (Mudah-mudahan Allah mendengarkan/memperhatikan orang-orang yang memuji-Nya) ketika beliau mengangkat/ menegakkan tulang pungungnya. Kemudian beliau mengucapkan setelah berdiri : Robbanaa lakal-hamdu (Tuhan kami, Engkaulah yang pantas mendapat pujian)" [HR. Al-Bukhari no. 756].
Ucapan « Robbanaa lakal-hamdu » bisa juga diucapkan dengan lafadh :
ü { رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ} « Robbanaa walakal-hamdu » "Ya Allah, dan Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian" [HR. Al-Bukhari no. 657].
ü { اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ} « Alloohumma robbanaa lakal-hamdu » "Ya Allah, Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian" [HR. Muslim no. 404].
ü { اَللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ } « Alloohumma robbanaa walakal-hamdu » "Ya Allah, dan Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian" [HR. Al-Bukhari no. 762].
Dalam shalat berjama’ah, maka ketika imam mengucapkan « Sami’alloohu liman hamidah », maka makmum mengikutinya dengan ucapan « Robbanaa lakal-hamdu » (atau yang lain sebagaimana di atas).
· Setelah ucapan « Robbanaa lakal-hamdu » (atau yang semisal di atas), maka disunnahkan untuk menambah dengan ucapan:
مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ
Mil-as samaawaati wa mil-al ardli wa mil-a maa syi’ta min syain ba’du
"Sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu" [HR. Muslim no. 476].
· Posisi tangan ketika berdiri i’tidal adalah bersedekap di dada menurut pendapat yang paling kuat. Hal itu berdasarkan keumuman hadits :
كان الناس يؤمرون أن يضع الرجل اليد اليمنى على ذراعه اليسرى في الصلاة
“Adalah para shahabat diperintahkan (oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam) bahwa seseorang agar meletakkan tangan kanannya di atas hasta kirinya dalam shalat” [HR. Al-Bukhari no. 707 dari Sahl bin Sa’d radliyallaahu ‘anhu].
· Wajib thuma’ninah ketika i’tidal dan disunnahkan memperpanjangnya, berdasarkan hadits :
عن ثابت قال كان أنس ينعت لنا صلاة النبي صلى اللَّه عليه وسلم فكان يصلي وإذا رفع رأسه من الركوع قام حتى نقول قد نسي
Dari Tsabit ia berkata : “Anas pernah memberikan contoh shalat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian Anas melakukan shalat. Setelah bangun dari rukuk, Anas berdiri lama hingga kami menyangka ia lupa untuk sujud” [HR. Bukhari no. 767 dan Muslim no. 472].
n) Sujud
v Bertakbir ketika turun untuk sujud, berdasarkan hadits :
.....ثم يكبر حين يرفع رأسه ثم يكبر حين يسجد
“….Kemudian beliau bertakbir ketika mengangkat kepalanya (i’tidal), dan kemudian beliau pun bertakbir ketika hendak sujud” [HR. Al-Bukhari no. 756].
v Terkadang beliau mengangkat tangan ketika hendak sujud, berdasarkan hadits :
عن مالك بن الحويرث أنه رأى النبي صلى اللَّه عليه وسلم رفع يديه في صلاته وإذا ركع وإذا رفع رأسه من الركوع وإذا سجد وإذا رفع رأسه من السجود......
Dari Malik bin Al-Huwairits : “Bahwasannya ia melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya dalam shalatnya ketika hendak rukuk, ketika mengangkat kepalanya dari rukuk (i'tidal), ketika hendak sujud, dan ketika mengangkat kepala dari sujud…..” [HR. An-Nasa’i no. 1085; shahih].
v Mendahulukan tangan daripada lutut ketika turun dari sujud. Hal ini berdasarkan hadits :
عن أبي هريرة قال رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم إذا سجد أحدكم فلا يبرك كما يبرك البعير وليضع يديه قبل ركبتيه
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Apabila salah seorang diantara kalian hendak sujud, maka janganlah ia menyungkur seperti menyungkurnya seekor unta. Hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya” [HR. Abu Dawud no. 840, Nasa’i no. 1091, dan yang lainnya; shahih] [11].
v Ketika sujud, beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sujud dengan tujuh anggota badan (dahi dan hidung – dianggap satu kesatuan –, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
عن بن عباس أَن رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم قال أمرت أن أسجد على سبعة أعظم الجبهة وأشار بيده على أنفه واليدين والرجلين وأطراف القدمين
Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : “Aku diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota tubuh, yaitu dahi (beliau berisyarat ke hidungnya), kedua (telapak) tangan, kedua kaki (maksudnya kedua lutut), dan kedua ujung kaki” [HR. Al-Bukhari no. 776 dan Muslim no. 490].
v Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sujud dengan bertelekan dengan kedua tangannya, mengangkat kedua siku, melebarkan bentangan tangannya, meletakkan kedua telapak tangan sejajar dengan kedua bahunya atau kedua telinganya, merapatkannya jari-jarinya serta mengarahkannya ke kiblat.
عن البراء قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سجدت فضع كفيك وارفع مرفقيك
Dari Al-Barra’ bin ‘Azib ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Apabila engkau sujud, maka letakkanlah dua telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikumu” [HR. Muslim no. 494]. [12]
عن عبد اللَّه بن مالك ابن بحينة أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا صلى فرج بين يديه حتى يبدو بياض إبطيه
Dari Abdillah bin Malik bin Buhainah radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila shalat, maka beliau membentangkan kedua tangannya hingga kelihatan putih ketiaknya” [HR. Al-Bukhari no. 383 dan Muslim no. 495].
عن وائل بن حجر قال : ....... ثم سجد فكانت يداه حذاء أذنيه
Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sujud, sedangkan kedua tangannya di hadapan (sejajar) kedua telinganya” [HR. Ahmad 4/317 no. 18878; shahih].
عن وائل أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا سجد ضم أصابعه
Dari Wail radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila sujud, maka beliau merapatkan jari-jarinya” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 642; hasan].
عن البراء بن عازب رضى اللَّه عنه قال : كان رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم إذا سجد فوضع يديه بالأرض استقبل بكفيه وأصابعه القبلة
Dari Al-Barra’ bin ‘Azib radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila sujud maka beliau meletakkan kedua tangannya di bumi/tanah, serta menghadapkan kedua tangan dan jari-jemarinya ke arah kiblat” [HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa ; shahih].
v Menempelkan/merapatkan dua kaki dan mengarahkan jari-jari kaki ke arah kiblat
قالت عائشة زوج النبي فقدت رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم وكان معي على فراشي فوجدته ساجدا راصا عقبيه مستقبلا بأطراف أصابعه القبلة
Telah berkata ‘Aisyah istri Nabi : “Aku kehilangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang sebelumnya bersamaku di tempat tidur. Maka aku menemukan beliau sedang bersujud menempelkan tumitnya, ujung-ujung jemarinya menghadap kiblat” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 654; shahih].
v Bacaan dalam sujud (bisa dipilih dan dibaca yang mudah) :
- {سُبْحَانَ رَبِّيَّ الْأَعْلَى}
Subhaana robbiyal-a’laa (tiga kali)
“Maha Suci Allah yang Maha Tinggi” [HR. Abu Dawud no. 871, Ibnu Majah no. 890, dan lain-lain; shahih].
- {سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَ اغْفِرْ لِيْ}
Subhaanakalloohumma wabihamdika alloohummagh-firlii
“Aku menyucikanmu ya Allah, Tuhan kami, dan aku memujimu. Ya Allah, ampunilah aku” [HR. Al-Bukhari no. 761 dan Muslim no. 484].
- { سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ }
Subbuuhun qudduusun robbul-malaaikati war-ruh
“Engkau Maha Suci, Maha Qudus, Tuhan para malaikat dan ruh" [HR. Muslim no. 487 dan Abu Dawud no. 872].
Masing-masing doa tersebut dapat dibaca berulang-ulang (lebuh dari tiga kali) dengan keumuman hadits yang mnejlaskan lamanya sujud beliau ketika shalat.
v Dianjurkan memperbanyak doa ketika sujud. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
وأما السجود فاجتهدوا في الدعاء فقمن أن يستجاب لكم
“…Adapun ketika bersujud, maka perbanyaklah doa, karena hal itu lebih pantas untuk dikabulkan” [HR. Muslim no. 479 dan Abu Dawud no. 876].
Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sujudnya sering berdoa dengan doa berikut :
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَلَّهُ وآخِرَهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ وَسِرَّهُ
Alloohumagh-firlii dzanbii kullahu diqqohu wa jillahu wa-awwalahu wa aakhirohu wa ‘alaaniyyatahu wa sirrohu
“Ya Allah, ampunilah semua dosaku, dosa kecil maupun besar, dosa pertama maupun terakhir, dosa yang dilakukan dengan terang-terangan mapun sembunyi-sembunyi" [HR. Muslim no. 483].
v Diperintahkan untuk thuma’ninah dalam sujud (dan juga rukuk) serta dilarang untuk sujud (dan rukuk) seperti patukan burung/ayam.
عن رفاعة أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم قال للرجل الذي صلى ..... ثم إذا أنت سجدت فاثبت وجهك ويديك حتى يطمئن كل عظم منك إلى موضعه
Dari Rifa’ah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada orang yang sedang melakukan shalat : “…..Kemudian jika kamu melakukan sujud, maka tancapkanlah wajah (dahi) dan kedua tanganmu sehingga setiap persendian thuma’ninah pada tempatnya” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 638; hasan].
عن أبي هريرة يقول أمرني خليلي صلى اللَّه عليه وسلم بثلاث ونهاني عن ثلاث أمرني بركعتي الضحى وصوم ثلاثة أيام من الشهر والوتر قبل النوم ونهاني عن ثلاث عن الالتفات في الصلاة كالتفات الثعلب وأقعاء كأقعاء القرد ونقر كنقر الديك
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Kekasihku (yaitu Rasulullah) shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kepadaku tiga hal dan melarangku tiga hal pula. Beliau memerintahkanku untuk mengerjakan dua raka’at shalat dluhaa, puasa tiga hari pada setiap bulannya, dan shalat witir sebelum tidur. Beliau melarangku atas tiga hal, yaitu berpaling dalam shalat seperti berpalingnya serigala, duduk seperti duduknya kera, dan mematuk (dalam shalat) seperti mematuknya ayam jantan” [HR. Ath-Thayalisi no. 2593; hasan].
o) Duduk di Antara Dua Sujud
§ Mengucapkan takbir ketika mengangkat kepala dari sujud.
ثم يكبر حين يسجد ثم يكبر حين يرفع رأسه
“….Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bertakbir ketika sujud, dan bertakbir pula ketika mengangkat kepala beliau (dari sujud)” [HR. Al-Bukhari no. 756].
§ Kadang beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya ketika mengangkat kepalanya dari sujud.
ثم سجد ووضع وجهه بين كفيه وإذا رفع رأسه من السجود أيضا رفع يديه حتى فرغ من صلاته
“Kemudian beliau sujud dan meletakkan wajahnya di antara dua telapak tangannya. Dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud, maka beliau juga mengangkat kedua tangannya, hingga beliau menyelesaikan shalatnya” [HR. Abu Dawud no. 723; shahih].
عن وائل بن حجر قال : ...... وكان يرفع يديه كلما كبر ورفع ووضع بين السجدتين
Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : ”..... Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya setiap beliau bertakbir. Beliau mengangkat dan meletakkan (kedua tangannya) di antara dua sujud” [HR. Ahmad no. 18881; hasan].
§ Beliau duduk iftirasy dengan cara duduk di atas telapak kaki kiri dan menegakkan kaki kanannya.
عن عبد الله بن عمر قال من سنة الصلاة أن تنصب القدم اليمنى واستقباله بِأصابعها القبلة والجلوس على اليسرى
Dari Abdullah bin ‘Umar ia berkata : “Termasuk sunnah shalat adalah menegakkan telapak kaki kanan, menghadapkan jari-jarinya ke kiblat, dan beliau duduk di atas telapak kaki kirinya” [HR. Nasa’i no. 1158; shahih].
Boleh juga duduk dengan cara iq’a’ (duduk dengan menegakkan dua telapak kaki/tumit).
عن ابن عباس رضي اللَّه تعالى عنه، قال:من السنة في الصلاة أن تضع أليتيك على عقبيك بين السجدتين
Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : “Termasuk di antara sunnah dalam shalat adalah kamu meletakkan kedua pantatmu di atas kedua tumitmu ketika duduk di antara dua sujud” [HR. Thabarani dalam Al-Kabiir no. 10852; shahih. Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Muslim no. 536].
§ Bacaan ketika duduk di antara dua sujud (bisa dipilih salah satu) :
ü { اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَعَافِنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ }
Alloohummagh-firlii warhamnii wa ‘aafinii wahdinii warzuqnii
“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, sehatkanlah aku, dan berilah aku rizki” [HR. Abu Dawud no. 850].
ü { رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَارْفَعْنِيْ }
Robighfirlii warhamnii wajburnii warzuqnii warfa’nii
“Tuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, berilah aku rizki, dan angkatlah derajatku” [HR. Ibnu Majah no. 898; shahih].
ü { اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ }
Alloohummagh-firlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii
“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, tunjukilah aku, dan berilah aku rizki” [HR. At-Tirmidzi no. 284; shahih].
Yang paling lengkap dengan penggabungan beberapa riwayat hadits adalah sebagai berikut :
{ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ، وَارْحَمْنِيْ، وَاجْبُرْنِيْ، وَارْفَعْنِيْ، وَاهْدِنِيْ، وَعَافِنِيْ، وَارْزُقْنِيْ}
Alloohummagh-firlii warhamnii wajburnii warfa’nii wahdinii wa’aafinii warzuqnii
“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, angkatlah derajatku, tunjukilah aku, sehatkanlah aku, dan berikanlah aku rizki”.
ü { رَبِّ اغْفِرْ لِيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ }
Robbighfirlii robbighfirlii
“Ya Tuhanku, ampunilah aku, ya Tuhanku ampunilah aku” [HR. Ibnu Majah no. 897; jayyid].
§ Diperintahkan untuk thuma’ninah ketika duduk.
ثُمَّ يَقُوْلُ اَللهُ أَكْبَرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ وَيَثْنِيْ رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَيَقْعُدُ عَلَيْهَا حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ إِلَى مَوْضِعِهِ
“….Kemudian beliau mengucapkan ‘Alloohu akbar’ dan mengangkat kepalanya (dari sujud). Beliau membengkokkan kaki kirinya serta duduk di atasnya hingga setiap tulang kembali pada tempatnya (yaitu duduk dengan tegak dan tenang)” [HR. Abu Dawud no. 730; shahih].
p) Berdiri untuk Melanjutkan Raka’at Kedua (dan Keempat).
o Duduk istirahat sebelum berdiri ke raka’at kedua (dan keempat).
عن مالك بن الحويرث الليثي أنه رأى النبي صلى اللَّه عليه وسلم يصلي فإذا كان في وتر من صلاته لم ينهض حتى يستوِي قاعدا
Dari Malik bin Al-Huwairits Al-Laitsi : “Bahwasannya ia melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat. Apabila beliau berada pada raka’at ganjil (yaitu rakaat pertama dan ketiga) dalam shalatnya, maka beliau tidak langsung bangkit berdiri (ke raka’at kedua dan keempat) hingga beliau duduk sejenak terlebih dahulu” [HR. Al-Bukhari no. 789].
o Berdiri dengan mendahulukan mengangkat kedua lutut sebelum tangan.
عن مالك بن الحويرث أنه كان يقول : ألا أحدثكم عن صلاة رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم فيصلي في غير وقت الصلاة ، فإذا رفع رأسه من السجدة الثانية في أول ركعة استوى قاعدا ، ثم قام ، فاعتمد على الارض
Dari Malik bin Al-Huwairits : Bahwasannya ia berkata : "Maukah kalian aku ceritakan bagaimana shalat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ? Maka beliau shalat di luar waktu shalat. Apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud kedua pada raka’at pertama, maka beliau duduk dengan tegak. Kemudian apabila beliau bangkit, maka beliau bertelekan pada tanah” [HR. Asy-Syafi’i dalam Al-Umm 1/227; shahih]. [13]
o Kadang beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menggenggamkan/mengepalkan kedua telapak tangannya untuk bertelekan ke tanah ketika berdiri dari sujud.
عن الازرق بن قيس : رأيت ابن عمر يعجن في الصلاة : يعتمد على يديه إذا قام . فقلت له ؟ فقال : رأيت رسول الله صلى اللَّه عليه يفعله
Dari Al-Azraq bin Qais : Aku melihat Ibnu ‘Umar melakukan ‘ajn (menggenggam tangan) ketika shalat, yaitu bertelekan dengan dua tangannya ketika berdiri. Maka aku bertanya kepadanya tentang hal tersebut. Maka ia menjawab : “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukannya” [HR. Abu Ishaq Al-Harbi dengan sanad shalih].
q) Wajib Membaca Al-Fatihah pada Setiap Raka’at
وكان من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال جاء رجل ورسول الله صلى الله عليه في المسجد فصلى قريبا منه ثم انصرف إليه فسلم عليه فقال له رسول الله صلى الله عليه .........ثم اقرأ بأم القرآن ثم اقرأ بما شئت .......ثم اصنع ذلك في كل ركعة
Dari salah seorang shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ia berkata : Datang seseorang dan pada waktu itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berada di masjid. Maka orang tersebut melakukan shalat di dekat beliau. Setelah usai melakukan shalat, maka ia berpaling kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam terhadap beliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya (tentang bagaimana tata cara shalat yang benar) : “….Kemudian bacalah Ummul-Qur’an (Al-Fatihah) dan setelah itu bacalah surat yang engkau kehendaki……kemudian lakukanlah hal tersebut pada setiap raka’at (dalam shalatmu)” [HR. Ibnu Hibban no. 1787 dengan sanad qawiy (kuat)].
r) Tasyahud Awal
v Duduk tasyahud awal adalah duduk iftirasy sebagaimana duduk di antara dua sujud
عن أبي حميد الساعدي : ...... فإذا جلس في الركعتين جلس على رجله اليسرى ونصب اليمنى
Dari Abu Humaid As-Sa’idi : “….Apabila beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam duduk pada raka’at kedua (yaitu duduk tasyahud awal), maka beliau duduk di atas telapak kaki kirinya dengan menegakkan telapak kaki kanannya” [HR. Al-Bukhari no. 794].
v Meletakkan kedua tangan di atas lutut (atau di atas paha), tangan kanan menggenggam (atau membuat lingkaran antara jari tengah dan ibu jari), dan berisyarat dengan jari telunjuk tangan kanan dengan mengerak-gerakannya.
عن بن عمر أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا جلس في الصلاة وضع يديه على ركبتيه ورفع إصبعه اليمنى التي تلي الإبهام فدعا بها ويده اليسرى على ركبته اليسرى باسطها عليها
Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila duduk dalam shalat, beliau meletakkan kedua (telapak) tangannya di atas kedua lututnya, dan beliau mengangkat jari (telunjuknya) yang kanan, maka beliaupun berdoa (bersamaan) dengan itu, dan (telapak) tangan kirinya terhampar di atas lututnya yang kiri” [HR. Muslim no. 580, At-Tirmidzi no. 294, Ibnu Majah no. 913, dan yang lainnya].
Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Umar :
كان إذا جلس في الصلاة وضع كفه اليمنى على فخذه اليمنى وقبض أصابعه كلها وأشار بإصبعه التي تلي الإبهام ووضع كفه اليسرى على فخذه اليسرى
"Bahwasannya apabila beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam duduk (tasyahud) dalam shalat, maka beliau meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya. Beliau menggenggam semua jari tangan kanannya dan berisyarat dengan jari telunjuk. Dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya" [HR. Muslim no. 580].
ان وائل بن حجر الحضرمي قال : ........فوضع كفه اليسرى على فخذه وركبته اليسرى وجعل حد مرفقه الأيمن على فخذه اليمنى ثم قبض بين أصابعه فحلق حلقة ثم رفع إصبعه فرأيته يحركها يدعو بها
Bahwasannya Wail bin Hujr Al-Hadlrami radliyallaahu ‘anhu berkata : “…..Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha dan lututnya yang kiri pula, dan meletakkan ujung siku tangan kanannya di atas pahanya yang kanan dan beliau pun membuat lingkaran (dengan jari tengah dan ibu jarinya) dan beliau mengangkat jari (telunjuknya). Maka aku pun (yaitu Wail) melihat beliau menggerak-gerakkannya (jari telunjuk) sambil berdoa dengannya” [HR. Ahmad no. 18890; shahih]. [14]
عن عبد الله بن الزبير قال : .....وأشار بإصبعه السبابة ووضع إبهامه على إصبعه الوسطى
Dari Abdullah bin Zubair radliyallaahu ‘anhuma : “…..Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jarinya di atas jari tengahnya” [HR. Muslim no. 579].
عن وائل بن حجر قال : ....... ثم أشار بسبابته ووضع الإبهام على الوسطى حلق بها
Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Kemudian beliau shallallaau ‘alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jari di atas jari tengah dengan membuat lingkaran” [HR. ‘Abdurrazzaq no. 2522; shahih].
Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan hal itu pada setiap tasyahud, baik tasyahud awal maupun akhir.
عن عبد الله بن الزبير قال كان رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم إذا جلس في الثنتين أو في الأربع يضع يديه على ركبتيه ثم أشار بأصبعه
Dari ‘Abdullah bin Zubair radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila duduk di raka’at kedua atau di raka’at keempat, beliau meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya, kemudian berisyarat dengan jari (telunjuknya)” [HR. Nasa’i dalam As-Shughraa no. 1161; shahih].
v Membaca tasyahud, di antaranya adalah (bisa dipilih salah satu):
- { اَلتَّحِيَّاتُ للهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ }
At-tahiyyaatu lillaah, wash-sholawaatu wath-thoyyibaat, as-salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatulloohi wabarokatuh, as-salaamu ‘alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh
“Segala ucapan selamat, kebahagiaan, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakahnya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya” [HR. Al-Bukhari no. 797 dan Muslim no. 402].
- { اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ َالطَّيِّبَاتُ للهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ . وفي رواية: عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ }
At-tahiyyaatul-mubaarokaatush-sholawaatuth-thoyyibaatu lillaah, as-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh, as-salaamu ‘alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadar-“Rosuulullah” [dalam riwayat lain :] ’abduhu warosuuluh
“Segala ucapan selamat, barakah, kebahagiaan, dan kebahagiaan adalah milik Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan barakahnya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah ‘Rasululah’ [dalam riwayat yang lain :] ‘hamba-Nya dan utusan-Nya’ “ [HR. Muslim no. 403, Abu ‘Awanah no. 1597, Nasa’i no. 1174].
- { اَلتَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ للهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ }
At-tahiyyaatuth-thoyyibaatush-sholawaatu lillaah, as-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarakaatuh, as-salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh
“Segala ucapan selamat, kebaikan, dan kebahagiaan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya” [HR. Muslim no. 404].
Perhatikan yang kalimat yang digaris bawah di atas. Sebagian ulama berpendapat bahwa kalimat as-salaamu ‘alaika itu diucapkan ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Adapun setelah beliau meninggal, maka disyari’atkan mengganti kalimat tersebut dengan : as-salaamu ‘alan-nabiy. Hal ini berdasarkan beberapa riwayat, diantaranya :
عن عطاء أن أصحاب النبي صلى اللَّه عليه وسلم كانوا يسلمون و النبي صلى اللَّه عليه وسلم حي اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ فلما مات قالوا اَلسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Dari ‘Atha’ : Bahwasannya para shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bila mereka memberikan salam (dan shalawat ketika shalat) dan waktu itu beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam masih hidup : As-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh. Namun ketika beliau telah wafat, maka mereka mengatakan : “As-salaamu ‘alan-nabiyyi warohmatulloohi wabarokatuh “ [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 3075; shahih].
Dan inilah yang lebih benar dalam pengamalan. Wallaahu a’lam.
v Membaca shalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, diantaranya adalah (bisa dipilih salah satu):
- { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ }
Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa ahli baitihi wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa shollaita ‘alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiid. Wabaarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa ahli baitihi wa ‘alaa azwaajihi wadzurriyyatihi kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiid
“Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” [HR. Ahmad no. 23221; shahih].
- { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ }
Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohiim, innaka hamiidum-majiid. Alloohumma baarik alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiid
“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahiim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahiim. Sesunggunya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR. Al-Bukhari no. 3190 dan Muslim no. 406].
- { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ }
Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shollaita ‘alaa aali Ibroohiim, wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiima fil-‘aalamiina innaka hamiidum-majiid
“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahiim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahiim di seluruh alam. Sesunggunya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR. Muslim no. 405].
- { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النبي الأمي وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ}
Alloohumma sholli ‘alaa Muhammad, an-nabiyyil-ummiyyi wa ‘alaa aali Muhammad
“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad – nabi yang ummi – dan kepada keluarga Muhammad” [HR. Abu Dawud no. 981; hasan].
Bolehkah menambah kata “sayyidinaa” sebelum lafadh/penyebutan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan Ibrahim ‘alaihis-salaam dalam shalawat ketika shalat ?
Pendapat yang rajih adalah tidak boleh. Hal itu dikarenakan apa yang diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah tanpa kata “sayyidinaa”. Begitu pula dengan apa yang diajarkan oleh para shahabat. Tidak satupun di antara mereka yang mengucapkan dan menambahkan “sayyidinaa”. Lafadh shalawat adalah lafadh yang sifatnya tauqifiyyah (yang berdasarkan wahyu) dimana tidak diperbolehkan penambahan kalimat-kalimat dari manusia. Apalagi hal itu diucapkan dalam shalat. Satu hal yang menunjukkan hal itu (yaitu satu lafadh doa haruslah persis sama dengan yang diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alahi wasallam) adalah ketika beliau menegur Al-Barra’ bin ‘Azib ketika Al-Barra’ keliru dalam mengucapkan doa/dzikir sebelum tidur. Al-Barra’ mengisahkan :
فرددتها علي النبي صلى الله عليه وسلم فلما بلغت : اَللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ قلت وَرَسُوْلِكَ قال لا وَنَبِّيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ
“Maka aku mengulanginya (doa yang diajarkan Nabi) di hadapan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ketika aku sampai pada bacaan : “Alloohumma aamantu bi-kitaabikal-ladzii anzalta”; maka aku melanjutkannya dengan : “warosuulika”. (Mendengar itu) maka beliau menegurku : “Bukan begitu !, akan tetapi (yang benar) : ‘wanabiyyikal-ladzii arsalta’” [HR. Al-Bukhari no. 244]. [15]
s) Bangkit kepada Raka’at Ketiga dan/atau Keempat.
عن أبي هريرة أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا أراد أن يسجد كبر ثم يسجد وإذا قام من القعدة كبر ثم قام
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu : ”Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam apabila hendak sujud, maka beliau bertakbir, kemudian sujud. Dan apabila beliau hendak berdiri dari tempat duduknya (dalam shalat), maka beliau bertakbir, kemudian berdiri” [HR. Abu Ya’la no. 6029 dengan sanad jayyid].
قال أبو حميد........ ثم إذا قام من الركعتين كبر ورفع يديه حتى يحاذي بهما منكبيه
Berkata Abu Humaid radliyallaahu ’anhu : ”....Kemudian apabila beliau shallallaahu ’alaihi wasallam berdiri dari raka’at kedua, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya” [HR. Abu Dawud no. 730; shahih].
t) Tasyahud Akhir.
· Secara umum, apa yang dilakukan pada tasyahud awal juga dilakukan pada tasyahud akhir. Hanya saja dalam tasyahud akhir, posisi duduk adalah tawaruk.
عن أبي حميد الساعدي : ..... وإذا جلس في الركعة الآخرة قدم رجله اليسرى ونصب الأخرى وقعد على مقعدته
Dari Abu Huamid As-Sa’idi radliyallaahu ’anhu : ”......Dan apabila beliau shallallaahu ’alaihi wasallam duduk pada raka’at terakhir, maka beliau menjorokkan (telapak) kaki kirinya, menegakkan (telapak) kaki kanan, dan duduk di atas pantatnya” [HR. Al-Bukhari no. 794].
· Membaca doa sebelum salam
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :
عن أبي هريرة يقول قال رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم إذا فرغ أحدكم من التشهد الآخر فليتعوذ بالله من أربع من عذاب جهنم ومن عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات ومن شر المسيح الدجال
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Apabila salah seorang diantara kamu telah menyelesaikan (bacaan) tasyahud akhir, maka mohonlah kepada Allah agar dilindungi dari empat perkara, (yaitu) : siksa neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah/cobaan hidup dan mati, dan kejahatan Al-Masih Ad-Dajjal” [HR. Muslim no. 588].
Adapun lafadh doanya adalah :
{ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ }
Alloohumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannama wa min ‘adzaabil-qobri wa min fitnatil-mahyaa wal-maaati wa min syarri fitnatil-masiihid-dajjaal
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati, serta dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal” [idem].
Selain doa tersebut juga bisa dibaca :
{ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْماً كَثِيْراً وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَة مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ }
Alloohumma innii dholamtu nafsii dhulman katsiiroo, walaa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta, faghfirlii maghfirotam-min ‘indika, warhamnii innaka antal-ghofuurur-rohiim
“Ya Allah, sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan berilah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [HR. Al-Bukhari no. 799,5967,6953; dan Muslim no. 2705].
{ اَللَّهُمَّ حَاسِبنِْيْ حِسَاباً يَسِيْراً}
Alloohumma haasibnii hisaabay-yasiiro
”Ya Allah, hisablah/perhitungkanlah (segala amalku) dengan hisab/perhitungan yang mudah” [HR. Ahmad no. 24261 dengan sanad jayyid].
{ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ اْلأَحَدُ الْصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوا أَحَد أَنْ تَغْفِرَ لِيْ ذُنُوْبِيْ إِنَِّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ }
Alloohumma innii as-aluka yaa alloohul-ahadush-shomad, alladzii lam yalid walam yuulad, walam yakul-lahuu kufuwan ahad. An-taghfiro lii dzunuubii innaka antal-ghofuurur-rohiim
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ya Allah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, yang tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya; agar Engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [HR. Abu Dawud no. 985; shahih].
u) Salam
Salam pertama termasuk bagian rukun shalat yang harus dikerjakan, sedangkan salam kedua merupakan sunnah.
عن عامر بن سعد عن أبيه قال كنت أرى رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم يسلم عن يمينه وعن يساره حتى أرى بياض خده
Dari ’Amir bin Sa’d dari ayahnya radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Aku melihat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam melakukan salam (di akhir shalat) dengan menoleh ke kanan dan ke kiri, sehingga aku melihat putih pipi beliau” [HR. Muslim no. 582].
عن عائشة أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان يسلم في الصلاة تسليمة واحدة تلقاء وجهه يميل إلى الشق الأيمن شيئا
Dari ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam pernah melakukan satu kali salam (yaitu ke kanan tanpa ke kiri) dalam shalatnya. Beliau memiringkan wajahnya sedikit ke sebelah kanan” [HR. At-Tirmidzi no. 296; shahih].
Ada beberapa macam cara salam dalam shalat, yaitu :
§ Mengucapkan « assalaamu ’alaikum warohmatullooh » ke kanan dan ke kiri
عن عبد الله أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان يسلم عن يمينه وعن شماله حتى يرى بياض خده اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
Dari Abdullah (bin Mas’ud) radliyallaahu ’anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri hingga terlihat putih pipinya (dengan ucapan :) ”Assalaamu’alaikum warohmatullooh, assalaamu ’alaikum warohmatullooh” [HR. Abu Dawud no. 996; shahih].
§ Mengucapkan salam pertama (ke kanan) « assalaamu ’alaikum warohmatulloohi wabarookatuh » dan salam kedua (ke kiri) «assalaamu ’alaikum warahmatullah »
عن وائل قال صليت مع النبي صلى اللَّه عليه وسلم فكان يسلم عن يمينه اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ وعن شماله اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
Dari Wail radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Aku pernah shalat bersama Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam, dimana beliau mengucapkan salam ke kanan : Assalaamu ’alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh; dan ke kiri : Assalaamu ’alaikum warohmatullooh” [HR. Abu Dawud no. 997; shahih].
§ Mengucapkan salam pertama (ke kanan) «assalaamu ’alaikum warahmatullah » dan salam ke dua (ke kiri) « assalaamu ’alaikum »
عن واسع بن حبان قال قلت لابن عمر أخبرني عن صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم كيف كانت قال فذكر التكبير قال يعني وذكر اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ عن يمينه اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ عن يساره
Dari Wasi’ bin Hibban ia berkata : Aku bertanya kepada Ibnu ’Umar : ”Khabarkanlah kepadaku bagaimana sifat shalat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ?”. Maka Ibnu ’Umar menjawab : ”Maka beliau mengucapkan takbir, yaitu (maksudnya) mengucapkan Assalaamu ’alaikum warohmatullooh ke kanan dan Assalaamu ’alaikum ke kiri” [HR. Nasa’i no. 1321; shahih].
§ Mengucapkan sekali salam ke kanan dengan «assalaamu ’alaikum warahmatullah » sebagaimana disebutkan dalam hadits ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa di atas.
Abul-Jauzaa’ – akhir Muharram 1430 – Ciomas Permai, Bogor.
Bahan bacaan : Shifatu Shalatin-Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (Syaikh Al-Albani – Maktabah Al-Ma’arif), Ashlu Shifati Shalatin-Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (Syaikh Al-Albani – Maktabah Al-Ma’arif), Fiqih Sunnah untuk Wanita (Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim – Al-I’tisham), Kitabul-’Ilm (Syaikh Ibnu ’Utsaimin – Daaruts-Tsuraya), Ad-Duruusul-Muhimmah (Syaikh Ibnu Baaz – islamhouse.com/Departemen Urusan Keislaman, Saudi Arabia), Menggerakkan Jari Telunjuk ketika Tasyahud (Ustadz Ibnu Saini – Maktabah Abdullah), Taisirul-’Allam Syarh ’Umdatil-Ahkaam (Syaikh Aali Bassam – Daar Ibnu Haitsam), Sunnah-Sunnah dalam Shalat yang Ditinggalkan (Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir – Bahrul-Ulum), Mausu’ah Hadits (Maktabah Ruuhul-Islaam), Fathul-Baariy (Ibnu Rajab – Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah), Syarh Matni Syuruuthish-Shalaah wa Arkaanihaa wa Waajibatihaa lisy-Syaikh Muhammad bin ’Abdil-Wahhab (Dr. Muhammad Aman Al-Jaami – Maktabah Ruuhul-Islaam), Hukmu Taarikish-Shalah (Syaikh Al-Albani – Daarul-Jalalain), dan yang lainnya.
[1] Contohnya adalah sebagaimana firman Allah ta’ala : {يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ صَلّواْ عَلَيْهِ وَسَلّمُواْ تَسْلِيماً} “Hai orang-orang yang beriman, berdoalah (bershalawatlah) kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” [QS. Al-Ahzab : 56].
[2] Hal ini didasarkan oleh sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللهُ تَعَالَى مَنْ أَحْسَنَ وُضُوْءَهُنَّ وَصَلاَهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ وَأَتَمَّ رُكُوْعَهُنَّ وَخُشُوْعَهُنَّ كَانَ لَهُ عَلَى اللهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفرَ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ
“Allah ta’ala telah mewajibkan shalat lima waktu (atas para hamba-Nya). Barangsiapa yang membaguskan wudlunya, shalat tepat pada waktunya, menyempurnakan rukuknya, dan khusyu’; maka dia memiliki perjanjian di sisi Allah (untuk itu) untuk mendapatkan ampunan. Dan barangsiapa yang tidak berbuat demikian, maka ia tidak mempunyai perjanjian apapun dengan Allah. Jika Allah kehendaki, maka dia akan diampuni. Dan jika Allah kehendaki, maka dia akan disiksa” [HR. Abu Dawud no. 425; shahih].
[3] Ada perbedaan ulama mengenai larangan shalat setelah ‘Asar. Sebagian ulama mengatakan bahwa diperbolehkan mengerjakan shalat sunnah setelah ‘Asar dengan syarat matahari masih tinggi (panas). Adapun jumhur ulama tetap melarangnya.
[4] Lihat penjelasan Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qaththani dalam bukunya Shalatut-Tathawwu’ : Mafhumun wa Fadlaailun wa Anwa’un wa Adabun fii Dlauil-Kitab was-Sunnah.
[5] Abu Ishaq Asy-Syairazy rahimahullah, seorang pembesar madzhab Syafi’iyyah berkata : “Kemudian ia berniat. Berniat termasuk fardhu-fardhu shalat karena berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : ‘Sesugguhnya amalan itu tergantung niatnya dan bagi setiap orang apa yang ia niatkan’.; dan karena ia juga merupakan ibadah murni (mahdlah). Maka tidak sah tanpa disertai niat seperti puasa. Sedang tempatnya niat itu adalah di hati. Jika ia berniat dengan hatinya, tanpa lisannya, niscaya cukup. Di antara sahabat kami ada yang berkata : ‘Dia berniat dengan hatinya, dan melafazhkan (niat) dengan lisan’. Pendapat ini tak ada nilainya karena niat itu adalah menginginkan sesuatu dengan hati”. [Lihat Al-Muhadzdzab (3/168 bersama Al-Majmu’) karya Asy-Syairazy rahimahullah]
An-Nawawiy rahimahullah berkata ketika menukil pendapat orang-orang bermadzhab Syafi’iyyah yang membantah ucapan Abu Abdillah Az-Zubairy di atas : “Para sahabat kami -yakni orang-orang madzhab Syafi’iyyah- berkata : ‘Orang yang berpendapat demikian telah keliru. Bukanlah maksud Asy-Syafi’i dengan “mengucapkan” dalam shalat adalah ini (bukan melafazhkan niat). Bahkan maksudnya adalah (mengucapkan ) takbir’”. [Lihat Al-Majmu (3/168)]
[6] Adapun sutrah makmum adalah sutrah yang dipakai oleh imam.
[7] Yaitu sebagai isyarat dimulainya shalat dimana pada waktu itu diharamkan mengerjakan sesuatu apapun kecuali dari gerakan shalat.
[8] Yaitu sebagai isyarat telah selesainya shalat yang sekaligus diperbolehkannya mengerjakan suatu pekerjaan yang lain.
[9] Hadits yang menyatakan tentang peletakan kedua tangan di perut adalah dla’if (lemah).
[10] Terdapat pembicaraan yang panjang dalam hadits Samurah ini yang mempunyai inti bahwa hadits ini adalah lemah. Namun maknanya adalah benar bahwa terdapat dua tempat untuk berhenti sejenak dalam shalat, yaitu setelah takbiratul-ihram dan setelah membaca qira’at sebelum rukuk. Ini adalah madzhab jumhur ulama. Untuk pembahasan takhrij hadits, silakan baca Irwaaul-Ghalil juz 2 hal. 284-288 hadits no. 505. Dan penjelasan hukum silakan baca Ashlu Shifatish-Shalatin-Nabi hal. 601. Wallaahu a’lam.
[11] Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Al-Auza’i, Imam Ahmad, dan jumhur ahli hadits. Adapun hadits-hadits yang menyatakan sunnah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan, maka hadits-hadits ini adalah dla’if [lihat kitab Irwaa’ul-Ghaliil no. 357].
[12] Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang menghamparkan kedua siku ketika sujud (yaitu dengan menempelkan kedua siku di lantai) dengan sabdanya : {اعْتَدِلُوْا فِي السُّجُوْدِ وَلاَ يَبْسُطُ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبُ} “Luruslah (punggungmu) ketika sujud, dan janganlah salah seorang diantara kamu menghamparkan kedua hasta/sikunya seperti anjing menghamparkannya” [HR. Al-Bukhari no. 768].
[13] Adapun hadits Wail bin Hujr, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhum yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mendahulukan mengangkat tangan daripada lutut ketika berdiri dari sujud adalah hadits dla’if (lemah). Lihat selengkapnya pembahasan takhrij hadits dalam kitab Irwaaul-Ghaliil .
[14] Adapun hadits : { أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يشير بأصبعه إذا دعا ولا يحركها } “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan tidak menggerak-gerakkannya” [HR. Abu Dawud no. 989, An-Nasa’i no. 1270, Abu ‘Awanah no. 2019, dan yang lainnya]; adalah hadits syadz lagi dla’if, sehingga tidak dipakai.
[15] Doa selengkapnya adalah : {اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ رَغْبَة وَرَهْبَة إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ اَللَّهمَّ آمَنْتُ بِكتَابِكَ الَّذيْ أَنْزَلْت وَنَبِّيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ}
“Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu dengan penuh harap dan rasa takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat mencari keselamatan dari murka dan siksa-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus”.
Perhatikanlah ! Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak memberikan toleransi kepada Al-Barra’ bin ‘Azib ketika ia salah mengucapkan doa, dengan mengganti lafadh “nabi” menjadi “rasul”. Padahal, secara substansi kedua kata ini dalam keseluruhan makna doa tidaklah berbeda. Hanya saja, beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam tetap menginginkan keselarasan doa yang diucapkan Al-Barra’ dengan yang beliau ajarkan kepadanya.
Lantas, bagaimana jika kita menambah lafadh “sayyidinaa” kepada Nabi pada shalawat dalam shalat ? Penolakan ini bukanlah berarti penolakan kedudukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai sayyid bagi manusia. Namun, semata-mata hanyalah meneladani lafadh doa yang beliau ajarkan sesuai dengan hadits-hadits shahih yang sampai pada kita.
Senin, 20 September 2010
Kamis, 16 September 2010
Dialog Bersama "PECINTA KUBUR"
Abu Al-Jauzaa' :, 09 Oktober 2009 .fullpost{display:inline;}
Prolog : Tulisan ini sebenarnya adalah dialog saya (dalam bentuk tulisan) bersama seseorang beberapa tahun lalu dalam pembahasan seputar kuburan dan masjid. Terpikir kemudian untuk me-repro di blog ini dialog tersebut dengan beberapa perbaikan dan koreksi seperlunya. Semoga ada manfaatnya.
Salah satu keyakinan Ahlusunah yang mempunyai dasar dalil al-Quran, as-Sunnah dan prilaku Salaf Saleh yang dituduhkan sebagai prilaku syirik oleh kelompok Wahaby (Salafy) adalah tentang diperbolehkannya membangun masjid di sisi kuburan para rasul, nabi dan waliyullah. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan (fatwa) oleh Ibnu Taimiyah –yang kemudian diikuti (secara taklid buta) oleh segenap kelompok Wahaby- sebagaimana yang tercantum dalam kitab al-Qaidah al-Jalilah halaman 22. Ibn Taimiyah mengatakan: “Nabi melarang menjadikan kuburannya sebagai masjid, yaitu tidak memperbolehkan seseorang pada waktu-waktu shalat untuk mendatangi, shalat dan berdoa di sisi kuburan-nya, walaupun dengan maksud beribadah untuk Allah sekalipun. Hal itu dikarenakan tempat-tempat semacam itu menjadi sarana untuk perbuatan syirik. Yaitu boleh jadi nanti mengakibatkan seseorang melakukan doa dan shalat untuk ahli kubur dengan mengagungkan dan menghormatinya. Atas dasar itu maka membangun masjid di sisi kuburan para waliyullah merupakan perbuatan haram. Oleh karenanya walaupun pembangunan masjid itu sendiri merupakan sesuatu yang ditekankan namun dikarenakan perbuatan seperti tadi dapat menjerumuskan seseorang ke dalam prilaku syirik maka hukumnya secara mutlak haram”.
Saya heran kepada Saudara yang tidak segan-segan mengklaim bahwa keyakinan tentang masyru’-nya membangun masjid di kubur merupakan keyakinan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Larangan membangun masjid di sisi kuburan ini tidaklah hanya dikatakan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah - yang kemudian diikuti oleh kaum “Wahabi”. Banyak ulama semisal dengan beliau memperingatkan hal yang sama.
O iya,…. sebelumnya, ada analisis yang keliru antara apa yang diomongkan dengan kenyataan yang ada di lapangan. Saudara dengan begitu percaya dirinya mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh para pengagum kubur itu adalah membangun masjid di sisi kuburan saja. Tapi pada kenyataannya lebih dari sekedar itu !! Bahkan benar-benar membangun masjid di atas kubur ! Tidak usah kita pungkiri dan kita tutup-tutupi kenyataan ini. Beberapa masjid di dalam dan luar Indonesia pun membuktikannya. Mudah kita cari informasinya. Di internet pun banyak. Ada pula diantaranya yang meletakkan kuburan di kiblat masjid (persis di depan mihrab imam). Saya kira saya tidak perlu menyebutkan satu persatu contohnya di sini.
Apa dalil dari ungkapan Ibnu Taimiyah di atas? Memang Ibnu Taimiyah menyandarkan fatwanya tadi dengan hadis-hadis yang diriwayatkan dalam beberapa kitab Ahlusunah. Namun sayangnya ia tidak memiliki analisa dan penerapan yang tepat dan bagus dalam memahami hadis-hadis tadi sehingga menyebabkannya terjerumus ke dalam kejumudan (kaku) dalam menerapkannya. Selain pemahaman Ibnu Taimiyah terhadap hadis-hadis tadi terlampau kaku, juga tidak sesuai dengan ayat al-Quran, as-Sunnah dan prilaku Salaf Saleh.
Ibnu Taimiyah menyandarkan fatwanya tadi dengan hadis-hadis seperti:
Pertama: Rasulullah bersabda: “Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani dikarenakan mereka telah menjadikan kubur para nabinya sebagai tempat ibadah”. (lihat kitab Shahih Bukhari jilid 2 halaman 111 dalam kitab al-Jana’iz (jenazah-jenazah), hadis serupa juga dapat ditemukan dalam kitab Sunan an-Nas’i jilid 2 halaman 871 kitab al-Jana’iz)
Kedua: Sewaktu Ummu Habibah dan Ummu Salamah menemui Rasulullah dan berbincang-bincang tentang tempat ibadah (baca: gereja) yang pernah dilihatnya di Habasyah, lantas Rasul bersabda: “Mereka adalah kaum yang setiap ada orang saleh dari mereka yang meninggal niscaya mereka akan membangun tempat ibadah di atasnya dan mereka pun menghadapkan mukanya ke situ. Mereka di akherat kelak tergolong makhluk yang buruk di sisi Allah”. (lihat kitab Shahih Muslim jilid 2 halaman 66 kitab al-Masajid)
Ketiga: Dari Jundab bin Abdullah al-Bajli yang mengatakan; aku mendengar lima hari sebelum Rasul meninggal, beliau bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya sebelum kalian terdapat kaum yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah. Namun janganlah kalian melakukan semacam itu. Aku ingatkan hal tersebut pada kalian”. (lihat kitab Shahih Muslim jilid 1 halaman 378)
Keempat: Diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau pernah bermunajat kepada Allah swt dengan mengatakan: “Ya Allah, jangan Kau jadikan kuburku sebagai tempat penyembahan berhala. Allah melaknat kaum yang menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat ibadah”. (lihat kitab Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 2 halaman 246)
Ini adalah riwayat-riwayat yang dijadikan dalil para pengikut Wahaby untuk mengatakan syirik terhadap kaum Ahlusunah –termasuk di Indonesia- yang ingin membangun masjid di sisi kubur para kekasih Allah (waliyullah). Di Indonesia para Salafy gadungan tadi mengejek dan menghinakan kuburan para sunan (dari Wali Songo) yang rata-rata di sisi kubur mereka terdapat bangunan yang disebut masjid. Lantas apakah benar bahwa hadis-hadis itu mengandung larangan pelarangan pembuatan masjid di sisi kubur para waliyullah secara mutlak? Di sini kita akan kita telaah dan kritisi cara berdalil kaum Wahaby dalam menggunakan hadis-hadis sahih tadi sebagai sandarannya.
Perlu Saudara diketahui bahwa bukan hanya itu saja yang dijadikan dalil tentang pengharaman membangun masjid di atas atau di sisi kubur. Akan saya sebut secara lebih lengkap :
1. Hadits ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa :
عن عائشة رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في مرضه الذي لم يقم منه : "لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد " . قالت : فلو لا ذاك أبرز قبره غير أنه خُشي أن يتخذ مسجداً
Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sakit dan dalam keadaan berbaring : “Allah telah melaknat Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid”. Aku (‘Aisyah) berkata : “Kalau bukan karena takut (laknat) itu, niscaya kuburan beliau ditempatkan di tempat terbuka. Hanya saja beliau takut kuburannya itu akan dijadikan sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1330, Muslim no. 529, Ahmad 6/80 & 121 & 255, Ibnu Abi Syaibah 2/376, Abu ‘Awaanah 1/399, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 508, Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 13/52 & 183, Ath-Thabaraniy dalam Al-Ausath no. 7730, dan yang lainnya].
2. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :
عن أبي هريرة : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (قاتل الله اليهود، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد)
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Semoga Allah memerangi (mengutuk) orang-orang Yahudi dimana mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 437, Muslim no. 530, Abu Dawud no. 3227, An-Nasa’iy 4/95, Abu Ya’laa no. 5844, Ahmad 2/284, dan yang lainnya].
3. Hadits ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhum :
عن عائشة وعبد الله بن عباس قالا: لما نزل رسول الله صلى الله عليه وسلم، طفق يطرح خميصة له على وجهه، فإذا اغتم بها كشفها عن وجهه، فقال وهو كذلك: (لعنة الله على اليهود والنصارى، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد). يحذر ما صنعوا.
Dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas, mereka berdua berkata : Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kesehatannya menurun pada saat-saat akhir hidupnya, beliau menutupkan kain khamishah-nya (selimut wolnya) pada wajahnya, namun beliau melepas kain tersebut dari wajahnya ketika bapasnya semakin terganggu seraya bersabda : “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashrani dimana mereka telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid”. Aisyah berkata : “Beliau memperingatkan agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 435 & 436, Muslim no. 531, Ibnu Hibban no. 6619, Abu ‘Awaanah 1/399, An-Nasa’i 1/115; dan yang lainnya].
Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentang hadits di atas :
وكأنه صلى الله عليه وسلم علم أنه مرتحل من ذلك المرض ، فخاف أن يعظم قبره كما فعل من مضى ، فلعن اليهود والنصارى إشارة إلى ذم من يفعل فعلهم
“Seakan-akan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui bahwa beliau akan wafat melalui sakit yang beliau derita, sehingga beliau khawatir kubur beliau akan diagung-agungkan seperti yang telah dilakukan orang-orang terdahulu. Oleh karena itu, beliau melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai isyarat yang menunjukkan celaan bagi orang yang berbuat seperti perbuatan mereka” [Fathul-Baariy, 1/532].
4. Hadits ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa :
عن عائشة رضي الله عنها قالت : لما كان مرض النبي صلى الله عليه وسلم تذاكر بعض نسائه كنيسة بأرض الحبشة يقال لها : مارية ـ وقد كانت أم سلمة وأم حبيبة قد أتتا أرض الحبشة ـ فذكرن من حسنها وتصاويرها قالت: [ فرفع النبي صلى الله عليه وسلم رأسه ] فقال :" أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح بنوا على قبره مسجداً ، ثم صوروا تلك الصور ، أولئك شرار الخلق عند الله [ يوم القيامة ]
Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam jatuh sakit, maka beberapa orang istri beliau sempat membicarakan tentang sebuah gereja yang terdapat di negeri Habasyah (Ethiopia) yang diberi nama : Gereja Maria – dimana Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah mendatangi negeri Habasyah -, kemudian mereka (sebagian istri Nabi) membicarakan keindahan gereja dan gambar-gambar yang terdapat di dalamnya. ‘Aisyah bercerita : “(Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya) seraya bersabda : ‘Mereka itu adalah orang-orang yang apabila orang shalih mereka meninggal dunia, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya tersebut, lalu menggambar dengan gambar-gambar tersebut. Mereka itu adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah pada hari kiamat” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 434, Muslim 528, Abu ‘Awaanah 1/400-401, Ibnu Hibban no. 3181, An-Nasa’i 2/41, Al-Baihaqiy 4/80; dan yang lainnya].
5. Hadits Jundub bin Abdillah Al-Bajaly radliyallaahu ‘anhu :
عن جندب بن عبد الله البجلي أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم قبل أن يموت بخمس وهو يقول : " قد كان لي فيكم إخوة وأصدقاء ، وإني أبراء إلى الله أن يكون لي فيكم خليل ، وإن الله عز وجل قد اتخذني خليلاً كما تخذ إبراهيم خليلاً ، ولو كنت متخذا من أمتي خليلاً ، لاتخذت أبا بكر خليلاً ، ألا [ وإن ] من كان قبلكم [ كانوا ] يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد ، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد ، فإني أنهاكم عن ذلك "
Dari Jundub bin Abdillah Al-Bajaly radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya dia pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda lima hari sebelum hari wafatnya : “Aku memiliki beberapa saudara dan teman di antara kalian. Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Allah dari memiliki kekasih (khalil) di antara kalian. Dan sesungguhnya Allah telah menjadikan diriku sebagai kekasih sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Seandainya aku boleh mengambil kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Dan ketahuilah, (sesungguhnya) orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para nabi mereka dan orang-orang shalih diantara mereka sebagai masjid. Janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal itu” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 532 dan Abu ‘Awanah 1/401].
6. Hadits Al-Harits An-Najrani radliyallaahu ‘anhu :
عن الحارث النجراني قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم قبل أن يموت بخمس وهو يقول : "ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد ، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد إني أنهاكم عن ذلك "
Dari Al-Harits An-Najrani dia bercerita : Aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wasiat lima hari sebelum wafat : “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para Nabi mereka dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Maka, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesunguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/374-375; shahih sesuai persyaratan Muslim].
7. Hadits Usamah bin Zaid radliyallaahu ‘anhuma :
عن أسامة بن زيد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال في مرضه الذي مات فيه : " أدخلوا علي أصحابي". فدخلوا عليه وهو متقنع ببردة معافريّ ، [ فكشف القناع ] فقال : " لعن الله اليهود [ والنصارى ] اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد"
Dari Usamah bin Zaid radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menderita sakit yang menyebabkan wafatnya beliau : “Masuklah wahai para shahabatku”. Maka mereka masuk sedangkan beliau dalam keadaan tertutup selimut mu’afir. (Lalu beliau membukanya) dan bersabda : “Allah telah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi no. 669; Ahmad 5/204; Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir no. 393 & 411, Ibnu Sa’d 2/241, Al-Haakim 4/194, dan yang lainnya; hasan dengan syawaahid-nya].
8. Hadits Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah radliyallaahu ‘anhu :
عن أبي عبيدة قال : آخر ما تكلم به النبي صلى الله عليه وسلم اخرجوا يهود أهل الحجاز وأهل نجران من جزيرة العرب واعلموا ان شرار الناس الذين اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد
Dari Abu ‘Ubaidah ia berkata : “Kalimat terakhir yang diucapkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah : ‘Usirlah kaum Yahudi Hijaz dan Najran dari Jazirah ‘Arab. Ketahuilah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/195 no. 1691 & 1694; Al-Bukhari dalam At-Taariikh Al-Kabiir 4/57, Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Aahaadul-Matsaaniy no. 235-236, Abu Ya’laa Ath-Thahawi dalam Musykilul-Atsar 4/13; Abu Ya’la no. 872, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar 4/12, dan yang lainnya; shahih].
9. Hadits Zaid bin Tsabit radliyallaahu ‘anhu :
عن زيد بن ثابت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : لعن الله اليهود اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد
Dari Zaid bin Tsabit radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Allah telah melaknat orang-orang Yahudi yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Ahmad 5/184 & 186 dan ‘Abd bin Humaid no. 244; shahih dengan syawahid-nya].
10. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :
عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم : اللهم لا تجعل قبرى وثنا لعن الله قوما اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (beliau bersabda) : “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala. Allah melaknat kaum yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/246, Al-Humaidiy no. 1020, Ibnu Sa’d 2/241-242, Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 5/43-44, Al-Bukhari dalam At-Taariikh Al-Kabiir 3/47, dan yang lainnya; shahih].
Al-Haafidh Ibnu Rajab Al-Hanbaly menukil perkataan Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahumallah dalam kitab Al-Kawaakibud-Daraari :
الوثن الصنم ، يقول : لا تجعل قبري صنماً يصلى ويسجد نحوه ويعبد ، فقد اشتد غضب الله على من فعل ذلك ، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يحذر أصحابه وسائر أمته من سوء صنيع الأمم قبلهم ، الذين صلوا إلى قبور أنبيائهم ، واتخذوها قبلة ومسجداً ، كما صنعت الوثنية بالأوثان التي كانوا يسجدون إليها ويعظمونها ، وذلك الشرك الأكبر ، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يخبرهم بما في ذلك من سخط الله وغضبه ، وأنه مما لا يرضاه ، خشية عليهم من امتثال طرقهم ، وكان صلى الله عليه وسلم يحب مخالفة أهل الكتاب وسائر الكفار ، وكان يخاف على أمته اتباعهم ، ألا ترى إلى قوله صلى الله عليه وسلم على جهة التعبير والتوبيخ " لتتبعن سنن الذين كانوا من قبلكم حذوا النعل بالنعل ، حتى إن أحدهم لو دخل جحر ضب لدخلتموه ؟".
“Al-Watsan itu maknanya patung. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai patung/berhala yang menjadi kiblat shalat, tempat bersujud, juga tempat beribadah”. Dan Allah sangat murka kepada orang yang melakukan hal tersebut. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memperingatkan para shahabat dan seluruh umatnya tentang perbuatan buruk umat-umat terdahulu, karena mereka shalat menghadap kuburan para Nabi mereka serta menjadikannya sebagai kiblat dan masjid. Sebagaimana penyembah berhala yang menjadikan berhala sebagai objek sesembahan yang diagungkan. Perbuatan tersebut merupakan syirik akbar. Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa perbuatan tersebut mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah ta’ala dan Dia tidak akan pernah meridlainya. Hal tersebut disampaikan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena beliau khawatir umatnya akan meniru perbuatan mereka. Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam senantiasa memperingatkan umatnya agar tidak menyerupai Ahlul-Kitaab dan orang-orang kafir. Dan beliau juga khawatir bila umatnya akan mengikuti jejak mereka. Tidakkah engkau mengetahui sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengungkaokan celaan dan kemarahan : “Sungguh kalian akan mengikuti jejak-jejak orang sebelum kalian sama persis, setapak demi setapak; sehingga salah seorang dari mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan memasukinya pula” [Fathul-Baariy oleh Ibnu Rajab Al-Hanbaly 2/90/65 – melalui perantaraan Tahdziirus-Saajid].
11. Hadits Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu :
عن عبد الله قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ان من شرار الناس من تدركه الساعة وهم أحياء ومن يتخذ القبور مساجد
Dari Abdullah (bin Mas’ud) ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya sejelek-jelek manusia adalah orang yang menjumpai hari kiamat saat masih hidup, dan juga orang yang menjadikan kubur sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/405 & 435, Ath-Thabaraniy no. 10413, Ibnu Abi Syaibah 3/345, Al-Bazzaar no. 3420, Abu Ya’laa no. 5316, Ibnu Khuzaimah no. 789, Ibnu Hibbaan no. 6847, dan yang lainnya; hasan].
12. Hadits ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu :
عن علي بن أبي طالب قال : " لقيني العباس فقال : يا علي انطلق بنا إلى النبي صلى الله عليه وسلم فإن كان لنا من لأمر شئ وإلا أوصى بنا الناس ، فدخلنا عليه ، وهو مغمى عليه ، فرفع رأسه فقال : " لعن الله اليهود اتخذوا قبور لأنبياء مساجد " . زاد في رواية : " ثم قالها الثالثة " . فلما رأينا ما به خرجنا ولم نسأله عن شئ
Dari Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Al-‘Abbas radliyallaahu ‘anhu pernah menemuiku seraya berkata : ‘Wahai ‘Ali, mari ikut kami mengunjungi para Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mungkin ada sesuatu hal yang perlu kita tanyakan. Kalau tidak, beliau akan memberikan wasiat kepada orang-orang melalui kita’. Kemudian kami masuk menemui beliau, sedangkan beliau dalam keadaan berbaring karena sakit. Lalu beliau mengangkat kepalanya : “Allah telah melaknat orang-orang Yahudi yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid “. Dalam sebuah riwayat ditambahkan : “Kemudian beliau mengatakan yang ketiga kalinya. Dan ketika kami melihat apa yang terjadi pada beliau, maka kami pun keluar dan tidak menanyakan sesuatu pun kepada beliau” [HR. Ibnu Sa’ad 4/28 dan Ibnu ‘Asaakir 12/172/2; hasan].
13. Hadits Ummahatul-Mukminin radliyallaahu ‘anhunna :
عن أمهات المؤمنين أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا : كيف نبني قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ أنجعله مسجداً ؟ فقال أبو بكر الصديق : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد
Dari Ummahatul-Mukminiin : Bahwasannya para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya : “Bagaimana kami harus membangun kubur Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, apakah kami boleh menjadikannya sebagai masjid ?”. Maka Abu Bakar menjawab : “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” [HR. Ibnu Zanjawaih dalam kitab Fadlaailush-Shiddiq sebagaimana disebutkan dalam Al-Jamii’ul-Kabiir 3/147/1].
Itu diantara hadits-hadits yang terkait dengan larangan keras membangun masjid di atas kuburan atau menjadikan kuburan sebagai masjid. Masih ada hadits lain yang akan dituliskan di bawah. Jika kita perhatikan dengan seksama, sangat jelas menunjukkan hadits-hadits tersebut di atas berisi larangan sekaligus celaan siapa saja yang membangun masjid di sisi/atas kubur.
Ada beberapa poin yang harus diperhatikan dalam mengkritisi dalil kaum Wahaby yang menjadikan hadis-hadis tadi sebagai pelarangan pembangunan kubur di sisi kubur waliyullah secara mutlak:
(A) Untuk memahami hadis-hadis tadi maka kita harus memahami terlebih dahulu tujuan kaum Yahudi dan Nasrani dari pembikinan tempat ibadah di sisi para manusia saleh mereka tadi. Dikarenakan melihat “tujuan buruk” kaum Yahudi dan Nasrani dalam membangun tempat ibadah di sisi kuburan itulah maka keluarlah larangan Rasul. Dari hadis-hadis tadi dapat diambil suatu pelajaran bahwa kaum Yahudi dan Nasrani telah menjadikan kuburan para nabi dan manusia saleh dari mereka bukan hanya sebagai tempat ibadah melainkan sekaligus sebagai kiblat (arah ibadah). Ke arah kuburan itulah mereka menghadapkan muka mereka sewaktu bersujud. Hakekat prilaku inilah yang meniscayakan sama hukumnya dengan menyembah kuburan-kuburan itu. Inilah yang dilarang dengan tegas oleh Rasululah Muhammad saw.
Jadi jika seorang muslim membangun masjid di sisi kuburan seorang waliyullah sekedar untuk mengambil berkah (Tabarruk) dari tempat tersebut dan sewaktu ia melakukan shalat tidak ada niatan sedikitpun untuk mengagungkan kubur tadi maka hal ini tidak bertentangan dengan hadis-hadis di atas tadi, terkhusus hadis dari Ummu Salamah dan Ummu Habibah yang menjelaskan kekhususan kaum Yahudi dan Nasrani dalam menjadikan kubur manusia saleh dari mereka sebagai tempat ibadah.
Al-Baidhawi dalam mensyarahi hadis tadi menyatakan: “Hal itu dikarenakan kaum Yahudi dan Nasrani selalu mengagungkan kubur para nabi dengan melakukan sujud dan menjadikannya sebagai kiblat (arah ibadah). Atas dasar inilah akhirnya kaum muslimin dilarang untuk melakukan hal yang sama dikarenakan perbuatan ini merupakan perbuatan syirik yang nyata. Namun jika masjid dibangun di sisi kuburan seorang hamba saleh dengan niatan ber-tabarruk (mencari berkah) maka pelarangan hadis tadi tidak dapat diterapkan padanya”. Hal serupa juga dinyatakan oleh As-Sanadi dalam mensyarahi kitab Sunan an-Nasa’i jilid 2 halaman 41 dimana ia menyatakan: “Nabi melarang umatnya untuk melakukan perbuatan yang mirip prilaku Yahudi dan Nasrani dalam memperlakukan kuburan para nabi mereka, baik dengan menjadikannya sebagai tempat sujud dan tempat pengagungan maupun arah kiblat dimana mereka akan menghadapkan wajahnya ke arahnya (kubur) sewaktu ibadah”.
Dalam pernyataan di atas secara eksplisit Saudara telah mengakui dua yang telah dilakukan orang-orang Yahudi dan Nashrani terkait membangun masjid di atas kubur :
1. Dijadikan sebagai tempat ibadah
2. Dijadikan sebagai kiblat (arah ibadah)
Ini tergambar jelas dalam perkataan Saudara : ” Dari hadis-hadis tadi dapat diambil suatu pelajaran bahwa kaum Yahudi dan Nasrani telah menjadikan kuburan para nabi dan manusia saleh dari mereka bukan hanya sebagai tempat ibadah melainkan sekaligus sebagai kiblat (arah ibadah)”.
Dua hal inilah yang menjadi sebab pelarangan. [sebenarnya larangan ini tidaklah sebatas pada arah kiblat, sebagaimana akan dijelaskan kemudian]. Kemudian alasan Saudara bahwa perbuatan itu diperbolehkan dengan alasan tabarruk, maka saya tanggapi sebagai berikut :
Tabarruk (Mencari Berkah)
Al-barakah (اْلبَرَكَةُ) yang bentuk jamaknya al-barakaat (اْلبَرَكَاتُ) maknanya adalah kebaikan yang melimpah (كََثْرَةُ اْلخَيْرِ) [1]. Adapun tabarruk (التَّبَرُّكُ) merupakan mashdar dari تَبَرَّكَ - يَتَبَرَّكُ , yang artinya adalah mengharapkan barakah (طَلَبُ اْلبَرَكَةَ). Dan tabarruk dengan sesuatu artinya adalah mengharapkan keberkahan dengan perantaraan sesuatu tersebut.
Sesungguhnya kebaikan dan barakah ada di tangan Allah ta’ala. Dia memberi kekhususan kepada sebagian makhluk-Nya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya untuk mendapatkan kebaikan, keutamaan, karunia, dan keberkahan dari-Nya; seperti para Rasul, Nabi, Malaikat, dan sebagian orang-orang shalih.
Beberapa point penting yang terkait dengan tabarruk (mencari barakah) yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
1. Sesungguhnya semua barakah itu berasal dari Allah, sebagaimana halnya rizki, pertolongan, dan kesehatan. Dia memberi kekhususan kepada sebagian makhluk-Nya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya untuk mendapatkan kebaikan, keutamaan, karunia, dan keberkahan dari-Nya; seperti para Rasul, Nabi, Malaikat, dan sebagian orang-orang shalih.
Allah ta’ala berfirman :
إِنّ اللّهَ اصْطَفَىَ آدَمَ وَنُوحاً وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” [QS. Ali-‘Imran : 33].
تِلْكَ الرّسُلُ فَضّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىَ بَعْضٍ مّنْهُمْ مّن كَلّمَ اللّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيّنَاتِ وَأَيّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus” [QS. Al-Baqarah : 253].
وَبَشّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيّاً مّنَ الصّالِحِينَ * وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَىَ إِسْحَاقَ
“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq.” [QS. Ash-Shaaffat : 112-113].
Kita tidak boleh meminta barakah kecuali dari Allah, karena Dia-lah pemberi barakah. Allah ta’ala berfirman :
قُلِ اللّهُمّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمّنْ تَشَآءُ وَتُعِزّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلّ مَن تَشَآءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنّكَ عَلَىَ كُلّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [QS. Ali-‘Imran : 26].
عن عبد الله قال: كنا نعد الآيات بركة، وأنتم تعدونها تخويفا، كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر، فقل الماء، فقا: (اطلبوا فضلة من ماء). فجاؤوا بإناء فيه ماء قليل، فأدخل يده في الإناء ثم قال: (حي على الطهور المبارك، والبركة من الله). فلقد رأيت الماء ينبع من بين أصابع رسول الله صلى الله عليه وسلم...
Dari Abdullah (bin Mas’ud) radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Kami menganggap ayat-ayat Allah sebagai suatu barakah, sedangkan kalian menganggapnya sebagai satu hal yang menakutkan. Kami pernah bersama-sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan bepergian. Kami kekurangan air. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Carilah kelebihan air’. Para shahabat lain datang dengan membawa sebuah bejana berisikan air yang cuma sedikit. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memasukkan tangannya ke dalam bejana itu kemudian bersabda : ‘Hai, inilah air yang sangat suci dan dibarakahi, dan barakah itu berasal dari Allah’. Aku kemudian melihat bahwa air itu keluar dari jari-jari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3579].
2. Benda-benda, ucapan-ucapan, dan perbuatan-perbuatan yang oleh syara’ diperbolehkan untuk dipakai mencari kebarakahan, tidak lain itu semua hanyalah merupakan sarana saja. Ia bukanlah yang memberikan barakah. Sama seperti obat. Ia hanyalah merupakan sarana penyembuh saja. Dan yang yang menyembuhkan pada hakikatnya adalah Allah ta’ala. Hal itu sebagaiamana diterangkan dalam salah satu doa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk orang sakit :
أذهب الباس رب الناس، واشف أنت الشافي، لا شفاء إلا شفاؤك، شفاء لا يغادر سقماً
“Hilangkanlah kesengsaraan, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah karena Engkaulah Dzat yang bisa menyembuhkan. Tidak ada penyembuh melainkan Engkau. Suatu penyembuhan yang tidak lagi meninggalkan sakit” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5750].
Adapun beberapa hadits seperti :
إن في الحبة السوداء شفاء من كل داء إلا السام
“Sesungguhnya dalam habbatus-saudaa’ itu terdapat penyembuh bagi seluruh penyakit, kecuali as-saam (kematian)” [HR. Muslim no. 2215];
maka harus dipahami bahwa habbatus-saudaa’ hanyalah sebagai sarana saja. Ia dapat menyembuhkan sesuai dengan ijin Allah. Ketika berobat dengan habbatus-saudaa’, maka kita pun harus memohon kesembuhan pada Allah.
Begitu pula,…. ketika ada penisbatan barakah pada seseorang, maka ia bukanlah sebagai hakikat pemberi barakah. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam terhadap Ummul-Mukminin Juwairiyyah radliyallaahu ‘anhaa :
فما أعلم امرأة كانت أعظم بركة على قومها منها
“Aku tidak pernah melihat seorang wanita yang begitu besar barakahnya bagi kaumnya melebihi Juwairiyyah” [HR. Ahmad 6/277; hasan].
Juwairiyah bukanlah orang yang memberi barakah, melainkan hanyalah sebagai sebab keberadaan barakah saja. Hal itu diketahui ketika para shahabat mengetahui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menikahi Juwairiyyah, maka mereka saling berlomba dalam memerdekakan tawanan wanita dari kaumnya, yaitu Bani Musthaliq. Dengan pernikahan tersebut, Bani Musthaliq menjadi besan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tidak kurang seratus orang dari kaumnya dimerdekakan oleh para shahabat. Ini adalah barakah yang sangat besar dari Allah ta’ala yang penyebabnya tidak lain adalah Juwairiyyah bin Al-Harits.
3. Sesungguhnya mencari barakah terhadap sesuatu adalah dengan sesuatu yang padanya memang terdapat barakah. Dan ini menuntut penunjukkan pada nash/dalil. Bukan pada perasaan dan prasangka semata. Akal sehat tentu tidak akan menerima jika seseorang mencari keberkahan dari seekor sapi sebagaimana umat musyrik Hindu melakukannya.
Selain itu, seseorang yang mencari barakah pada sesuatu yang pada asalnya (sesuai nash/dalil) mempunyai barakah, maka harus dilakukan dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syari’at. Misalnya, dalam hadits dikatakan bahwa makan sahur itu terdapat barakah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
تسحروا فإن في السحور بركة
“Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat barakah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095].
Barakah makan sahur hanya akan kita dapatkan bila kita memakan makanan yang baik lagi halal. Sebaliknya, barakah tidak akan kita dapatkan jika kita makan atau minum yang diharamkan oleh Allah ta’ala (misalnya : makan daging babi, minum khamr, dan merokok).
Kembali pada pokok bahasan,…. Saudara telah menyatakan bahwa seseorang shalat di masjid yang berada di komplek kuburan adalah mengharap keberkahan kubur seseorang (yang dianggap sebagai wali Allah). Ada beberapa hal yang perlu mendapatkan pencermatan :
a) Jika shalat di masjid yang ada kuburnya itu dianggap sebagai usaha memperoleh barakah, apakah memang ada dalil shahih yang menyatakan bahwa kubur seseorang (walau ia seorang ulama atau orang shalih) terdapat barakah ? Ini sama saja mengatakan bahwa masjid mendapatkan barakah tambahan dengan sebab keberadaan kubur yang ada padanya.
b) Jikalau orang-orang shalih tersebut dianggap mempunyai barakah ketika ia hidup, maka apakah barakah itu masih tetap ada padanya setelah ia meninggal dan dikuburkan ?
c) Terkait point a, jika Saudara menyatakan bahwa masjid juga mendapatkan barakah dengan sebab keberadaan kubur tersebut, maka dengan ini secara tidak langsung Saudara menyatakan bahwa shalat dan beribadah lainnya di pekuburan merupakan ibadah masyru’ yang dapat mengantar sebab perolehan barakah, termasuk di antaranya shalat. Ada pernyataan Saudara yang kontradiktif satu dengan yang lainnya. Ingat, sebelumnya Saudara telah mengatakan larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu berkaitan dengan perbuatan kaum Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai tempat ibadah.
Tanggapan atas tiga hal tersebut dirangkum sebagai berikut :
Tempat yang ditunjukkan oleh dalil sebagai tempat ber-tabarruk (mencari barakah) adalah :
a. Masjid
عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أحب البلاد إلى الله مساجدها وأبغض البلاد إلى الله أسواقها
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Negeri (tempat) yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjidnya, dan negeri (tempat) yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar-pasarnya” [HR. Muslim no. 671].
Mencari barakah pada masjid tentu bukan dengan mengusap-usap dindingnya, mengambil sebagian debunya/pasirnya sebagai jimat, dan yang semisalnya. Namun, mencari barakah melalui masjid adalah dengan melakukan peribadahan yang disyari’atkan di dalamnya seperti shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, adzan, atau mengadakan halaqah ilmu.
Diantara masjid-masjid yang mempunyai keutamaan dan barakah lebih banyak dibandingkan dengan masjid-masjid lainnya adalah : Masjidil-Haram, Masjid Nabawiy, Masjidil-Aqsha, dan Masjid Quba’.
b. Makkah, Madinah, Syaam, dan Yaman.
Allah berfirman :
سُبْحَانَ الّذِي أَسْرَىَ بِعَبْدِهِ لَيْلاً مّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَىَ الْمَسْجِدِ الأقْصَى الّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya” [QS. Al-Israa’ : 1].
عن عبد الله بن زيد بن عاصم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن إبراهيم حرم مكة ودعا لأهلها وإني حرمت المدينة كما حرم إبراهيم مكة وإني دعوت في صاعها ومدها بمثلى ما دعا به إبراهيم لأهل مكة
Dari Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda : “Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan (memuliakan) Makkah dan mendoakan penduduknya. Dan sesungguhnya aku telah mengharamkan (memuliakan) Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Makkah. Dan aku juga mendoakan penduduk Madinah sebagaimana Ibrahim telah mendoakan penduduk Makkah” [HR. Muslim no. 1360].
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa :
اللهم بارك لنا في شامنا وفي يمننا
“Ya Allah, berkahilah bagi kami negeri Syaam kami dan Yaman kami….” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1037].
Ber-tabarruk atas tempat ini bisa berupa mencari penghidupan di sana, bermukim, menolak fitnah, atau berbuat kebajikan secara umum. Tidak bisa dikatakan tabarruk yang syari’i atas tempat ini jika ada seseorang yang mengusap-usap batu dan tanahnya, membawa air atau debunya untuk dibawa pulang buat kesembuhan [2], dan lain sebagainya.
Maka dari itu, tidak ada satu pun dalil shahih yang menyatakan kuburan mempunyai barakah khusus. Bahkan, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa kuburan (dan komplek pekuburan) bukanlah tempat untuk melakukan shalat (ibadah) secara umum[3]. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لا تجعلوا بيوتكم مقابر. إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة
“Janganlah engkau menjadikan rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syaithan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surat Al-Baqarah” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 780, Ahmad 2/284 & 337 & 387 & 388, At-Tirmidzi no. 2877, An-Nasa’I dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah no. 965, Ibnu Abi Syaibah 2/256, dan yang lainnya dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu].
Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata (dengan diringkas) :
استنبط من قوله في الحديث :(لا تتخذوها قبوراً ) أن القبور ليست بمحل للعبادة ،فتكون الصلاة فيها مكروهة ، وقد نازع الاسماعيلي المصنف في هذه الترجمة فقال :الحديث دال على كراهة الصلاة في القبر لا في المقابر
“Dari sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hadits : Janganlah kalian menjadikannya (rumah) sebagai kuburan”; dapat disimpulkan bahwa kuburan bukan tempat untuk beribadah, sehingga shalat di sana menjadi makruh. Al-Isma’ily telah menyanggah Penulis (yaitu Al-Imam Bukhari) dalam pembuatan bab ini, dimana ia mengatakan : ‘Hadits ini menunjukkan dimakruhkannya shalat di satu kubur, bukan di pekuburan” [Fathul-Baariy, 1/529].
Jadi di sini menunjukkan bahwa pada asalnya kubur dan komplek pekuburan bukanlah tempat untuk beribadah dan mencari barakah. Tidak ada korelasinya antara masjid dan kubur dalam masalah tabarruk.
Mungkin saja Saudara akan menyanggah hal ini dengan perkataan : "Yang menjadikan kuburan tersebut mempunyai barakah bukanlah semata-mata karena kuburannya, namun orang yang dikubur di sana yang termasuk orang-orang shalih”.
Dijawab :
Alasan Saudara sangat lemah. Dalam hadits sebelumnya telah disebutkan bahwa Ummul-Mukminin Juwairiyyah adalah seorang wanita yang paling banyak barakahnya terhadap kaumnya. Bahkan ini ditegaskan melalui lisan Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Setelah meninggalnya Juwairiyyah, apakah ternukil dalam riwayat shahih dari mereka (para shahabat) dan juga kaumnya (Bani Musthaliq) bahwa mereka mendatangi kubur Juwairiyyah untuk ber-tabarruk (mencari barakah) dengannya ? Tidak ada satu riwayat shahih pun yang menunjukkannya. Para shahabat juga tidak pernah ber-tabarruk terhadap kubur Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ataupun ‘Ali radliyallaahu ‘anhum; padahal mereka adalah empat orang shahabat yang utama. Bahkan, kepada orang yang lebih tinggi dari mereka – yaitu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam –, para shahabat tidak pernah ber-tabarruk dengan kubur beliau kecuali ziarah dan mengucapkan salam serta shalawat kepada diri beliau. Padahal kita ketahui bahwa badan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengandung barakah dan diperbolehkan ber-tabarruk dengannya. Hal ini seperti dijelaskan pada beberapa hadits di antaranya :
عن أنس بن مالك قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا صلى الغداة جاء خدم المدينة بآنيتهم فيها الماء فما يؤتى بإناء إلا غمس يده فيها فربما جاءه في الغداة الباردة فيغمس يده فيها
Dari Anas bin Malik ia berkata : “Setiap kali Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hendak melakukan shalat shubuh, para pelayan Madinah datang dengan membawa bejana-bejana mereka yang berisi air. Setiap kali didatangkan bejana, beliau memasukkan tangan beliau ke dalamnya. Terkadang beliau mendatangi beliau di pagi hari yang dingin. Tetapi tetap saja beliau berkenan memasukkan tangannya ke bejana yang berisikan air yang mereka bawa tersebut” .
Dalam riwayat lain Anas mengatakan :
لقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم والحلاق يحلقه وأطاف به أصحابه فما يريدون أن تقع شعرة إلا في يد رجل
“Aku pernah menyaksikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tengah dicukur oleh seorang tukang cukur. Beliau dikelilingi oleh para shahabatnya. Mereka tidak menginginkan sehelai rambut pun jatuh percuma tanpa didapatkan oleh orang di antara mereka” [HR. Muslim no. 2325].
عن أنس بن مالك قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يدخل بيت أم سليم فينام على فراشها وليست فيه قال فجاء ذات يوم فنام على فراشها فأتيت فقيل لها هذا النبي صلى الله عليه وسلم نام في بيتك على فراشك قال فجاءت وقد عرق واستنقع عرقه على قطعة أديم على الفراش ففتحت عتيدتها فجعلت تنشف ذلك العرق فتعصره في قواريرها ففزع النبي صلى الله عليه وسلم فقال ما تصنعين يا أم سليم فقالت يا رسول الله نرجو بركته لصبياننا قال أصبت
Dari Anas bin Malik ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari pernah masuk ke rumah Ummu Sulaim. Beliau lalu tidur di atas alas tidur Ummu Sulaim ketika ia tidak ada di rumah. Pada hari lainnya beliau juga datang dan melakukan hal yang sama. Ketika Ummu Sulaim datang, ada yang melapor bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidur di alas tidur di rumahnya. Segera saja Ummu Sulaim masuk dan mendapati Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersimbah keringat yang sangat banyak sehingga mengenai sepotong kulit yang berada di dekat alas tidur tersebut. Kemudian Ummu Sulaim menyeka keringat tersebut lalu memerasnya ke dalam botol-botol yang terbuat dari kaca. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam terbangun dan merasa kaget. Beliau bertanya : “Apa yang sedang kamu lakukan wahai Ummu Sulaim ?”. Ia menjawab : “Wahai Rasulullah, kami mengharapkan barakahnya untuk anak-anak kami”. Maka beliau berkata : “Engkau benar” [HR. Muslim no. 2331].
Kita tidak memungkiri tentang masyru’-nya bertabarruk pada tubuh dan semua atsar (bekas) beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ini dikarenakan karena tubuh beliau yang mengandung barakah. Dan ini adalah kekhususan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam yang tidak terdapat pada selain beliau. Atsar (bekas) peninggalan beliau ini tetap mempunyai barakah walaupun beliau telah meninggal dunia. Namun, semua peninggalan beliau tersebut (berupa rambut, pakaian, dan yang lainnya) telah hilang.[4] Maka, bertabarruk dengan atsar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sudah tidak bisa dilakukan lagi.
Kemudian,….. ada sebagian dari kaum muslimin [5] yang berusaha mencari barakah dengan beberapa beberapa tempat yang secara khusus tidak ditunjukkan dengan dalil. Tempat-tempat tersebut biasanya terkait dengan tokoh-tokoh atau peristiwa-peristiwa historis tertentu. Misalnya ada orang yang ber-tabarruk dengan tempat-tempat yang pernah dilewati beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, gua Hira (tempat turun wahyu pertama), gua Tsur, dan yang lainnya. Termasuk kuburan orang-orang shalih sebagaimana yang Saudara diklaim itu……………
Banyak dalil yang menunjukkan pengingkaran terhadap aqidah semacam ini. Silakan diperhatikan beberapa diantaranya :
1. Atsar ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu tentang hajar aswad :
عن عمر رضى الله تعالى عنه أنه جاء إلى الحجر الأسود فقبله فقال إني أعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع ولولا أني رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يقبلك ما قبلتك
Dari ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya ia mendatangi Hajar Aswad dan menciumnya. Kemudian ia berkata : “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah sebuah batu biasa yang tidak memberi mudlarat dan manfaat. Kalau aku tidak melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menciumnya, niscaya aku tidak akan sudi menciummu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1597].
Hampir semua umat muslimin tentu tahu bahwa Hajar Aswad adalah batu hitam yang sudah ada semenjak jaman Nabi Ibrahim ‘alaihis-salam. Ia adalah batu yang disentuh, diusap, dan dicium oleh para Nabi (dalam ibadah haji), termasuk Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Namun apa yang menjadi i’tiqad Umar dalam hal ini ? Apakah ia mencium Hajar Aswad karena ‘Umar berkeyakinan bahwa Hajar Aswad mempunyai barakah dzatiyyah (sehingga ia ber-tabarruk dengannya) ? Tidak ! ‘Umar mencium Hajar Aswad (dalam ibadah haji) semata-mata hanya karena ittiba’ beliau terhadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang juga menciumnya. Perkataan ‘Umar : “Kalau aku tidak melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menciumnya, niscaya aku tidak akan sudi menciummu” ; menunjukkan bahwa Hajar Aswad tidaklah mempunyai barakah dzatiyyah secara khusus sebagaimana Masjidil-Haram atau Masjid Nabawy. Sehingga dalam hal ini Ibnu Hajar berkomentar :
وفي قول عمر هذا التسليم للشارع في أمور الدين وحسن الأتباع فيما لم يكشف عن معانيها وهو قاعدة عظيمة في أتباع النبي صلى الله عليه وسلم فيما يفعله ولو لم يعلم الحكمة فيه
“Bahwa apa yang dikatakan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab tersebut adalah penyerahan diri secara total kepada Syaari’ (Pembuat Syari’at, yaitu Allah) dalam urusan agama dan melakukan ittiba’ dengan sebaik-baiknya terhadap sesuatu yang ia sendiri belum mengerti makna-makan yang terkandung di dalamnya. Itulah kaidah besar dalam hal ittiba’ kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ia melakukan sesuatu kendati ia tidak mengetahui hikmah apa yang terkandung di dalamnya” [Fathul-Baari 3/370].
2. Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah yang berasal dari Marwan bin Suwaid Al-Asadi ia berkata : “Aku keluar bersama Amirul-Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu keluar kota Makkah menuju Madinah. Ketika memasuki waktu pagi, beliau shalat bersama kami di pagi hari itu. Kemudin orang-orang melihat pergi ke suatu tempat. Beliau bertanya : “Kemana mereka pergi ?”. Ada yang menjawab : “Wahai Amirul-Mukminin, mereka pergi ke masjid dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di sana. Berbondong-bondong mereka mendatangi untuk shalat di sana. Beliau berkata :
بلك إنما هلك من كان قبلكم بمثل هذا يتبععون آثار الأنبيئهم فيتخذونها كنائس وبيعا أدركته الصلاة في هذا مسجد فليصلي و من لا فليمض و لا يعتمدها.
“Sesungguhnya orang sebelum kamu menjadi binasa disebabkan hal seperti ini. Mereka begitu memperhatikan peninggalan-peninggalan Nabi-nya lalu menjadikannya sebagai gereja-gereja dan tempat ibadah. Barangsiapa yang kebetulan melewati masjid ini dan telah tiba waktu shalat, maka hendaklah ia shalat di sini. Dan kalau tidak, hendaklah ia berlalu dan janganlah mendatangi dengan sengaja” [Al-Bida’ wan-Nahyu ‘anha oleh Ibnu Wadhdhah hal. 41].
3. Masih dari Ibnu Wadldlah ia berkata :
سمعت عيسى بن يونس يقول : أمر عمر بن الخطاب ـ رضي الله عنه بقطع الشجرة التي بويع تحتها النبي صلى الله عليه وسلم فقطعها لأن الناس كانوا يذهبون فيصلون تحتها ، فخاف عليهم الفتنة .
“Aku mendengar ‘Isa bin Yunus mengatakan : “Umar bin Al-Khaththab radlyallaahu ‘anhu memerintahkan untuk menebang pohon yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menerima baiat kesetiaan di bawahnya (Bai’atur-Ridlwan). Ia menebangnya karena banyak manusia yang pergi ke sana dan shalat di bawahnya, lalu hal itu membuatnya khawatir akan terjadi fitnah (bahaya kemusyrikan) terhadap mereka” [HR. Ibnu Abi Syaibah 2/376 dan Ibnu Wadldlah dalam Al-Bida’ hal. 42; shahih. Lihat Fathul-Majid hal. 233, Maktabah Taufiqiyyah].
Di sini malah begitu jelas bahwa tempat singgah (petilasan) Nabi itu tidak mempunyai barakah secara khusus. Bahkan termasuk juga masjidnya. Artinya,….. shalat di masjid yang pernah disinggahi dengan yang belum adalah sama saja dalam hal keutamaannya. Tidak ada yang membedakan dan tidak ada keistimewaan khususnya kecuali jika didatangkan dalil, seperti empat masjid sebagaimana yang telah lalu. ‘Umar melarang orang untuk menyengaja datang di tempat yang pernah disinggahi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang dilakukan ‘Umar jika melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang belakangan yang mencari barakah dengan petilasan (atsar) orang-orang (yang mereka anggap ) shalih yang tentu kedudukannya lebih rendah dari beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya ?
Nah,…. jika masjid saja yang secara umum mempunyai keutamaan (barakah) diingkari mempunyai keutamaan khusus/tambahan (yaitu barakah khusus selain dari barakah umum) dengan sebab pernah disinggahi oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam; maka bagaimana dengan kubur yang bahkan tidak ada keutamaan umumnya ?
Jawaban di point ini terkait dengan jawaban di point selanjutnya.
Sebagian hadis di atas menyatakan akan pelarangan membangun masjid “di atas” kuburan, bukan di sisi (baca: samping) kuburan. Letak perbedaan redaksi inilah yang kurang diperhatikan oleh kaum Wahaby dalam berdalil.
Justru Saudara dan orang-orang yang setipe dengan Saudara lah yang tidak mencermati dalil dan penjelasan ulama. Coba kita perhatikan dengan seksama dari 13 (tiga belas) hadits yang telah ditulis (dan sebenarnya masih beberapa lagi). Hampir semua menggunakan lafadh {اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد} “menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid”. Hanya satu saja yang memakai lafadh ‘alaa (di atas) yaitu hadits nomor 4 dari Ummul-Mukminin ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa.
Apa makna larangan : “Menjadikan Kubur Sebagai Masjid { اتخاذ القبور مساجد } ?
Para ulama telah menjelaskan bahwa kalimat tersebut mencakup tiga makna, yaitu :
1. Larangan shalat di atas kubur.
Ibnu Hajar Al-Haitami berkata:
واتخاذ القبر مسجداُ معناه الصلاة عليه ، أو إليه
“Menjadikan kubur sebagai masjid berarti shalat di atasnya atau dengan menghadap ke arahnya” [Az-Zawaajir, 1/121].
Makna ini diperkuat oleh hadits :
لا تصلوا إلى قبر ، ولا تصلوا على قبر
“Janganlah kalian shalat menghadap ke arah kubur dan jangan pula shalat di atasnya” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir; shahih].
2. Larangan sujud dengan menghadap ke arahnya serta menjadikannya sebagai kiblat shalat dan doa.
Al-Imam Al-Munawi rahimahullah berkata :
أي اتخذوها جهة قبلتهم ، مع اعتقادهم الباطل ، وإن اتخاذها مساجد ، لازم لاتخاذ المساجد عليها كعكسه ، وهذا بين به سبب لعنهم لما فيه من المغالاة في التعظيم . قال القاضي ( يعني البيضاوي ) : لما كانت اليهود يسجدون لقبور أنبيائهم تعظيماً لشأنهم ، ويجعلونها قبلة ، ويتوجهون في الصلاة نحوها ، فاتخذوها أوثاناً لعنهم الله ، ومنع المسلمين عن مثل ذلك ونهاهم عنه … "
“Artinya,.. mereka menjadikan kubur para nabi itu sebagai arah kiblat mereka akibat keyakinan mereka yang salah. Dan menjadikan kubur itu sebagai masjid menuntut konsekuensi pembangunan masjid di atasnya, dan juga sebaliknya. Hal demikian itu menjelaskan sebab dilaknatnya mereka, yaitu karena tindakan tersebut mengandung sikap berlebihan dalam pengagungan. Al-Qadli (yaitu Al-Baidlawi) mengatakan : ‘Orang-orang Yahudi bersujud kepada kubur para Nabi sebagai pengagungan terhadap mereka dan menjadikannya sebagai kiblat. Mereka juga menghadap ke kubur itu dalam mengerjakan shalat dan ibadah lainnya. Sehingga dengan demikian, mereka telah menjadikannya sebagai berhala yang dilaknat oleh Allah. Dan Allah telah melarang kaum muslimin melakukan hal tersebut” [selesai – Faidlul-Qadiir Syarh Al-Jamii’ Ash-Shaghiir – melalui perantara Tahdziirus-Saajid halaman 21; Maktabah Meshkat].
Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah berkata :
قيل معناه النهي عن السجود على قبور الأنبياء وقيل النهي عن اتخاذها قبلة يصلى إليها
“Dikatakan maknanya adalah larangan terhadap sujud di atas kubur para Nabi. Dan juga dikatakan bahwa maknanya adalah larangan untuk menjadikannya sebagai kiblat dimana ia shalat menghadapnya” [Tanwiirul-Hawaalik Syarh Muwaththa’ Malik no. 414; Maktabah Sahab].
Makna ini dikuatkan oleh sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam :
لا تجلسوا على القبور ، و لا تصلوا إليها
“Janganlah kalian duduk di atas kubur dan jangan pula shalat menghadap ke arahnya” [Diriwayatkan oleh Muslim 3/62; Abu Dawud no. 3229; Ahmad 4/135; An-Nasa’iy 2/67, At-Tirmidzi no. 1050; dan yang lainnya. Sanad hadits ini jayyid (baik)].
3. Larangan mendirikan masjid di atas kubur dan tujuan mengerjakan shalat di dalamnya.
Pengertian ini adalah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Bukhari ketika memberikan bab dalam kitab Shahih-nya : { باب ما يكره من اتخاذ القبور مسجداً على القبور} “Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan Membangun Masjid di Atas Kubur”. Makna ini adalah sebagaimana yang terambil dalam hadits :
أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح بنوا على قبره مسجداً
“Mereka itu adalah orang-orang yang apabila orang shlih mereka meninggal dunia, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya tersebut” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 434, Muslim 528, Abu ‘Awaanah 1/400-401, Ibnu Hibban no. 3181, An-Nasa’i 2/41, Al-Baihaqiy 4/80; dan yang lainnya].
Dari ketiga makna ini – wallahi – hampir semua dikerjakan oleh para pecinta kubur ! Banyak sekali di antara mereka – dengan alasan tabarruk dan tawassul – melakukan doa dan shalat di samping atau menghadap kubur. Betapa banyak masjid di Indonesia ini yang terdapat kuburannya baik di dalam, di arah kiblat, atau di samping masjid ? Lihatlah di Cirebon, Ampel, atau daerah-daerah sekitar Madura. Dan saya pribadi pernah “terperosok” sewaktu shalat shubuh di Masjid Agung Kabupaten Temanggung Jawa Tengah yang ternyata di arah kiblatnya ada makam “wali”-nya. Inilah budaya/kultur yang dipelihara oleh pecinta kubur masyarakat kita.
Sebagai tambahan,…. larangan shalat dan mendirikan masjid itu bukan hanya jika kubur itu terletak di dalam atau di depan masjid ! Namun secara umum, termasuk di samping atau belakang masjid (selama kuburan tersebut masih berada di komplek masjid). Dalilnya adalah sebagai berikut :
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( الارض كلها مسجد إلا المقبرة والحمام
Dari Abi Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Bumi ini secara keseluruhan adalah masjid (tempat untuk shalat), kecuali kuburan dan kamar mandi” [Diriwayatkan oleh Ahmad 3/83 & 96, Abu Dawud no. 492, At-Tirmidziy no. 317, Ibnu Majah no. 745, Abu Ya’laa no. 1350, Ibnu Khuzaimah no. 791-792, dan yang lainnya; shahih].
Al-Maqbarah {المقبرة} adalah isim makan (tempat) yang bentuk jamaknya Al-Maqaabir {المقابر}; yang artinya setiap tanah yang ditanam/dikuburkan seorang mayit. Adalah salah jika ada orang yang menganggap bahwa al-maqaabir ini merupakan bentuk jamak dari al-qubr (القبر).
Maka larangan untuk melakukan shalat (dan juga tentunya mendirikan masjid) di sini berlaku untuk kubur satu orang atau lebih (seperti di daerah pekuburan); baik menghadap kubur atau membelakangi, di sebelah kanan atau di sebelah kirinya. Ini semua terlarang, sebab dua hadits di atas lafadhnya adalah mutlak (yaitu larang shalat di kubur dan juga di antara kubur).
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata ketika menjelaskan madzhab Al-Imam Ahmad rahimahumallah dalam permasalahan ini :
وليس في كلام أحمد و عامّة أصحابه هذا الفرق ، بل عموم كلامهم و تعليلهم و استدلالهم يوجب منع الصّلاة عند قبرٍ واحدٍ من القبور، وهو الصواب ، والمقبرة كل ما قبر فيه ، لا أنه جمع قبر . وقال أصحابنا : وكل ما دخل في اسم المقبرة مما حول القبور ، لا يصلّى فيه ، فهذا يعين أن المنع يكون متناولاً لحرمة القبر المنفرد ، و فنائه المضاف إليه
“Tidak ada perbedaan pendapat antara Ahmad dan shahabat-shahabatnya (yaitu para ulama Hanabilah) dalam permasalahan ini. Akan tetapi keumuman perkataan, ta’lil, dan istidlal mereka adalah menetapkan pelarangan shalat di samping kubur, walau itu satu kuburan saja[6]. Dan itulah yang benar. Dan yang disebut Al-Maqbarah adalah setiap tanah dibuat untuk mengubur (mayat). Al-Maqbarah bukanlah bentuk jamak dari Qabr (kubur). Dan telah berkata sebagian shahabat-shahabat kami : “Setiap yang masuk dalam definisi Al-Maqbarah adalah setiap sesuatu yang berada di sekitar kubur yang tidak boleh digunakan untuk shalat”. Dan ini menentukan bahwa larangan tersebut mencakup lingkup kuburan yang terpencil bersama halaman sekitarnya” [Al-Ikhtiyaaratul-‘Ilmiyyah hal. 25 melalui perantaraan Al-Qaulul-Mubiin fii Akhthaail-Mushallin hal. 32, Maktabah Al-Misykah dan Tamamul-Minnah hal. 298 Daarur-Rayah].
Al-Muhaqqiq Muhammad Yahya Al-Kandahlawi Al-Hanafi rahimahullah berkata : “Adapun membangun kubur termasuk tasyabbuh (meniru) perbuatan Yahudi dan menjadikan kubur para Nabi dan para tokoh sebagai masjid termasuk pengagungan terhadap mayit dan meniru para penyembah berhala meskipun masjid itu berada di samping kubur. Jika kubur berada di arah kiblat, maka lebih dibenci daripada di samping kanan atau kiri. Jika berada di belakang orang-orang shalat, maka itu lebih ringan namun tidak lepas dari hukum makruh” [Al-Kawaakibud-Daraari ‘alaa Jamii’it-Tirmidzi hal. 153].
(C) Tidak jelas apakah pelarangan dalam hadis itu menjurus kepada hukum haram ataupun hanya sekedar makruh (tidak sampai pada derajat haram) saja. Hal itu dikarenakan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya (lihat kitab Shahih al-Bukhari jilid 2 halaman 111) dimana beliau mengumpulkan hadis-hadis itu ke dalam topik “Bab apa yang dimakruhkan dari menjadikan masjid di atas kuburan” (Bab maa yukrahu min ittikhodz al-Masajid ‘alal Qubur) dimana ini meniscayakan bahwa hal itu sekedar pelarangan yang bersifat makruh saja yang selayaknya dihindari, bukan mutlak haram.
Atas dasar itu, dalam kitab al-Maqolaat as-Saniyah halaman 427 disebutkan bahwa Syeikh Abdullah Harawi dalam menjelaskan hadis di atas tadi mengatakan: “Hadis tadi diperuntukkan bagi orang yang hendak melakukan ibadah di atas kuburan para nabi dengan niat untuk mengagungkan kubur mereka. Ini terjadi jika posisi kuburan itu nampak (menonjol .red) dan terbuka. Jika tidak maka melaksanakan shalat di situ tidak haram hukumnya”
Perlu diketahui bahwa Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah ketika menuliskan “Maa Yukrahu….” (Apa-Apa yang Dimakruhkan….) dalam kitab Shahih-nya, bisa mengandung dua pengertian, yaitu : 1) bermakna bukan tahrim; dan 2) bermakna tahrim.
Saya contohkan bab yang ditulis beliau rahimhullah dengan makna pertama :
1. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan Tidur Sebelum ‘Isya’ { باب ما يكره من النوم قبل العشاء }
2. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Meninggakan Shalat Malam Bagi Mereka yang Telah Biasa Mengerjakannya { باب ما يكره من ترك قيام الليل لمن كان يقومه }
3. dan lain-lain.
Adapun yang makna kedua (tahrim/pengharaman) :
1. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Niyahah (Meratap) terhadap Mayit { باب ما يكره من النياحة على الميت }
2. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Shalat Jenazah terhadap Orang-Orang Munafik dan Meminta Ampunan terhadap Orang-Orang Musyrik { باب ما يكره من الصلاة على المنافقين والاستغفار للمشركين }
3. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Namimah (Mengadu Domba) { باب ما يكره من النميمة}
4. dan lain-lain.
Lantas,…. bagaimana dengan menjadikan kubur sebagai masjid ? Tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksudkan makruh dalam perkataan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah adalah bermakna tahrim (pengharaman). Apa indikasinya ? Indikasinya adalah bahwa lafadh hadits yang dibawakan oleh Al-Imam Bukhari rahimahullah dalam Bab Maa Yukrahu Min-Ittikhaadzil-Masaajidi ‘alal-Qubuur merupakan lafadh-lafadh laknat. Sesuai dengan kaidah Ushul-Fiqh bahwa lafadh laknat mempunyai konsekuensi pada pengharaman [lihat Badai’ul-Fawaaid 4/5-6].
Contohnya adalah firman Allah :
إِنّ الّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِناتِ لُعِنُواْ فِي الدّنْيَا وَالاَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, [QS. An-Nuur : 23]
عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال لعن الله الواصلة والمستوصلة والواشمة والمستوشمة
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : “Allah telah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang meminta disambung rambutnya; juga wanita yang mentato dan yang minta ditato” [HR. Bukhari no. 5589].
Dan perlu diketahui bahwa kalimat “makruh/karahah” dalam syari’at banyak yang menunjukkan pada makna haram (dan ini adalah madzhab ulama mutaqaddimiin). Misalnya : Setelah Allah menyebutkan tentang larangan berbuat syirik, larangan durhaka kepada dua orang tua, larangan bersikap boros, dan yang lainya [7], maka Allah menutupnya dengan :
ذَلِكَ كَانَ سَيّئُهُ عِنْدَ رَبّكَ مَكْرُوهاً
“Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu” [QS. Al-Israa’ : 38].
Juga Allah berfirman :
وَلَـَكِنّ اللّهَ حَبّبَ إِلَيْكُمُ الأِيمَانَ وَزَيّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ
“Tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan”. [QS. Al-Hujuraat : 7].
Makna makruh dalam dua ayat di atas adalah haram. Kecuali,…. bila Saudara mengatakan syirik, durhaka pada orang tua, kefasikan, kemaksiatan, dan sikap boros itu hanya sebatas makruh dimana orang yang meninggalkannya mendapat pahala dan yang mengerjakannya tidak dibebani dosa…….
Oleh karena itu, perkataan makruh ulama di bawah juga menunjukkan pengharaman.
وقال أبو بكر الأثرم : سمعت أبا عبد الله – يعني أحمد – يُسأل عن الصلاة في المقبرة ، فكره الصلاة في المقبرة ، فقيل له : (المسجد يكون بين القبور ، أيصلى فيه ؟) ، فكره ذلك . قيل له : (إنه مسجد ، وبينه وبين القبور حاجز) ، فكره أن يصلى فيه الفرض ، ورخص أن يصلى فيه على الجنائز ، وذكر حديث أبي مرثد الغنوي عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لا تصلوا إلى القبور ، وقال : إسناد جيد
Telah berkata Abu Bakr Al-Atsram : Aku mendengar Abu ‘Abdillah – yaitu Ahmad – ditanya tentang shalat yang dilakukan di kuburan (maqbarah), maka ia me-makruh-kannya. Lalu ditanyakan kepadanya : “Bagaimana tentang masjid yang berada di antara kubur ?”. Ia pun me-makruh-kannya hal itu juga” [Fathul-Baariy oleh Ibnu Rajab, 3/195].
والذي عليه الأكثر من أهل العلم ؛ كراهية الصلاة في المقبرة ، لحديث أبي سعيد رضي الله عنه، وكذلك نقول .
“Pendapat yang dipegang oleh kebanyakan ahli ilmu/ulama adalah makruh mengerjakan shalat di kuburan, berdasarkan hadits Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu. Dan begitulah yang menjadi pendapat kami” [Al-Ausath, 2/185].
Kesimpulan di point ini adalah bahwa menjadikan kubur sebagai masjid dan shalat di dalamnya adalah haram.
Begitu pula apa yang dinyatakan oleh salah seorang ulama Ahlusunah lain yang bermazhab Hanafi yang bernama Abdul Ghani an-Nablusi dalam kitab al-Hadiqoh ast-Tsaniyah jilid 2 halaman 631. Ia menyatakan: “Jika sebuah masjid dibangun di sisi kuburan (makam) orang saleh ataupun di samping kuburannya yang hanya berfungsi untuk mengambil berkahnya saja, tanpa ada niatan untuk mengagungkannya maka hal itu tidak mengapa. Sebagaimana kubur Ismail as terletak di Hathim di dalam Masjidil Haram dimana tempat itu adalah sebaik-baik tempat untuk melaksanakan shalat”.
Di sini saya tidak akan membantah pada hal tabarruk (karena telah terjawab pada paragraph di atas), namun hanya akan mengomentari perkataan bahwa kubur Isma’il di Masjidil-Haram adalah sebaik-baik tempat untuk shalat.
Saya jawab secara ringkas bahwa perkataan ini adalah perkataan palsu yang tidak bersumber pada satupun riwayat shahih. Bahkan riwayat dla’if tentang hal itu pun tidak tertulis dalam Al-Kutubus-Sittah, Musnad Ahmad, Mu’jam Thabarani (Kabiir, Shaghiir, dan Ausath), dan yang lainnya dari kitab hadits yang populer.
Apa yang dikatakan oleh Saudara dan orang yang Saudara nukil itu (yaitu Abdul-Ghani An-Nablusi) bersumber pada atsar-atsar mu’dlal dengan sanad-sanad yang dla’if dan mauquf yang disebutkan oleh Al-Azraqi dalam Akhbaarul-Makkah (hal. 39, 219, dan 220). Selain itu, penukilan kubur Isma’il ini juga beraneka cerita. Al-‘Allamah ‘Ali Al-Qari, seorang ahli hadits kenamaan madzhab Hanafiyyah berkata :
وذكر غيره أن صورة قبر إسماعيل عليه السلام في الحجر تحت الميزاب ، وأن في الحطيم بين الحجر الأسود وزمزم قبر سبعين نبياً
“Dan yang lain mengatakan bahwa wujud kubur Isma’il ‘alaihis-salaam itu ada di Hijr di bawah pancuran air hujan. Dan ada pula yang mengatakan terletak di Hathim antara Hajar Aswad dan Zamzam, yang terdapat kuburan 70 orang Nabi…….” [Mirqaatul-Mafaatih 1/456].
Jika memang dianggap bahwa kubur itu terdapat di sana, maka hal itu tidak terdapat lagi wujudnya. Sudah menjadi kesepakatan bahwa kubur yang sudah tidak ada bekasnya (tidak nampak tanda-tanda kuburan) adalah tidak mengapa (tidak terkena larangan dalam hadits).
Adapun anggapan bahwa shalat di Hathim itu adalah sebaik-baik tempat untuk melaksanakan shalat dikarenakan adanya kubur Isma’il, maka perkataan ini adalah perkataan khayal yang dikatakan tanpa landasan nash.
Allamah Badruddin al-Hautsi pun menyatakan hal serupa dalam kitab Ziarah al-Qubur halaman 28: “Arti dari menjadikan kuburan sebuah masjid adalah seseorang menjadikan kuburan sebagai kiblat (arah ibadah) dan untuknya dilaksanakan peribadatan”.
Bahkan, ada tiga makna sebagaimana telah dituliskan sebelumnya.
Dalil lain yang dijadikan oleh kaum Wahaby (Salafy gadungan) –terkhusus Ibnu Qoyyim al-Jauziyah- adalah kaidah Sadd adz-Dzarayi’ dimana kaidah itu menyatakan: “Jika sebuah perbuatan secara dzatnya (esensial) dihukumi boleh ataupun sunah, namun dengan melalui perbuatan itu menjadikan seseorang mungkin orang tadi terjerumus ke dalam perbuatan haram maka untuk menghindari hal buruk tersebut -agar orang tadi tidak terjerumus ke dalam jurang tersebut- perbuatan itupun lantas dihukumi haram”. (lihat kembali kitab A’lam al-Muwaqi’in jilid 3 halaman 148).
Dalil di atas tadi secara ringkas dapat kita jawab bahwa; Dalam pembahasan Ushul Fikih disebutkan “Hanya mukadimah untuk pelaksanaan perbuatan wajib yang menjurus secara langsung kepada kewajiban itu saja yang juga dihukumi wajib” seperti kita tahu kewajiban wudhu karena ia merupakan mukadimah langsung dari shalat yang wajib. Begitu juga dengan “mukadimah yang menjurus langsung kepada hal haram, hukumnya pun haram”, jadi tidak mutlak semua mukadimah. Atas dasar ini maka membangun masjid di sisi kuburan manusia mulia (para nabi atau waliyullah) jika tidak untuk tujuan syirik maka tidak menjadi apa-apa (boleh). Dan terbukti mayoritas mutlak masyarakat muslim disaat melakukan hal tersebut dengan niatan penghambaan terhadap Allah (tidak untuk menyekutukan Allah / Syirik). Kalaupun ada seorang muslim yang berniat melakukan syirik, itu merupakan hal yang sangat jarang (baca: minim) sekali.
Aneh ya,….. gara-gara Al-Haafidh Ibnul-Qayyim sejalan dengan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil-Wahhab rahimahumallah, lantas beliau dicap sebagai Wahabi. Nanti bila saya sebutkan Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, Ath-Thabari, atau yang lainnya, jangan-jangan Saudara juga mencap mereka sebagai Wahabi. Ini namanya membabi buta dalam kebencian sehingga menutup mata terhadap fakta. Alangkah aneh,…. Ibnul-Qayyim yang hidup di abad 7 Hijriyyah (wafat tahun 751 H) lekat dengan stigma Wahabi. Ini namanya stigma bersifat “flash back” ………….
Adapun penjelasan kaidah Ushul-Fiqh yang Saudara sebutkan itu tidak nyambung dengan pokok bahasan kaidah Saddudz-Dzara’i yang sedang dikritisi. Saddudz-Dzara’i adalah kaidah agung yang dijelaskan oleh para ulama dalam penghukuman hal-hal yang memicu satu keharaman terjadi. Kaidah ini menjelaskan bahwa sesuatu yang dapat memicu terjadinya keharaman atau diduga kuat menyebabkan keharaman, maka sesuatu itu hukumnya juga haram. Kaidah ini merupakan kaidah agung dalam upaya preventif menutup jalan-jalan yang menyebabkan terjadinya kemunkaran sebelum kemunkaran tersebut benar-benar terjadi. Dalil yang melandasi kaidah ini adalah :
وَلاَ تَقْرَبُواْ الزّنَىَ إِنّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلاً
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” [QS. Al-Israa’ : 32].
Perhatikan ayat di atas ! Sesungguhnya kemunkaran yang dituju pada ayat tersebut adalah “zina”, karena Allah telah menjelaskan bahwa zina merupakan suatu perbuatan yang keji lagi buruk. Namun, penekanan Allah tidak hanya pada “zina” saja. Bahkan Allah telah menutup dan mengharamkan semua jalan menuju “zina” dengan kalimat : { وَلاَ تَقْرَبُواْ الزّنَىَ} “Dan janganlah kamu mendekati zina”. Kalimat nahyi (larangan) itu mengandung konsekuensi bahwa semua hal yang dapat membuka jalan menju zina, maka hukumnya pun haram. Maka, mengumbar pandangan, mengkhayal, berkhalwat, bersentuhan tanpa ada kebutuhan dlaruriy hukumnya haram. Semua perbuatan ini merupakan muqaddimah menuju zina yang sebenarnya. Inilah Saddudz-Dzara’i.
Saya merasa heran kepada Saudara yang dengan ‘enteng’-nya mengatakan bahwa praktek yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yang menyepakati pendapat Saudara jarang sekali terjerembab pada kesyirikan. Betapa banyak akhirnya orang-orang meminta kesembuhan dan dikabulkannya hajat pada orang yang ada di dalam kubur yang mereka anggap sebagai Waliyyullah itu ? Betapa banyak orang shalat di masjid yang ada kuburnya itu sekedar formalitas saja dengan tujuan utama malah ingin mendapat ‘restu’ si penghuni kubur agar cepat punya keturunan (misalnya) ? Ia pun menjadi takut dan gembira karena penghuni kubur yang telah berkalang tanah….
Kubur pun dijadikan perayaan. Lebih ramai dari karnaval 17-an Agustus. Diperingatilah ulang tahun kematian si penghuni kubur secara terus-menerus. Masjid yang ada di atas/samping kubur itu pun dijadikan alat propaganda syi’ar kesyirikan dan kebid’ahan.
Peringatan kepada umat untuk tidak membangun masjid di atas/samping/sisi kubur karena berpotensi membawa ke pintu kesyirikan (sebagaimana telah terjadi pada kenyataannya) bukan hanya dikatakan oleh Ibnul-Qayyim rahimahullah.
Allah berfirman :
قَالَ نُوحٌ رّبّ إِنّهُمْ عَصَوْنِي وَاتّبَعُواْ مَن لّمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاّ خَسَاراً * وَمَكَرُواْ مَكْراً كُبّاراً * وَقَالُواْ لاَ تَذَرُنّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنّ وَدّاً وَلاَ سُوَاعاً وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْراً * وَقَدْ أَضَلّواْ كَثِيراً
Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar." Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr”. Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia). [QS. Nuh : 21-24].
Terkait ayat di atas, Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan satu hadits dalam Shahih-nya :
عن بن عباس رضى الله تعالى عنهما صارت الأوثان التي كانت في قوم نوح في العرب بعد أما ود كانت لكلب بدومة الجندل وأما سواع كانت لهذيل وأما يغوث فكانت لمراد ثم لبني غطيف بالجوف عند سبأ وأما يعوق فكانت لهمدان وأما نسر فكانت لحمير لآل ذي الكلاع أسماء رجال صالحين من قوم نوح فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون أنصابا وسموها بأسمائهم ففعلوا فلم تعبد حتى إذا هلك أولئك وتنسخ العلم عبدت
Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma (ia berkata) : “Patung-patung yang ada di kaum Nuh menjadi sesembahan orang Arab setelah itu. (Patung) Wadd menjadi sesembahan bagi Bani Kalb di Dumatul-Jandal, (patung) Suwaa’ bagi Bani Hudzail, (patung) Yaghuuts bagi Bani Murad dan Bani Ghuthaif di Al-Jauf sebelah Saba’, Ya’uuq bagi Bani Hamdaan, dan Nasr bagi Bani Himyar dan kemudian bagi keluarga Dzul-Kalaa’. Mereka adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, maka syaithan membisikkan kepada kaum mereka (yaitu kaum Nuh) agar meletakkan patung-patung mereka dalam majelis-majelis dimana kaum Nuh biasa mengadakan pertemuan, sekaligus memberi nama patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka. Maka mereka pun melakukannya. Patung tersebut tidaklah disembah pada waktu itu. Akhirnya setelah generasi pertama mereka meninggal dan ilmu telah dilupakan, maka patung-patung tersebut akhirnya disembah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4920].
Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menukil perkataan Muhammad bin Qais dalam Tafsir-nya sebagai berikut :
كانوا قوما صالحين من بني آدم, وكان لهم أتباع يقتدون بهم, فلما ماتوا قال أصحابهم الذين كانوا يقتدون بهم: لو صوّرناهم كان أشوق لنا إلى العبادة إذا ذكرناهم, فصوّروهم, فلما ماتوا, وجاء آخرون دبّ إليهم إبليس, فقال: إنما كانوا يعبدونهم, وبهم يُسقون المطر فعبدوهم.
“Mereka (Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr) adalah kaum shalih dari bani Adam yang mempunyai banyak pengikut. Ketika mereka meninggal, maka berkatalah shahabat-shahabat dari kalangan pengikut mereka : ‘Jika kita membuat gambar-gambar mereka, maka kita akan semakin tekun beribadah ketika mengingat mereka’. Maka mereka pun membuat gambar mereka. Ketika mereka (generasi pertama) meninggal, datanglah generasi berikutnya dimana Iblis mulai melakukan tipu daya kepada mereka. Iblis berkata : ‘Orang-orang sebelum kamu membuat gambar-gambar tersebut tidak lain hanyalah untuk menyembah orang-orang shalih tersebut yang dengannya mereka meminta diturunkan hujan’. Akhirnya mereka pun menyembahnya” [Tafsir Ath-Thabari, QS. Nuh : 23-24].
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata :
وإنما صور أوائلهم الصور ليتأسوا بها ويتذكروا أعمالهم الصالحة ، فيجتهدوا كاجتهادهم ، ويعبدوا الله عند قبورهم ، ثم خلفهم قوم جهلوا مرادهم ووسوس لهم الشيطان أن أسلافهم كانوا يعبدون هذه الصور ويعظمونها . فحذر النبي صلى الله عليه وسلم عن مثل ذلك ، سداً للذريعة المؤدية إلى ذلك
“Mula-mula para pendahulu mereka membuat patung orang-orang shalih itu adalah agar dapat meneladani mereka dan mengenang mengingat perbuatan-perbuatan shalih mereka, sehingga dapat memiliki kesungguhan beribadah yang sama seperti mereka. Karenanya, mereka menyembah Allah di sisi kuburan mereka. Kemudian setelah mereka meninggal, datanglah generasi generasi yang tidak mempunyai pengetahuan cukup terhadap agama sehingga tidak mengerti maksud pendahulu mereka, lalu syaithan membisikkan pada mereka bahwa pendahulu mereka tersebut menyembah patung-patung itu dan mengagungkannya. Oleh karena itulah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang terjadinya hal demikian untuk menutup rapat-rapat segala hal yang dapat mengarah ke perbuatan tersebut (Saddu lidz-Dzari’ah)” [Lihat Fathul-Majiid hal. 218 – Maktabah Taufiqiyyah, Cairo].
Dalam kesempatan lain Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah juga berkata :
وكل ذلك لقطع الذريعة المؤدية إلى عبادة من فيها كما كان السبب في عبادة الأصنام
"Semua itu dimaksudkan untuk memutus jalan yang menjurus kepada ibadah terhadap orang yang ada di dalam kubur tersebut. Sebagaimana halnya yang terjadi pada orang-orang yang menyembah berhala" [idem, hal. 220].
Al-Imam Ibnu Baththal rahimahullah ketika menjelaskan hukum menjadikan kubur kaum muslimin sebagai masjid/tempat ibadah, menukil perkatan Al-Muhallab :
وإنما نهى عن ذلك، والله أعلم، قطعًا للذريعة ولقرب عبادتهم الأصنام واتخاذ القبور والصورة آلهة
“Sesungguhnya termasuk larangan dari hal itu wallaahu a’lam. Yaitu dikarenakan untuk memutuskan perantara dan pendekatan diri mereka dalam beribadah kepada berhala, serta memutuskan upaya menjadikan gambar dan patung sebagai tuhan” [8] [Syarhul-Bukhari li-Ibni Baththal Al-‘Ukbari 3/96].
Al-Imam As-Suyuthi dalam Ad-Durrul-Mantsur (6/269) berkata : Diriwayatkan oleh ‘Abdun bin Humaid dari Abu Muthahhir, dia bercerita di sisi Abu Ja’far (yaitu Al-Baqir) Yazib bin Al-Muhallab, dia bercerita : “Sesungguhnya dia telah terbunuh di permukaan bumi yang menjadi tempat penyembahan selain Allah”. Kemudian dia menyebutkan Wadd. Dia menyebutkan bahwa Wadd adalah seorang muslim yang sangat dicintai kaumnya. Ketika meninggal dunia, kaumnya berkumpul di sekitar kuburnya di tanah Babil. Dan mereka pun merasa kasihan padanya. Ketika Iblis mengetahui kesedihan mereka padanya, Iblis tersebut kemudian berpakaian menyerupai manusia dan kemudian berkata,”Aku tahu rasa sedih kalian terhadap orang ini. Apakah kalian mau aku buatkan gambar sesuatu yang mirip dengannya, sehingga dengan tetap berada di perkumpulan kalian, kalian bisa mengingatnya ?”. Mereka menjawab : “Mau”. Lalu Iblis membuat gambar yang mirip dengan orang shalih tersebut (Wadd), kemudian mereka meletakkannya di tempat perkumpulan mereka sambil mengingat-ingatnya. Setelah mereka selalu mengingat-ingatnya Iblis pun berkata,”Apakah kalian mau aku buatkan patung yang menyerupai wajahnya di rumah masing-masing kalian ?”. Mereka menjawab : “Mau”. Lalu Iblis pun membuatnya lagi setiap rumah satu patung yang menyerupai orang shalih tersebut. Mereka pun menyambutnya dan terus-menerus mengingat orang tersebut melalui patung itu”. Kemudian ia (Al-Baqir) menceritakan : “Anak-anak mereka pun mengetahui hal itu seraya melihat yang mereka kerjakan dengan patung itu. Hingga akhirnya mereka melahirkan banyak keturunan. Lalu, anak-anak mereka pun mempelajari cara mengingat orang shalih tersebut melalui patung itu, hingga akhirnya mereka menjadikannya sebagai ilah selain Allah” [selesai].
Dari riwayat tersebut, para ulama telah menjelaskan bahwa sebenarnya generasi pertama kaum Nuh bukanlah penyembah berhala. Namun kemudian mereka tertipu oleh Iblis/syaithan untuk membuat hal-hal yang mereka anggap dapat menyempurnakan ibadah mereka, namun ternyata malah membuka jalan ke pintu kesyirikan. Sama halnya dengan pembangunan masjid di kuburan yang diniatkan untuk ber-tabarruk dan mengenang orang-orang shalih yang telah meninggal. Mereka menganggap bahwa beribadah di masjid tersebut lebih afdlal dan lebih sempurna karena keberadaan orang shalih yang ada di liang kubur itu, dibandingkan masjid lainnya. Alasan ini mirip dengan alasan generasi pertama kaum Nuh dimana mereka membuat patung-patung hanya untuk mencari barakah dan agar mereka semakin giat dalam beribadah. Begitulah cara syaithan menjerumuskan manusia ke lembah kesyirikan. Mereka memulai dari hal-hal yang dipandang remeh di mata sebagian manusia. Bagaikan kerbau yang digembala - sedikit-demi sedikit syaithan membawa manusia ke masuk ke pintu syubhat dan bid’ah hingga akhirnya benar-benar masuk kepada kesyirikan yang nyata.
Sangatlah tepat apa yang dikatakan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berikut :
“Oleh karena itu Allah dan Rasul-Nya melarang mendirikan masjid di atas kuburan. Inilah yang pada umumnya menjerumuskan umat-umat terdahulu ke dalam syirik akbar atau yang lebih rendah daripada itu (yaitu syirik ashghar). Kesyirikan akibat mengagungkan kuburan orang yang diyakini keshalihannya lebih dekat kepada hati manusia dibandingkan syirik akibat menyembah pohon atau batu. Oleh sebab itu, kita sering menjumpai ahli syirik duduk dengan tenang dan khusyu’ di sisi kuburan melakukan ibadah yang tidak pernah mereka lakukan di rumah-rumah Allah dan di waktu sahur. Bahkan di antara mereka ada yang sujud menghadap kuburan dan (kebanyakan mereka) berharap memperoleh barakah shalat dan berdoa di sisi kubur, yang tidak pernah mereka harapkan sewaktu mereka berada di masjid. Karena mafsadah (kerusakan) inilah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memutuskan sumbernya. Bahkan dengan tegas beliau melarang shalat di kuburan sama sekali, meskipun ia tidak bermaksud mencari barakah dengan shalat di tempat itu. Jika seseorang shalat di sisi kuburan dengan tujuan untuk mendapatkan barakah dengan shalat di tempat itu, ini sesungguhnya penentangan terhadap Allah dan Rasul-Nya, meyelisihi agama-Nya, dan melaksanakan kebid’ahan yang tidak diijinkan Allah. Dan kaum muslimin telah sepakat berdasarkan apa yang mereka ketahui dengan pasti dari agama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ini bahwa shalat di sisi kubur siapapun adalah terlarang” [Iqtidlaa’ Shiraathil-Mustaqiim 2/680-681; Maktabah Ar-Rasyid].
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :
قال العلماء: إنما نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن اتخاذ قبره وقبر غيره مسجداً خوفاً من المبالغة في تعظيمه والافتتان به،
“Para ulama telah berkata bahwa larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menjadikan kubur beliau dan kubur yang lainnya sebagai masjid/tempat ibadah hanyalah dikarenakan kekhawatiran beliau dari berlebih-lebihannya (kaum muslimin) dalam mengagungkannya dan terfitnah dengannya” [Syarah Shahih Muslim lin-Nawawi Bab An-Nahyi ‘an Banaail-Masaajid ‘alal-Qubuur wa Ittikhaadzish-Shuwari fiiha wan-Nahyi ‘an Ittikhaadzil-Qubuuri Masajid].
Maka, sangatlah mengherankan jika Saudara mengklaim bahwa kaum muslimin yang pro dengan pendapat Saudara itu tidak ada (atau sedikit menurut bahasa yang Saudara pakai) yang melakukan kesyirikan ketika beribadah di masjid komplek pekuburan. Selain niat tabarruk itu sendiri sudah bermasalah (sebagaimana telah dijelaskan dalam uraian sebelumnya), tindakan mendirikan masjid di kuburan orang (yang dianggap) shalih itu sendiri merupakan muqaddimah menuju kesyirikan. Kenyataannya, orang yang melakukan kesyirikan di masjid-masjid komplek pekuburan itu saat ini jumlahnya tidaklah sedikit. Banyak orang yang meminta pelancar rejeki, dibereskan urusan, dipercepat jodoh, dan yang semisal kepada kubur orang-orang yang dianggap Wali. Ya…. habis shalat di masjid, disusul ngalap berkah, dan sekalian ngadep ke “almarhum Kyai Anu” untuk mengabulkan permintaan. Tidak lupa tersedia/terjual ayam sembelihan, bunga tujuh rupa, kitab mujarobat kubra, dan lain-lain. Pak imam yang juga merangkap juru kunci makam pun siap menjadi mediator tawassul-an bagi para pengunjung kepada “almarhum Kyai Anu”. Benar-benar one stop praying. Paket lengkap !!!
Dalil inti yang dapat dijadikan argument diskusi dengan pengikut Wahaby dalam masalah pelarangan membangun masjid di sisi makam para manusia Saleh adalah ayat dan prilaku Salaf Saleh. Di sini akan kita sebutkan beberapa dalil saja untuk meringkas pembahasan.
Dalam ayat 21 dari surat al-Kahfi disebutkan: “Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. orang-orang yang berkasa atas urusan mereka berata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya””. Jelas sekali bahwa mayoritas masyarakat ahli tauhid (monoteis) kala itu sepakat untuk membangun masjid di sisi makam para penghuni gua (Ashabul-Kahfi). Tentu kaum Wahaby pun sepakat dengan kaum muslimin lainnya bahwa al-Quran bukan hanya sekedar kitab cerita yang hanya begitu saja menceritakan peristiwa-peristiwa menarik zaman dahulu tanpa memuat ajaran untuk dijadikan pedoman hidup kaum muslimin. Jika kisah pembuatan masjid di sisi makam Ashabul-Kahfi merupakan perbuatan syirik maka pasti Allah swt menyindir dan mengkritik hal itu dalam lanjutan kisah al-Quran tadi, karena syirik adalah perbuatan yang paling dibenci oleh Allah swt. Namun terbukti Allah swt tidak melakukan peneguran baik secara langsung maupun secara tidak langsung (sindiran). Atas dasar itu pula terbukti para ulama tafsir Ahlusunah menyatakan bahwa para penguasa kala itu adalah orang-orang yang bertauhid kepada Allah swt, bukan kaum musyrik penyembah kuburan (Quburiyuun), istilah yang sering dipakai kaum Wahaby untuk menyerang kaum muslimin yang menghormati makam para wali Allah. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh az-Zamakhsari dalam kitab Tafsir al-Kassyaf jilid 2 halaman 245, Fakhrurrazi dalam kitab Mafatihul Ghaib jilid 21 halaman 105, Abu Hayyan al-Andalusy dalam kitab al-Bahrul Muhith dalam menjelaskan ayat 21 dari surat al-Kahfi tadi dan Abu Sa’ud dalam kitab Tafsir Abi Sa’ud jilid 5 halaman 215.
Kita jawab alasan tersebut dari dua sisi sebagai berikut :
1. Telah masyhur dalam kaidah Ushul tentang { أن شريعة من قبلنا ليست شريعة لنا} “Syari’at orang-orang sebelum kita pada asalnya tidaklah menjadi syari’at kita”. [9] Apalagi jika itu bertentangan secara jelas dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Syari’at orang-orang sebelum kita hanyalah bisa kita terima jika memang sesuai dan tidak bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
Banyak sekali nash-nash dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskannya. Satu contoh : Allah telah menetapkan hari Sabtu untuk orang Yahudi sebagai hari beribadah, sebagaimana firman-Nya :
إِنّمَا جُعِلَ السّبْتُ عَلَىَ الّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ
Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya. [QS. An-Nahl : 124].
Jika mengikuti alur logika Saudara, tentu kita juga wajib untuk mengagungkan hari Sabtu. Sebab, ini merupakan firman dan perintah dari Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an. Namun,….. apakah memang begini pola berpikirnya ? Kewajiban tersebut telah mansukh dan tidak berlaku bagi umat Islam, sebab Allah telah menetapkan hari khusus bagi umat Islam, yaitu hari Jum’at.
Begitu pula untuk kasus pendirian masjid di atas kuburan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan bahwa hal itu bukan merupakan syari’at Islam dengan sabdanya :
عن الحارث النجراني قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم قبل أن يموت بخمس وهو يقول : "ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد ، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد إني أنهاكم عن ذلك "
Dari Al-Harits An-Najrani dia bercerita : Aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wasiat lima hari sebelum wafat : “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para Nabi mereka dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Maka, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesunguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/374-375; shahih sesuai persyaratan Muslim].
2. Jikalau Saudara menolak jawaban kami di point 1, maka dalam ayat tersebut juga tidak ada pernyataan secara tegas bahwa pembangunan masjid itu merupakan syari’at dan perintah dari Allah atau merupakan tindakan raja/penguasa semata. Perhatikan secara cermat ayat tersebut :
وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوَاْ أَنّ وَعْدَ اللّهِ حَقّ وَأَنّ السّاعَةَ لاَ رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُواْ ابْنُواْ عَلَيْهِمْ بُنْيَاناً رّبّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الّذِينَ غَلَبُواْ عَلَىَ أَمْرِهِمْ لَنَتّخِذَنّ عَلَيْهِمْ مّسْجِداً
Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: "Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka." Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya." [QS. Al-Kahfi : 21].
Ayat tersebut mengandung ihtimal (kemungkinan) bahwa orang yang berniat dan memerintahkan untuk membangun masjid di atas goa tempat kubur para pemuda Ashaabul-Kahfi adalah orang-orang kafir di jaman itu. Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas menukil perkataan Ibnu Jarir Ath-Thabari bahwa ada dua pendapat mengenai status orang-orang tersebut : Pertama, mereka adalah orang-orang Islam di antara mereka; dan Kedua, mereka adalah orang-orang musyrik di antara mereka. Dan di sini, kemungkinan kedua lah yang nampaknya lebih kuat. Hal ini didasari oleh dalil tentang laknat Allah kepada orang Yahudi :
عن أبي هريرة : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (قاتل الله اليهود، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد)
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Semoga Allah memerangi (mengutuk) orang-orang Yahudi dimana mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 437, Muslim no. 530, Abu Dawud no. 3227, An-Nasa’iy 4/95, Abu Ya’laa no. 5844, Ahmad 2/284, dan yang lainnya].
Dalam hadits di atas (juga hadits-hadits lain sebagaimana telah dituliskan sebelumnya) nampak bahwa larangan menjadikan kubur sebagai masjid (tempat peribadatan) telah ada semenjak jaman para Nabi diutus kepada orang Yahudi. Dan ini tentu jauh sebelum jaman Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Maka dari itu Al-Hafidh Ibnu Rajab Al-Hanbaly rahimahullah ketika menjelaskan hadits pelaknatan Allah kepada kaum Yahudi yang telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid; mengatakan :
وقد دل القرآن على مثل ما دل عليه هذا الحديث ، وهو قول الله عزوجل في قصة أصحاب الكهف :{ قال الذين غلبوا على أمرهم لنتخذن عليهم مسجداً } فجعل اتخاذ القبور على المساجد من فعل أهل الغلبة على الأمور ، وذلك يشعر بان مستنده القهر والغلبة واتباع الهوى وأنه ليس من فعل أهل العلم والفضل المنتصر لما أنزل الله على رسله من الهدى
“Al-Qur’an juga telah menunjukkan seperti apa yang ditunjukkan oleh hadits ini, yaitu firman Allah ‘azza wa jalla tentang kisah Ashhaabul-Kahfi : “Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya” (QS. Al-Kahfi : 21). Dengan demikian, Allah ‘azza wa jalla telah mengkatagorikan tindakan menjadikan kubur sebagai masjid merupakan perbuatan orang-orang yang berkuasa mengendalikan urusan. Dan itu menunjukkan bahwa sandarannya adalah pemaksaan dan kekuasaan serta ketundukan terhadap hawa nafsu. Hal itu bukan merupakan perbuatan ulama yang selalu mendapatkan pertolongan Allah, dimana Allah telah menurunkan beberapa petunjuk-Nya kepada Rasul-Nya” [Fathul-Baari bi-Syarhil-Bukhari 65/280 oleh Ibnu Rajab Al-Hanbaly – melalui perantara Tahdziirus-Saajid hal. 42].
Itu saja yang dapat dituliskan. Lebih kurangnya mohon maaf.
Wallaaahu ta’ala a’lam.
Semoga ada manfaatnya.
[1] Tafsir Al-Qurthubi (4/139).
[2] Dikecualikan dengan air zam-zam, sebab ada dalil shahih yang menyebutkan tentang keutamaannya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
خَيْرُ الْمَاءِ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ...
“Sebaik-baik air yang ada di muka bumi adalah air zam-zam” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir 11/98; hasan].
[3] Dikecualikan atas shalat jenazah bagi orang yang tidak sempat menshalatkannya. Diperbolehkan baginya shalat jenazah di kubur jenazah tersebut dengan dalil hadits Abdullah bin ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata :
مات إنسان، كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعوده، فمات بالليل، فدفنوه ليلا، فلما أصبح أخبروه، فقال: (ما منعكم أن تعلموني). قالوا: كان الليل فكرهنا، وكانت ظلمة، أن نشق عليك، فأتى قبره فصلى عليه.
“Ada seseorang meninggal dunia di malam hari – yang Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam telah menjenguknya – lalu mereka menguburkannya di malam hari. Dan pada pagi harinya mereka memberitahu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bertanya : ‘Apa yang menghalangi kalian untuk memberitahuku ?’. Mereka menjawab : “Waktunya sudah malam lagi sangat gelap, sehingga kami tidak ingin menyusahkanmu”. Kemudian beliau mendatangi kuburannya dan kemudian menshalatinya (yaitu shalat jenazah)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1247 dan Ibnu Majah no. 1530].
Para ulama telah menjelaskan bahwa shalat jenazah diperbolehkan di masjid karena pada shalat tersebut tidak terdapat rukuk dan sujud.
[4] Adapun klaim sebagian orang di beberapa negara yang mengaku punya beberapa helai rambut, pakaian, dan yang lainnya dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka ini klaim-klaim yang tidak benar.
[5] Di antara tokohnya adalah Muhammad Alawi Abbas, Yusuf Sahid Hasyim Ar-Rifa’i, Muhammad Amin Al-Kurdi, Al-Buthi, dan yang lainnya.
[6] Apalagi lebih dari satu kubur !!
[7] Silakan lihat selengkapnya dalam QS. Al-Israa’ : 23-38.
[8] Akan tetapi di sini Al-Muhallab mengatakan bahwa terdapat keluasan dimana seseorang dapat berpaling ke arah kanan atau kiri dari tempatnya (agar tidak menghadap ke kubur), karena menghadap ke shalat kubur dapat membuat shalat tidak sah. Dan yang benar, adalah tetap tidak diperbolehkan shalat walaupun ia berada di sisi kubur karena telah tetap larangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk tidak shalat di antara kubur (walau tidak menghadap ke kubur) sebagaimana telah disebutkan di atas.
[9] Salah satunya bisa ditengok dalam kitab Al-Ihkaam karya Ibnu Hazm.
Artikel ini disalin dari
www.abul-jauzaa.blogspot.com
Prolog : Tulisan ini sebenarnya adalah dialog saya (dalam bentuk tulisan) bersama seseorang beberapa tahun lalu dalam pembahasan seputar kuburan dan masjid. Terpikir kemudian untuk me-repro di blog ini dialog tersebut dengan beberapa perbaikan dan koreksi seperlunya. Semoga ada manfaatnya.
Salah satu keyakinan Ahlusunah yang mempunyai dasar dalil al-Quran, as-Sunnah dan prilaku Salaf Saleh yang dituduhkan sebagai prilaku syirik oleh kelompok Wahaby (Salafy) adalah tentang diperbolehkannya membangun masjid di sisi kuburan para rasul, nabi dan waliyullah. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan (fatwa) oleh Ibnu Taimiyah –yang kemudian diikuti (secara taklid buta) oleh segenap kelompok Wahaby- sebagaimana yang tercantum dalam kitab al-Qaidah al-Jalilah halaman 22. Ibn Taimiyah mengatakan: “Nabi melarang menjadikan kuburannya sebagai masjid, yaitu tidak memperbolehkan seseorang pada waktu-waktu shalat untuk mendatangi, shalat dan berdoa di sisi kuburan-nya, walaupun dengan maksud beribadah untuk Allah sekalipun. Hal itu dikarenakan tempat-tempat semacam itu menjadi sarana untuk perbuatan syirik. Yaitu boleh jadi nanti mengakibatkan seseorang melakukan doa dan shalat untuk ahli kubur dengan mengagungkan dan menghormatinya. Atas dasar itu maka membangun masjid di sisi kuburan para waliyullah merupakan perbuatan haram. Oleh karenanya walaupun pembangunan masjid itu sendiri merupakan sesuatu yang ditekankan namun dikarenakan perbuatan seperti tadi dapat menjerumuskan seseorang ke dalam prilaku syirik maka hukumnya secara mutlak haram”.
Saya heran kepada Saudara yang tidak segan-segan mengklaim bahwa keyakinan tentang masyru’-nya membangun masjid di kubur merupakan keyakinan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Larangan membangun masjid di sisi kuburan ini tidaklah hanya dikatakan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah - yang kemudian diikuti oleh kaum “Wahabi”. Banyak ulama semisal dengan beliau memperingatkan hal yang sama.
O iya,…. sebelumnya, ada analisis yang keliru antara apa yang diomongkan dengan kenyataan yang ada di lapangan. Saudara dengan begitu percaya dirinya mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh para pengagum kubur itu adalah membangun masjid di sisi kuburan saja. Tapi pada kenyataannya lebih dari sekedar itu !! Bahkan benar-benar membangun masjid di atas kubur ! Tidak usah kita pungkiri dan kita tutup-tutupi kenyataan ini. Beberapa masjid di dalam dan luar Indonesia pun membuktikannya. Mudah kita cari informasinya. Di internet pun banyak. Ada pula diantaranya yang meletakkan kuburan di kiblat masjid (persis di depan mihrab imam). Saya kira saya tidak perlu menyebutkan satu persatu contohnya di sini.
Apa dalil dari ungkapan Ibnu Taimiyah di atas? Memang Ibnu Taimiyah menyandarkan fatwanya tadi dengan hadis-hadis yang diriwayatkan dalam beberapa kitab Ahlusunah. Namun sayangnya ia tidak memiliki analisa dan penerapan yang tepat dan bagus dalam memahami hadis-hadis tadi sehingga menyebabkannya terjerumus ke dalam kejumudan (kaku) dalam menerapkannya. Selain pemahaman Ibnu Taimiyah terhadap hadis-hadis tadi terlampau kaku, juga tidak sesuai dengan ayat al-Quran, as-Sunnah dan prilaku Salaf Saleh.
Ibnu Taimiyah menyandarkan fatwanya tadi dengan hadis-hadis seperti:
Pertama: Rasulullah bersabda: “Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani dikarenakan mereka telah menjadikan kubur para nabinya sebagai tempat ibadah”. (lihat kitab Shahih Bukhari jilid 2 halaman 111 dalam kitab al-Jana’iz (jenazah-jenazah), hadis serupa juga dapat ditemukan dalam kitab Sunan an-Nas’i jilid 2 halaman 871 kitab al-Jana’iz)
Kedua: Sewaktu Ummu Habibah dan Ummu Salamah menemui Rasulullah dan berbincang-bincang tentang tempat ibadah (baca: gereja) yang pernah dilihatnya di Habasyah, lantas Rasul bersabda: “Mereka adalah kaum yang setiap ada orang saleh dari mereka yang meninggal niscaya mereka akan membangun tempat ibadah di atasnya dan mereka pun menghadapkan mukanya ke situ. Mereka di akherat kelak tergolong makhluk yang buruk di sisi Allah”. (lihat kitab Shahih Muslim jilid 2 halaman 66 kitab al-Masajid)
Ketiga: Dari Jundab bin Abdullah al-Bajli yang mengatakan; aku mendengar lima hari sebelum Rasul meninggal, beliau bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya sebelum kalian terdapat kaum yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah. Namun janganlah kalian melakukan semacam itu. Aku ingatkan hal tersebut pada kalian”. (lihat kitab Shahih Muslim jilid 1 halaman 378)
Keempat: Diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau pernah bermunajat kepada Allah swt dengan mengatakan: “Ya Allah, jangan Kau jadikan kuburku sebagai tempat penyembahan berhala. Allah melaknat kaum yang menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat ibadah”. (lihat kitab Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 2 halaman 246)
Ini adalah riwayat-riwayat yang dijadikan dalil para pengikut Wahaby untuk mengatakan syirik terhadap kaum Ahlusunah –termasuk di Indonesia- yang ingin membangun masjid di sisi kubur para kekasih Allah (waliyullah). Di Indonesia para Salafy gadungan tadi mengejek dan menghinakan kuburan para sunan (dari Wali Songo) yang rata-rata di sisi kubur mereka terdapat bangunan yang disebut masjid. Lantas apakah benar bahwa hadis-hadis itu mengandung larangan pelarangan pembuatan masjid di sisi kubur para waliyullah secara mutlak? Di sini kita akan kita telaah dan kritisi cara berdalil kaum Wahaby dalam menggunakan hadis-hadis sahih tadi sebagai sandarannya.
Perlu Saudara diketahui bahwa bukan hanya itu saja yang dijadikan dalil tentang pengharaman membangun masjid di atas atau di sisi kubur. Akan saya sebut secara lebih lengkap :
1. Hadits ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa :
عن عائشة رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في مرضه الذي لم يقم منه : "لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد " . قالت : فلو لا ذاك أبرز قبره غير أنه خُشي أن يتخذ مسجداً
Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sakit dan dalam keadaan berbaring : “Allah telah melaknat Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid”. Aku (‘Aisyah) berkata : “Kalau bukan karena takut (laknat) itu, niscaya kuburan beliau ditempatkan di tempat terbuka. Hanya saja beliau takut kuburannya itu akan dijadikan sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1330, Muslim no. 529, Ahmad 6/80 & 121 & 255, Ibnu Abi Syaibah 2/376, Abu ‘Awaanah 1/399, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 508, Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 13/52 & 183, Ath-Thabaraniy dalam Al-Ausath no. 7730, dan yang lainnya].
2. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :
عن أبي هريرة : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (قاتل الله اليهود، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد)
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Semoga Allah memerangi (mengutuk) orang-orang Yahudi dimana mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 437, Muslim no. 530, Abu Dawud no. 3227, An-Nasa’iy 4/95, Abu Ya’laa no. 5844, Ahmad 2/284, dan yang lainnya].
3. Hadits ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhum :
عن عائشة وعبد الله بن عباس قالا: لما نزل رسول الله صلى الله عليه وسلم، طفق يطرح خميصة له على وجهه، فإذا اغتم بها كشفها عن وجهه، فقال وهو كذلك: (لعنة الله على اليهود والنصارى، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد). يحذر ما صنعوا.
Dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas, mereka berdua berkata : Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kesehatannya menurun pada saat-saat akhir hidupnya, beliau menutupkan kain khamishah-nya (selimut wolnya) pada wajahnya, namun beliau melepas kain tersebut dari wajahnya ketika bapasnya semakin terganggu seraya bersabda : “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashrani dimana mereka telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid”. Aisyah berkata : “Beliau memperingatkan agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 435 & 436, Muslim no. 531, Ibnu Hibban no. 6619, Abu ‘Awaanah 1/399, An-Nasa’i 1/115; dan yang lainnya].
Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentang hadits di atas :
وكأنه صلى الله عليه وسلم علم أنه مرتحل من ذلك المرض ، فخاف أن يعظم قبره كما فعل من مضى ، فلعن اليهود والنصارى إشارة إلى ذم من يفعل فعلهم
“Seakan-akan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui bahwa beliau akan wafat melalui sakit yang beliau derita, sehingga beliau khawatir kubur beliau akan diagung-agungkan seperti yang telah dilakukan orang-orang terdahulu. Oleh karena itu, beliau melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai isyarat yang menunjukkan celaan bagi orang yang berbuat seperti perbuatan mereka” [Fathul-Baariy, 1/532].
4. Hadits ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa :
عن عائشة رضي الله عنها قالت : لما كان مرض النبي صلى الله عليه وسلم تذاكر بعض نسائه كنيسة بأرض الحبشة يقال لها : مارية ـ وقد كانت أم سلمة وأم حبيبة قد أتتا أرض الحبشة ـ فذكرن من حسنها وتصاويرها قالت: [ فرفع النبي صلى الله عليه وسلم رأسه ] فقال :" أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح بنوا على قبره مسجداً ، ثم صوروا تلك الصور ، أولئك شرار الخلق عند الله [ يوم القيامة ]
Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam jatuh sakit, maka beberapa orang istri beliau sempat membicarakan tentang sebuah gereja yang terdapat di negeri Habasyah (Ethiopia) yang diberi nama : Gereja Maria – dimana Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah mendatangi negeri Habasyah -, kemudian mereka (sebagian istri Nabi) membicarakan keindahan gereja dan gambar-gambar yang terdapat di dalamnya. ‘Aisyah bercerita : “(Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya) seraya bersabda : ‘Mereka itu adalah orang-orang yang apabila orang shalih mereka meninggal dunia, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya tersebut, lalu menggambar dengan gambar-gambar tersebut. Mereka itu adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah pada hari kiamat” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 434, Muslim 528, Abu ‘Awaanah 1/400-401, Ibnu Hibban no. 3181, An-Nasa’i 2/41, Al-Baihaqiy 4/80; dan yang lainnya].
5. Hadits Jundub bin Abdillah Al-Bajaly radliyallaahu ‘anhu :
عن جندب بن عبد الله البجلي أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم قبل أن يموت بخمس وهو يقول : " قد كان لي فيكم إخوة وأصدقاء ، وإني أبراء إلى الله أن يكون لي فيكم خليل ، وإن الله عز وجل قد اتخذني خليلاً كما تخذ إبراهيم خليلاً ، ولو كنت متخذا من أمتي خليلاً ، لاتخذت أبا بكر خليلاً ، ألا [ وإن ] من كان قبلكم [ كانوا ] يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد ، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد ، فإني أنهاكم عن ذلك "
Dari Jundub bin Abdillah Al-Bajaly radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya dia pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda lima hari sebelum hari wafatnya : “Aku memiliki beberapa saudara dan teman di antara kalian. Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Allah dari memiliki kekasih (khalil) di antara kalian. Dan sesungguhnya Allah telah menjadikan diriku sebagai kekasih sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Seandainya aku boleh mengambil kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Dan ketahuilah, (sesungguhnya) orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para nabi mereka dan orang-orang shalih diantara mereka sebagai masjid. Janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal itu” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 532 dan Abu ‘Awanah 1/401].
6. Hadits Al-Harits An-Najrani radliyallaahu ‘anhu :
عن الحارث النجراني قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم قبل أن يموت بخمس وهو يقول : "ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد ، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد إني أنهاكم عن ذلك "
Dari Al-Harits An-Najrani dia bercerita : Aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wasiat lima hari sebelum wafat : “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para Nabi mereka dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Maka, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesunguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/374-375; shahih sesuai persyaratan Muslim].
7. Hadits Usamah bin Zaid radliyallaahu ‘anhuma :
عن أسامة بن زيد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال في مرضه الذي مات فيه : " أدخلوا علي أصحابي". فدخلوا عليه وهو متقنع ببردة معافريّ ، [ فكشف القناع ] فقال : " لعن الله اليهود [ والنصارى ] اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد"
Dari Usamah bin Zaid radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menderita sakit yang menyebabkan wafatnya beliau : “Masuklah wahai para shahabatku”. Maka mereka masuk sedangkan beliau dalam keadaan tertutup selimut mu’afir. (Lalu beliau membukanya) dan bersabda : “Allah telah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi no. 669; Ahmad 5/204; Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir no. 393 & 411, Ibnu Sa’d 2/241, Al-Haakim 4/194, dan yang lainnya; hasan dengan syawaahid-nya].
8. Hadits Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah radliyallaahu ‘anhu :
عن أبي عبيدة قال : آخر ما تكلم به النبي صلى الله عليه وسلم اخرجوا يهود أهل الحجاز وأهل نجران من جزيرة العرب واعلموا ان شرار الناس الذين اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد
Dari Abu ‘Ubaidah ia berkata : “Kalimat terakhir yang diucapkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah : ‘Usirlah kaum Yahudi Hijaz dan Najran dari Jazirah ‘Arab. Ketahuilah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/195 no. 1691 & 1694; Al-Bukhari dalam At-Taariikh Al-Kabiir 4/57, Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Aahaadul-Matsaaniy no. 235-236, Abu Ya’laa Ath-Thahawi dalam Musykilul-Atsar 4/13; Abu Ya’la no. 872, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar 4/12, dan yang lainnya; shahih].
9. Hadits Zaid bin Tsabit radliyallaahu ‘anhu :
عن زيد بن ثابت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : لعن الله اليهود اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد
Dari Zaid bin Tsabit radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Allah telah melaknat orang-orang Yahudi yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Ahmad 5/184 & 186 dan ‘Abd bin Humaid no. 244; shahih dengan syawahid-nya].
10. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :
عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم : اللهم لا تجعل قبرى وثنا لعن الله قوما اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (beliau bersabda) : “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala. Allah melaknat kaum yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/246, Al-Humaidiy no. 1020, Ibnu Sa’d 2/241-242, Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 5/43-44, Al-Bukhari dalam At-Taariikh Al-Kabiir 3/47, dan yang lainnya; shahih].
Al-Haafidh Ibnu Rajab Al-Hanbaly menukil perkataan Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahumallah dalam kitab Al-Kawaakibud-Daraari :
الوثن الصنم ، يقول : لا تجعل قبري صنماً يصلى ويسجد نحوه ويعبد ، فقد اشتد غضب الله على من فعل ذلك ، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يحذر أصحابه وسائر أمته من سوء صنيع الأمم قبلهم ، الذين صلوا إلى قبور أنبيائهم ، واتخذوها قبلة ومسجداً ، كما صنعت الوثنية بالأوثان التي كانوا يسجدون إليها ويعظمونها ، وذلك الشرك الأكبر ، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يخبرهم بما في ذلك من سخط الله وغضبه ، وأنه مما لا يرضاه ، خشية عليهم من امتثال طرقهم ، وكان صلى الله عليه وسلم يحب مخالفة أهل الكتاب وسائر الكفار ، وكان يخاف على أمته اتباعهم ، ألا ترى إلى قوله صلى الله عليه وسلم على جهة التعبير والتوبيخ " لتتبعن سنن الذين كانوا من قبلكم حذوا النعل بالنعل ، حتى إن أحدهم لو دخل جحر ضب لدخلتموه ؟".
“Al-Watsan itu maknanya patung. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai patung/berhala yang menjadi kiblat shalat, tempat bersujud, juga tempat beribadah”. Dan Allah sangat murka kepada orang yang melakukan hal tersebut. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memperingatkan para shahabat dan seluruh umatnya tentang perbuatan buruk umat-umat terdahulu, karena mereka shalat menghadap kuburan para Nabi mereka serta menjadikannya sebagai kiblat dan masjid. Sebagaimana penyembah berhala yang menjadikan berhala sebagai objek sesembahan yang diagungkan. Perbuatan tersebut merupakan syirik akbar. Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa perbuatan tersebut mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah ta’ala dan Dia tidak akan pernah meridlainya. Hal tersebut disampaikan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena beliau khawatir umatnya akan meniru perbuatan mereka. Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam senantiasa memperingatkan umatnya agar tidak menyerupai Ahlul-Kitaab dan orang-orang kafir. Dan beliau juga khawatir bila umatnya akan mengikuti jejak mereka. Tidakkah engkau mengetahui sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengungkaokan celaan dan kemarahan : “Sungguh kalian akan mengikuti jejak-jejak orang sebelum kalian sama persis, setapak demi setapak; sehingga salah seorang dari mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan memasukinya pula” [Fathul-Baariy oleh Ibnu Rajab Al-Hanbaly 2/90/65 – melalui perantaraan Tahdziirus-Saajid].
11. Hadits Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu :
عن عبد الله قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ان من شرار الناس من تدركه الساعة وهم أحياء ومن يتخذ القبور مساجد
Dari Abdullah (bin Mas’ud) ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya sejelek-jelek manusia adalah orang yang menjumpai hari kiamat saat masih hidup, dan juga orang yang menjadikan kubur sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/405 & 435, Ath-Thabaraniy no. 10413, Ibnu Abi Syaibah 3/345, Al-Bazzaar no. 3420, Abu Ya’laa no. 5316, Ibnu Khuzaimah no. 789, Ibnu Hibbaan no. 6847, dan yang lainnya; hasan].
12. Hadits ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu :
عن علي بن أبي طالب قال : " لقيني العباس فقال : يا علي انطلق بنا إلى النبي صلى الله عليه وسلم فإن كان لنا من لأمر شئ وإلا أوصى بنا الناس ، فدخلنا عليه ، وهو مغمى عليه ، فرفع رأسه فقال : " لعن الله اليهود اتخذوا قبور لأنبياء مساجد " . زاد في رواية : " ثم قالها الثالثة " . فلما رأينا ما به خرجنا ولم نسأله عن شئ
Dari Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Al-‘Abbas radliyallaahu ‘anhu pernah menemuiku seraya berkata : ‘Wahai ‘Ali, mari ikut kami mengunjungi para Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mungkin ada sesuatu hal yang perlu kita tanyakan. Kalau tidak, beliau akan memberikan wasiat kepada orang-orang melalui kita’. Kemudian kami masuk menemui beliau, sedangkan beliau dalam keadaan berbaring karena sakit. Lalu beliau mengangkat kepalanya : “Allah telah melaknat orang-orang Yahudi yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid “. Dalam sebuah riwayat ditambahkan : “Kemudian beliau mengatakan yang ketiga kalinya. Dan ketika kami melihat apa yang terjadi pada beliau, maka kami pun keluar dan tidak menanyakan sesuatu pun kepada beliau” [HR. Ibnu Sa’ad 4/28 dan Ibnu ‘Asaakir 12/172/2; hasan].
13. Hadits Ummahatul-Mukminin radliyallaahu ‘anhunna :
عن أمهات المؤمنين أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا : كيف نبني قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ أنجعله مسجداً ؟ فقال أبو بكر الصديق : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد
Dari Ummahatul-Mukminiin : Bahwasannya para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya : “Bagaimana kami harus membangun kubur Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, apakah kami boleh menjadikannya sebagai masjid ?”. Maka Abu Bakar menjawab : “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” [HR. Ibnu Zanjawaih dalam kitab Fadlaailush-Shiddiq sebagaimana disebutkan dalam Al-Jamii’ul-Kabiir 3/147/1].
Itu diantara hadits-hadits yang terkait dengan larangan keras membangun masjid di atas kuburan atau menjadikan kuburan sebagai masjid. Masih ada hadits lain yang akan dituliskan di bawah. Jika kita perhatikan dengan seksama, sangat jelas menunjukkan hadits-hadits tersebut di atas berisi larangan sekaligus celaan siapa saja yang membangun masjid di sisi/atas kubur.
Ada beberapa poin yang harus diperhatikan dalam mengkritisi dalil kaum Wahaby yang menjadikan hadis-hadis tadi sebagai pelarangan pembangunan kubur di sisi kubur waliyullah secara mutlak:
(A) Untuk memahami hadis-hadis tadi maka kita harus memahami terlebih dahulu tujuan kaum Yahudi dan Nasrani dari pembikinan tempat ibadah di sisi para manusia saleh mereka tadi. Dikarenakan melihat “tujuan buruk” kaum Yahudi dan Nasrani dalam membangun tempat ibadah di sisi kuburan itulah maka keluarlah larangan Rasul. Dari hadis-hadis tadi dapat diambil suatu pelajaran bahwa kaum Yahudi dan Nasrani telah menjadikan kuburan para nabi dan manusia saleh dari mereka bukan hanya sebagai tempat ibadah melainkan sekaligus sebagai kiblat (arah ibadah). Ke arah kuburan itulah mereka menghadapkan muka mereka sewaktu bersujud. Hakekat prilaku inilah yang meniscayakan sama hukumnya dengan menyembah kuburan-kuburan itu. Inilah yang dilarang dengan tegas oleh Rasululah Muhammad saw.
Jadi jika seorang muslim membangun masjid di sisi kuburan seorang waliyullah sekedar untuk mengambil berkah (Tabarruk) dari tempat tersebut dan sewaktu ia melakukan shalat tidak ada niatan sedikitpun untuk mengagungkan kubur tadi maka hal ini tidak bertentangan dengan hadis-hadis di atas tadi, terkhusus hadis dari Ummu Salamah dan Ummu Habibah yang menjelaskan kekhususan kaum Yahudi dan Nasrani dalam menjadikan kubur manusia saleh dari mereka sebagai tempat ibadah.
Al-Baidhawi dalam mensyarahi hadis tadi menyatakan: “Hal itu dikarenakan kaum Yahudi dan Nasrani selalu mengagungkan kubur para nabi dengan melakukan sujud dan menjadikannya sebagai kiblat (arah ibadah). Atas dasar inilah akhirnya kaum muslimin dilarang untuk melakukan hal yang sama dikarenakan perbuatan ini merupakan perbuatan syirik yang nyata. Namun jika masjid dibangun di sisi kuburan seorang hamba saleh dengan niatan ber-tabarruk (mencari berkah) maka pelarangan hadis tadi tidak dapat diterapkan padanya”. Hal serupa juga dinyatakan oleh As-Sanadi dalam mensyarahi kitab Sunan an-Nasa’i jilid 2 halaman 41 dimana ia menyatakan: “Nabi melarang umatnya untuk melakukan perbuatan yang mirip prilaku Yahudi dan Nasrani dalam memperlakukan kuburan para nabi mereka, baik dengan menjadikannya sebagai tempat sujud dan tempat pengagungan maupun arah kiblat dimana mereka akan menghadapkan wajahnya ke arahnya (kubur) sewaktu ibadah”.
Dalam pernyataan di atas secara eksplisit Saudara telah mengakui dua yang telah dilakukan orang-orang Yahudi dan Nashrani terkait membangun masjid di atas kubur :
1. Dijadikan sebagai tempat ibadah
2. Dijadikan sebagai kiblat (arah ibadah)
Ini tergambar jelas dalam perkataan Saudara : ” Dari hadis-hadis tadi dapat diambil suatu pelajaran bahwa kaum Yahudi dan Nasrani telah menjadikan kuburan para nabi dan manusia saleh dari mereka bukan hanya sebagai tempat ibadah melainkan sekaligus sebagai kiblat (arah ibadah)”.
Dua hal inilah yang menjadi sebab pelarangan. [sebenarnya larangan ini tidaklah sebatas pada arah kiblat, sebagaimana akan dijelaskan kemudian]. Kemudian alasan Saudara bahwa perbuatan itu diperbolehkan dengan alasan tabarruk, maka saya tanggapi sebagai berikut :
Tabarruk (Mencari Berkah)
Al-barakah (اْلبَرَكَةُ) yang bentuk jamaknya al-barakaat (اْلبَرَكَاتُ) maknanya adalah kebaikan yang melimpah (كََثْرَةُ اْلخَيْرِ) [1]. Adapun tabarruk (التَّبَرُّكُ) merupakan mashdar dari تَبَرَّكَ - يَتَبَرَّكُ , yang artinya adalah mengharapkan barakah (طَلَبُ اْلبَرَكَةَ). Dan tabarruk dengan sesuatu artinya adalah mengharapkan keberkahan dengan perantaraan sesuatu tersebut.
Sesungguhnya kebaikan dan barakah ada di tangan Allah ta’ala. Dia memberi kekhususan kepada sebagian makhluk-Nya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya untuk mendapatkan kebaikan, keutamaan, karunia, dan keberkahan dari-Nya; seperti para Rasul, Nabi, Malaikat, dan sebagian orang-orang shalih.
Beberapa point penting yang terkait dengan tabarruk (mencari barakah) yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
1. Sesungguhnya semua barakah itu berasal dari Allah, sebagaimana halnya rizki, pertolongan, dan kesehatan. Dia memberi kekhususan kepada sebagian makhluk-Nya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya untuk mendapatkan kebaikan, keutamaan, karunia, dan keberkahan dari-Nya; seperti para Rasul, Nabi, Malaikat, dan sebagian orang-orang shalih.
Allah ta’ala berfirman :
إِنّ اللّهَ اصْطَفَىَ آدَمَ وَنُوحاً وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” [QS. Ali-‘Imran : 33].
تِلْكَ الرّسُلُ فَضّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىَ بَعْضٍ مّنْهُمْ مّن كَلّمَ اللّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيّنَاتِ وَأَيّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus” [QS. Al-Baqarah : 253].
وَبَشّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيّاً مّنَ الصّالِحِينَ * وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَىَ إِسْحَاقَ
“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq.” [QS. Ash-Shaaffat : 112-113].
Kita tidak boleh meminta barakah kecuali dari Allah, karena Dia-lah pemberi barakah. Allah ta’ala berfirman :
قُلِ اللّهُمّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمّنْ تَشَآءُ وَتُعِزّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلّ مَن تَشَآءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنّكَ عَلَىَ كُلّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [QS. Ali-‘Imran : 26].
عن عبد الله قال: كنا نعد الآيات بركة، وأنتم تعدونها تخويفا، كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر، فقل الماء، فقا: (اطلبوا فضلة من ماء). فجاؤوا بإناء فيه ماء قليل، فأدخل يده في الإناء ثم قال: (حي على الطهور المبارك، والبركة من الله). فلقد رأيت الماء ينبع من بين أصابع رسول الله صلى الله عليه وسلم...
Dari Abdullah (bin Mas’ud) radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Kami menganggap ayat-ayat Allah sebagai suatu barakah, sedangkan kalian menganggapnya sebagai satu hal yang menakutkan. Kami pernah bersama-sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan bepergian. Kami kekurangan air. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Carilah kelebihan air’. Para shahabat lain datang dengan membawa sebuah bejana berisikan air yang cuma sedikit. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memasukkan tangannya ke dalam bejana itu kemudian bersabda : ‘Hai, inilah air yang sangat suci dan dibarakahi, dan barakah itu berasal dari Allah’. Aku kemudian melihat bahwa air itu keluar dari jari-jari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3579].
2. Benda-benda, ucapan-ucapan, dan perbuatan-perbuatan yang oleh syara’ diperbolehkan untuk dipakai mencari kebarakahan, tidak lain itu semua hanyalah merupakan sarana saja. Ia bukanlah yang memberikan barakah. Sama seperti obat. Ia hanyalah merupakan sarana penyembuh saja. Dan yang yang menyembuhkan pada hakikatnya adalah Allah ta’ala. Hal itu sebagaiamana diterangkan dalam salah satu doa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk orang sakit :
أذهب الباس رب الناس، واشف أنت الشافي، لا شفاء إلا شفاؤك، شفاء لا يغادر سقماً
“Hilangkanlah kesengsaraan, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah karena Engkaulah Dzat yang bisa menyembuhkan. Tidak ada penyembuh melainkan Engkau. Suatu penyembuhan yang tidak lagi meninggalkan sakit” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5750].
Adapun beberapa hadits seperti :
إن في الحبة السوداء شفاء من كل داء إلا السام
“Sesungguhnya dalam habbatus-saudaa’ itu terdapat penyembuh bagi seluruh penyakit, kecuali as-saam (kematian)” [HR. Muslim no. 2215];
maka harus dipahami bahwa habbatus-saudaa’ hanyalah sebagai sarana saja. Ia dapat menyembuhkan sesuai dengan ijin Allah. Ketika berobat dengan habbatus-saudaa’, maka kita pun harus memohon kesembuhan pada Allah.
Begitu pula,…. ketika ada penisbatan barakah pada seseorang, maka ia bukanlah sebagai hakikat pemberi barakah. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam terhadap Ummul-Mukminin Juwairiyyah radliyallaahu ‘anhaa :
فما أعلم امرأة كانت أعظم بركة على قومها منها
“Aku tidak pernah melihat seorang wanita yang begitu besar barakahnya bagi kaumnya melebihi Juwairiyyah” [HR. Ahmad 6/277; hasan].
Juwairiyah bukanlah orang yang memberi barakah, melainkan hanyalah sebagai sebab keberadaan barakah saja. Hal itu diketahui ketika para shahabat mengetahui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menikahi Juwairiyyah, maka mereka saling berlomba dalam memerdekakan tawanan wanita dari kaumnya, yaitu Bani Musthaliq. Dengan pernikahan tersebut, Bani Musthaliq menjadi besan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tidak kurang seratus orang dari kaumnya dimerdekakan oleh para shahabat. Ini adalah barakah yang sangat besar dari Allah ta’ala yang penyebabnya tidak lain adalah Juwairiyyah bin Al-Harits.
3. Sesungguhnya mencari barakah terhadap sesuatu adalah dengan sesuatu yang padanya memang terdapat barakah. Dan ini menuntut penunjukkan pada nash/dalil. Bukan pada perasaan dan prasangka semata. Akal sehat tentu tidak akan menerima jika seseorang mencari keberkahan dari seekor sapi sebagaimana umat musyrik Hindu melakukannya.
Selain itu, seseorang yang mencari barakah pada sesuatu yang pada asalnya (sesuai nash/dalil) mempunyai barakah, maka harus dilakukan dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syari’at. Misalnya, dalam hadits dikatakan bahwa makan sahur itu terdapat barakah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
تسحروا فإن في السحور بركة
“Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat barakah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095].
Barakah makan sahur hanya akan kita dapatkan bila kita memakan makanan yang baik lagi halal. Sebaliknya, barakah tidak akan kita dapatkan jika kita makan atau minum yang diharamkan oleh Allah ta’ala (misalnya : makan daging babi, minum khamr, dan merokok).
Kembali pada pokok bahasan,…. Saudara telah menyatakan bahwa seseorang shalat di masjid yang berada di komplek kuburan adalah mengharap keberkahan kubur seseorang (yang dianggap sebagai wali Allah). Ada beberapa hal yang perlu mendapatkan pencermatan :
a) Jika shalat di masjid yang ada kuburnya itu dianggap sebagai usaha memperoleh barakah, apakah memang ada dalil shahih yang menyatakan bahwa kubur seseorang (walau ia seorang ulama atau orang shalih) terdapat barakah ? Ini sama saja mengatakan bahwa masjid mendapatkan barakah tambahan dengan sebab keberadaan kubur yang ada padanya.
b) Jikalau orang-orang shalih tersebut dianggap mempunyai barakah ketika ia hidup, maka apakah barakah itu masih tetap ada padanya setelah ia meninggal dan dikuburkan ?
c) Terkait point a, jika Saudara menyatakan bahwa masjid juga mendapatkan barakah dengan sebab keberadaan kubur tersebut, maka dengan ini secara tidak langsung Saudara menyatakan bahwa shalat dan beribadah lainnya di pekuburan merupakan ibadah masyru’ yang dapat mengantar sebab perolehan barakah, termasuk di antaranya shalat. Ada pernyataan Saudara yang kontradiktif satu dengan yang lainnya. Ingat, sebelumnya Saudara telah mengatakan larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu berkaitan dengan perbuatan kaum Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai tempat ibadah.
Tanggapan atas tiga hal tersebut dirangkum sebagai berikut :
Tempat yang ditunjukkan oleh dalil sebagai tempat ber-tabarruk (mencari barakah) adalah :
a. Masjid
عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أحب البلاد إلى الله مساجدها وأبغض البلاد إلى الله أسواقها
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Negeri (tempat) yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjidnya, dan negeri (tempat) yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar-pasarnya” [HR. Muslim no. 671].
Mencari barakah pada masjid tentu bukan dengan mengusap-usap dindingnya, mengambil sebagian debunya/pasirnya sebagai jimat, dan yang semisalnya. Namun, mencari barakah melalui masjid adalah dengan melakukan peribadahan yang disyari’atkan di dalamnya seperti shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, adzan, atau mengadakan halaqah ilmu.
Diantara masjid-masjid yang mempunyai keutamaan dan barakah lebih banyak dibandingkan dengan masjid-masjid lainnya adalah : Masjidil-Haram, Masjid Nabawiy, Masjidil-Aqsha, dan Masjid Quba’.
b. Makkah, Madinah, Syaam, dan Yaman.
Allah berfirman :
سُبْحَانَ الّذِي أَسْرَىَ بِعَبْدِهِ لَيْلاً مّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَىَ الْمَسْجِدِ الأقْصَى الّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya” [QS. Al-Israa’ : 1].
عن عبد الله بن زيد بن عاصم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن إبراهيم حرم مكة ودعا لأهلها وإني حرمت المدينة كما حرم إبراهيم مكة وإني دعوت في صاعها ومدها بمثلى ما دعا به إبراهيم لأهل مكة
Dari Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda : “Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan (memuliakan) Makkah dan mendoakan penduduknya. Dan sesungguhnya aku telah mengharamkan (memuliakan) Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Makkah. Dan aku juga mendoakan penduduk Madinah sebagaimana Ibrahim telah mendoakan penduduk Makkah” [HR. Muslim no. 1360].
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa :
اللهم بارك لنا في شامنا وفي يمننا
“Ya Allah, berkahilah bagi kami negeri Syaam kami dan Yaman kami….” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1037].
Ber-tabarruk atas tempat ini bisa berupa mencari penghidupan di sana, bermukim, menolak fitnah, atau berbuat kebajikan secara umum. Tidak bisa dikatakan tabarruk yang syari’i atas tempat ini jika ada seseorang yang mengusap-usap batu dan tanahnya, membawa air atau debunya untuk dibawa pulang buat kesembuhan [2], dan lain sebagainya.
Maka dari itu, tidak ada satu pun dalil shahih yang menyatakan kuburan mempunyai barakah khusus. Bahkan, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa kuburan (dan komplek pekuburan) bukanlah tempat untuk melakukan shalat (ibadah) secara umum[3]. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لا تجعلوا بيوتكم مقابر. إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة
“Janganlah engkau menjadikan rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syaithan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surat Al-Baqarah” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 780, Ahmad 2/284 & 337 & 387 & 388, At-Tirmidzi no. 2877, An-Nasa’I dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah no. 965, Ibnu Abi Syaibah 2/256, dan yang lainnya dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu].
Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata (dengan diringkas) :
استنبط من قوله في الحديث :(لا تتخذوها قبوراً ) أن القبور ليست بمحل للعبادة ،فتكون الصلاة فيها مكروهة ، وقد نازع الاسماعيلي المصنف في هذه الترجمة فقال :الحديث دال على كراهة الصلاة في القبر لا في المقابر
“Dari sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hadits : Janganlah kalian menjadikannya (rumah) sebagai kuburan”; dapat disimpulkan bahwa kuburan bukan tempat untuk beribadah, sehingga shalat di sana menjadi makruh. Al-Isma’ily telah menyanggah Penulis (yaitu Al-Imam Bukhari) dalam pembuatan bab ini, dimana ia mengatakan : ‘Hadits ini menunjukkan dimakruhkannya shalat di satu kubur, bukan di pekuburan” [Fathul-Baariy, 1/529].
Jadi di sini menunjukkan bahwa pada asalnya kubur dan komplek pekuburan bukanlah tempat untuk beribadah dan mencari barakah. Tidak ada korelasinya antara masjid dan kubur dalam masalah tabarruk.
Mungkin saja Saudara akan menyanggah hal ini dengan perkataan : "Yang menjadikan kuburan tersebut mempunyai barakah bukanlah semata-mata karena kuburannya, namun orang yang dikubur di sana yang termasuk orang-orang shalih”.
Dijawab :
Alasan Saudara sangat lemah. Dalam hadits sebelumnya telah disebutkan bahwa Ummul-Mukminin Juwairiyyah adalah seorang wanita yang paling banyak barakahnya terhadap kaumnya. Bahkan ini ditegaskan melalui lisan Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Setelah meninggalnya Juwairiyyah, apakah ternukil dalam riwayat shahih dari mereka (para shahabat) dan juga kaumnya (Bani Musthaliq) bahwa mereka mendatangi kubur Juwairiyyah untuk ber-tabarruk (mencari barakah) dengannya ? Tidak ada satu riwayat shahih pun yang menunjukkannya. Para shahabat juga tidak pernah ber-tabarruk terhadap kubur Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ataupun ‘Ali radliyallaahu ‘anhum; padahal mereka adalah empat orang shahabat yang utama. Bahkan, kepada orang yang lebih tinggi dari mereka – yaitu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam –, para shahabat tidak pernah ber-tabarruk dengan kubur beliau kecuali ziarah dan mengucapkan salam serta shalawat kepada diri beliau. Padahal kita ketahui bahwa badan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengandung barakah dan diperbolehkan ber-tabarruk dengannya. Hal ini seperti dijelaskan pada beberapa hadits di antaranya :
عن أنس بن مالك قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا صلى الغداة جاء خدم المدينة بآنيتهم فيها الماء فما يؤتى بإناء إلا غمس يده فيها فربما جاءه في الغداة الباردة فيغمس يده فيها
Dari Anas bin Malik ia berkata : “Setiap kali Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hendak melakukan shalat shubuh, para pelayan Madinah datang dengan membawa bejana-bejana mereka yang berisi air. Setiap kali didatangkan bejana, beliau memasukkan tangan beliau ke dalamnya. Terkadang beliau mendatangi beliau di pagi hari yang dingin. Tetapi tetap saja beliau berkenan memasukkan tangannya ke bejana yang berisikan air yang mereka bawa tersebut” .
Dalam riwayat lain Anas mengatakan :
لقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم والحلاق يحلقه وأطاف به أصحابه فما يريدون أن تقع شعرة إلا في يد رجل
“Aku pernah menyaksikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tengah dicukur oleh seorang tukang cukur. Beliau dikelilingi oleh para shahabatnya. Mereka tidak menginginkan sehelai rambut pun jatuh percuma tanpa didapatkan oleh orang di antara mereka” [HR. Muslim no. 2325].
عن أنس بن مالك قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يدخل بيت أم سليم فينام على فراشها وليست فيه قال فجاء ذات يوم فنام على فراشها فأتيت فقيل لها هذا النبي صلى الله عليه وسلم نام في بيتك على فراشك قال فجاءت وقد عرق واستنقع عرقه على قطعة أديم على الفراش ففتحت عتيدتها فجعلت تنشف ذلك العرق فتعصره في قواريرها ففزع النبي صلى الله عليه وسلم فقال ما تصنعين يا أم سليم فقالت يا رسول الله نرجو بركته لصبياننا قال أصبت
Dari Anas bin Malik ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari pernah masuk ke rumah Ummu Sulaim. Beliau lalu tidur di atas alas tidur Ummu Sulaim ketika ia tidak ada di rumah. Pada hari lainnya beliau juga datang dan melakukan hal yang sama. Ketika Ummu Sulaim datang, ada yang melapor bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidur di alas tidur di rumahnya. Segera saja Ummu Sulaim masuk dan mendapati Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersimbah keringat yang sangat banyak sehingga mengenai sepotong kulit yang berada di dekat alas tidur tersebut. Kemudian Ummu Sulaim menyeka keringat tersebut lalu memerasnya ke dalam botol-botol yang terbuat dari kaca. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam terbangun dan merasa kaget. Beliau bertanya : “Apa yang sedang kamu lakukan wahai Ummu Sulaim ?”. Ia menjawab : “Wahai Rasulullah, kami mengharapkan barakahnya untuk anak-anak kami”. Maka beliau berkata : “Engkau benar” [HR. Muslim no. 2331].
Kita tidak memungkiri tentang masyru’-nya bertabarruk pada tubuh dan semua atsar (bekas) beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ini dikarenakan karena tubuh beliau yang mengandung barakah. Dan ini adalah kekhususan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam yang tidak terdapat pada selain beliau. Atsar (bekas) peninggalan beliau ini tetap mempunyai barakah walaupun beliau telah meninggal dunia. Namun, semua peninggalan beliau tersebut (berupa rambut, pakaian, dan yang lainnya) telah hilang.[4] Maka, bertabarruk dengan atsar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sudah tidak bisa dilakukan lagi.
Kemudian,….. ada sebagian dari kaum muslimin [5] yang berusaha mencari barakah dengan beberapa beberapa tempat yang secara khusus tidak ditunjukkan dengan dalil. Tempat-tempat tersebut biasanya terkait dengan tokoh-tokoh atau peristiwa-peristiwa historis tertentu. Misalnya ada orang yang ber-tabarruk dengan tempat-tempat yang pernah dilewati beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, gua Hira (tempat turun wahyu pertama), gua Tsur, dan yang lainnya. Termasuk kuburan orang-orang shalih sebagaimana yang Saudara diklaim itu……………
Banyak dalil yang menunjukkan pengingkaran terhadap aqidah semacam ini. Silakan diperhatikan beberapa diantaranya :
1. Atsar ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu tentang hajar aswad :
عن عمر رضى الله تعالى عنه أنه جاء إلى الحجر الأسود فقبله فقال إني أعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع ولولا أني رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يقبلك ما قبلتك
Dari ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya ia mendatangi Hajar Aswad dan menciumnya. Kemudian ia berkata : “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah sebuah batu biasa yang tidak memberi mudlarat dan manfaat. Kalau aku tidak melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menciumnya, niscaya aku tidak akan sudi menciummu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1597].
Hampir semua umat muslimin tentu tahu bahwa Hajar Aswad adalah batu hitam yang sudah ada semenjak jaman Nabi Ibrahim ‘alaihis-salam. Ia adalah batu yang disentuh, diusap, dan dicium oleh para Nabi (dalam ibadah haji), termasuk Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Namun apa yang menjadi i’tiqad Umar dalam hal ini ? Apakah ia mencium Hajar Aswad karena ‘Umar berkeyakinan bahwa Hajar Aswad mempunyai barakah dzatiyyah (sehingga ia ber-tabarruk dengannya) ? Tidak ! ‘Umar mencium Hajar Aswad (dalam ibadah haji) semata-mata hanya karena ittiba’ beliau terhadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang juga menciumnya. Perkataan ‘Umar : “Kalau aku tidak melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menciumnya, niscaya aku tidak akan sudi menciummu” ; menunjukkan bahwa Hajar Aswad tidaklah mempunyai barakah dzatiyyah secara khusus sebagaimana Masjidil-Haram atau Masjid Nabawy. Sehingga dalam hal ini Ibnu Hajar berkomentar :
وفي قول عمر هذا التسليم للشارع في أمور الدين وحسن الأتباع فيما لم يكشف عن معانيها وهو قاعدة عظيمة في أتباع النبي صلى الله عليه وسلم فيما يفعله ولو لم يعلم الحكمة فيه
“Bahwa apa yang dikatakan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab tersebut adalah penyerahan diri secara total kepada Syaari’ (Pembuat Syari’at, yaitu Allah) dalam urusan agama dan melakukan ittiba’ dengan sebaik-baiknya terhadap sesuatu yang ia sendiri belum mengerti makna-makan yang terkandung di dalamnya. Itulah kaidah besar dalam hal ittiba’ kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ia melakukan sesuatu kendati ia tidak mengetahui hikmah apa yang terkandung di dalamnya” [Fathul-Baari 3/370].
2. Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah yang berasal dari Marwan bin Suwaid Al-Asadi ia berkata : “Aku keluar bersama Amirul-Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu keluar kota Makkah menuju Madinah. Ketika memasuki waktu pagi, beliau shalat bersama kami di pagi hari itu. Kemudin orang-orang melihat pergi ke suatu tempat. Beliau bertanya : “Kemana mereka pergi ?”. Ada yang menjawab : “Wahai Amirul-Mukminin, mereka pergi ke masjid dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di sana. Berbondong-bondong mereka mendatangi untuk shalat di sana. Beliau berkata :
بلك إنما هلك من كان قبلكم بمثل هذا يتبععون آثار الأنبيئهم فيتخذونها كنائس وبيعا أدركته الصلاة في هذا مسجد فليصلي و من لا فليمض و لا يعتمدها.
“Sesungguhnya orang sebelum kamu menjadi binasa disebabkan hal seperti ini. Mereka begitu memperhatikan peninggalan-peninggalan Nabi-nya lalu menjadikannya sebagai gereja-gereja dan tempat ibadah. Barangsiapa yang kebetulan melewati masjid ini dan telah tiba waktu shalat, maka hendaklah ia shalat di sini. Dan kalau tidak, hendaklah ia berlalu dan janganlah mendatangi dengan sengaja” [Al-Bida’ wan-Nahyu ‘anha oleh Ibnu Wadhdhah hal. 41].
3. Masih dari Ibnu Wadldlah ia berkata :
سمعت عيسى بن يونس يقول : أمر عمر بن الخطاب ـ رضي الله عنه بقطع الشجرة التي بويع تحتها النبي صلى الله عليه وسلم فقطعها لأن الناس كانوا يذهبون فيصلون تحتها ، فخاف عليهم الفتنة .
“Aku mendengar ‘Isa bin Yunus mengatakan : “Umar bin Al-Khaththab radlyallaahu ‘anhu memerintahkan untuk menebang pohon yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menerima baiat kesetiaan di bawahnya (Bai’atur-Ridlwan). Ia menebangnya karena banyak manusia yang pergi ke sana dan shalat di bawahnya, lalu hal itu membuatnya khawatir akan terjadi fitnah (bahaya kemusyrikan) terhadap mereka” [HR. Ibnu Abi Syaibah 2/376 dan Ibnu Wadldlah dalam Al-Bida’ hal. 42; shahih. Lihat Fathul-Majid hal. 233, Maktabah Taufiqiyyah].
Di sini malah begitu jelas bahwa tempat singgah (petilasan) Nabi itu tidak mempunyai barakah secara khusus. Bahkan termasuk juga masjidnya. Artinya,….. shalat di masjid yang pernah disinggahi dengan yang belum adalah sama saja dalam hal keutamaannya. Tidak ada yang membedakan dan tidak ada keistimewaan khususnya kecuali jika didatangkan dalil, seperti empat masjid sebagaimana yang telah lalu. ‘Umar melarang orang untuk menyengaja datang di tempat yang pernah disinggahi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang dilakukan ‘Umar jika melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang belakangan yang mencari barakah dengan petilasan (atsar) orang-orang (yang mereka anggap ) shalih yang tentu kedudukannya lebih rendah dari beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya ?
Nah,…. jika masjid saja yang secara umum mempunyai keutamaan (barakah) diingkari mempunyai keutamaan khusus/tambahan (yaitu barakah khusus selain dari barakah umum) dengan sebab pernah disinggahi oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam; maka bagaimana dengan kubur yang bahkan tidak ada keutamaan umumnya ?
Jawaban di point ini terkait dengan jawaban di point selanjutnya.
Sebagian hadis di atas menyatakan akan pelarangan membangun masjid “di atas” kuburan, bukan di sisi (baca: samping) kuburan. Letak perbedaan redaksi inilah yang kurang diperhatikan oleh kaum Wahaby dalam berdalil.
Justru Saudara dan orang-orang yang setipe dengan Saudara lah yang tidak mencermati dalil dan penjelasan ulama. Coba kita perhatikan dengan seksama dari 13 (tiga belas) hadits yang telah ditulis (dan sebenarnya masih beberapa lagi). Hampir semua menggunakan lafadh {اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد} “menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid”. Hanya satu saja yang memakai lafadh ‘alaa (di atas) yaitu hadits nomor 4 dari Ummul-Mukminin ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa.
Apa makna larangan : “Menjadikan Kubur Sebagai Masjid { اتخاذ القبور مساجد } ?
Para ulama telah menjelaskan bahwa kalimat tersebut mencakup tiga makna, yaitu :
1. Larangan shalat di atas kubur.
Ibnu Hajar Al-Haitami berkata:
واتخاذ القبر مسجداُ معناه الصلاة عليه ، أو إليه
“Menjadikan kubur sebagai masjid berarti shalat di atasnya atau dengan menghadap ke arahnya” [Az-Zawaajir, 1/121].
Makna ini diperkuat oleh hadits :
لا تصلوا إلى قبر ، ولا تصلوا على قبر
“Janganlah kalian shalat menghadap ke arah kubur dan jangan pula shalat di atasnya” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir; shahih].
2. Larangan sujud dengan menghadap ke arahnya serta menjadikannya sebagai kiblat shalat dan doa.
Al-Imam Al-Munawi rahimahullah berkata :
أي اتخذوها جهة قبلتهم ، مع اعتقادهم الباطل ، وإن اتخاذها مساجد ، لازم لاتخاذ المساجد عليها كعكسه ، وهذا بين به سبب لعنهم لما فيه من المغالاة في التعظيم . قال القاضي ( يعني البيضاوي ) : لما كانت اليهود يسجدون لقبور أنبيائهم تعظيماً لشأنهم ، ويجعلونها قبلة ، ويتوجهون في الصلاة نحوها ، فاتخذوها أوثاناً لعنهم الله ، ومنع المسلمين عن مثل ذلك ونهاهم عنه … "
“Artinya,.. mereka menjadikan kubur para nabi itu sebagai arah kiblat mereka akibat keyakinan mereka yang salah. Dan menjadikan kubur itu sebagai masjid menuntut konsekuensi pembangunan masjid di atasnya, dan juga sebaliknya. Hal demikian itu menjelaskan sebab dilaknatnya mereka, yaitu karena tindakan tersebut mengandung sikap berlebihan dalam pengagungan. Al-Qadli (yaitu Al-Baidlawi) mengatakan : ‘Orang-orang Yahudi bersujud kepada kubur para Nabi sebagai pengagungan terhadap mereka dan menjadikannya sebagai kiblat. Mereka juga menghadap ke kubur itu dalam mengerjakan shalat dan ibadah lainnya. Sehingga dengan demikian, mereka telah menjadikannya sebagai berhala yang dilaknat oleh Allah. Dan Allah telah melarang kaum muslimin melakukan hal tersebut” [selesai – Faidlul-Qadiir Syarh Al-Jamii’ Ash-Shaghiir – melalui perantara Tahdziirus-Saajid halaman 21; Maktabah Meshkat].
Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah berkata :
قيل معناه النهي عن السجود على قبور الأنبياء وقيل النهي عن اتخاذها قبلة يصلى إليها
“Dikatakan maknanya adalah larangan terhadap sujud di atas kubur para Nabi. Dan juga dikatakan bahwa maknanya adalah larangan untuk menjadikannya sebagai kiblat dimana ia shalat menghadapnya” [Tanwiirul-Hawaalik Syarh Muwaththa’ Malik no. 414; Maktabah Sahab].
Makna ini dikuatkan oleh sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam :
لا تجلسوا على القبور ، و لا تصلوا إليها
“Janganlah kalian duduk di atas kubur dan jangan pula shalat menghadap ke arahnya” [Diriwayatkan oleh Muslim 3/62; Abu Dawud no. 3229; Ahmad 4/135; An-Nasa’iy 2/67, At-Tirmidzi no. 1050; dan yang lainnya. Sanad hadits ini jayyid (baik)].
3. Larangan mendirikan masjid di atas kubur dan tujuan mengerjakan shalat di dalamnya.
Pengertian ini adalah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Bukhari ketika memberikan bab dalam kitab Shahih-nya : { باب ما يكره من اتخاذ القبور مسجداً على القبور} “Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan Membangun Masjid di Atas Kubur”. Makna ini adalah sebagaimana yang terambil dalam hadits :
أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح بنوا على قبره مسجداً
“Mereka itu adalah orang-orang yang apabila orang shlih mereka meninggal dunia, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya tersebut” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 434, Muslim 528, Abu ‘Awaanah 1/400-401, Ibnu Hibban no. 3181, An-Nasa’i 2/41, Al-Baihaqiy 4/80; dan yang lainnya].
Dari ketiga makna ini – wallahi – hampir semua dikerjakan oleh para pecinta kubur ! Banyak sekali di antara mereka – dengan alasan tabarruk dan tawassul – melakukan doa dan shalat di samping atau menghadap kubur. Betapa banyak masjid di Indonesia ini yang terdapat kuburannya baik di dalam, di arah kiblat, atau di samping masjid ? Lihatlah di Cirebon, Ampel, atau daerah-daerah sekitar Madura. Dan saya pribadi pernah “terperosok” sewaktu shalat shubuh di Masjid Agung Kabupaten Temanggung Jawa Tengah yang ternyata di arah kiblatnya ada makam “wali”-nya. Inilah budaya/kultur yang dipelihara oleh pecinta kubur masyarakat kita.
Sebagai tambahan,…. larangan shalat dan mendirikan masjid itu bukan hanya jika kubur itu terletak di dalam atau di depan masjid ! Namun secara umum, termasuk di samping atau belakang masjid (selama kuburan tersebut masih berada di komplek masjid). Dalilnya adalah sebagai berikut :
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( الارض كلها مسجد إلا المقبرة والحمام
Dari Abi Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Bumi ini secara keseluruhan adalah masjid (tempat untuk shalat), kecuali kuburan dan kamar mandi” [Diriwayatkan oleh Ahmad 3/83 & 96, Abu Dawud no. 492, At-Tirmidziy no. 317, Ibnu Majah no. 745, Abu Ya’laa no. 1350, Ibnu Khuzaimah no. 791-792, dan yang lainnya; shahih].
Al-Maqbarah {المقبرة} adalah isim makan (tempat) yang bentuk jamaknya Al-Maqaabir {المقابر}; yang artinya setiap tanah yang ditanam/dikuburkan seorang mayit. Adalah salah jika ada orang yang menganggap bahwa al-maqaabir ini merupakan bentuk jamak dari al-qubr (القبر).
Maka larangan untuk melakukan shalat (dan juga tentunya mendirikan masjid) di sini berlaku untuk kubur satu orang atau lebih (seperti di daerah pekuburan); baik menghadap kubur atau membelakangi, di sebelah kanan atau di sebelah kirinya. Ini semua terlarang, sebab dua hadits di atas lafadhnya adalah mutlak (yaitu larang shalat di kubur dan juga di antara kubur).
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata ketika menjelaskan madzhab Al-Imam Ahmad rahimahumallah dalam permasalahan ini :
وليس في كلام أحمد و عامّة أصحابه هذا الفرق ، بل عموم كلامهم و تعليلهم و استدلالهم يوجب منع الصّلاة عند قبرٍ واحدٍ من القبور، وهو الصواب ، والمقبرة كل ما قبر فيه ، لا أنه جمع قبر . وقال أصحابنا : وكل ما دخل في اسم المقبرة مما حول القبور ، لا يصلّى فيه ، فهذا يعين أن المنع يكون متناولاً لحرمة القبر المنفرد ، و فنائه المضاف إليه
“Tidak ada perbedaan pendapat antara Ahmad dan shahabat-shahabatnya (yaitu para ulama Hanabilah) dalam permasalahan ini. Akan tetapi keumuman perkataan, ta’lil, dan istidlal mereka adalah menetapkan pelarangan shalat di samping kubur, walau itu satu kuburan saja[6]. Dan itulah yang benar. Dan yang disebut Al-Maqbarah adalah setiap tanah dibuat untuk mengubur (mayat). Al-Maqbarah bukanlah bentuk jamak dari Qabr (kubur). Dan telah berkata sebagian shahabat-shahabat kami : “Setiap yang masuk dalam definisi Al-Maqbarah adalah setiap sesuatu yang berada di sekitar kubur yang tidak boleh digunakan untuk shalat”. Dan ini menentukan bahwa larangan tersebut mencakup lingkup kuburan yang terpencil bersama halaman sekitarnya” [Al-Ikhtiyaaratul-‘Ilmiyyah hal. 25 melalui perantaraan Al-Qaulul-Mubiin fii Akhthaail-Mushallin hal. 32, Maktabah Al-Misykah dan Tamamul-Minnah hal. 298 Daarur-Rayah].
Al-Muhaqqiq Muhammad Yahya Al-Kandahlawi Al-Hanafi rahimahullah berkata : “Adapun membangun kubur termasuk tasyabbuh (meniru) perbuatan Yahudi dan menjadikan kubur para Nabi dan para tokoh sebagai masjid termasuk pengagungan terhadap mayit dan meniru para penyembah berhala meskipun masjid itu berada di samping kubur. Jika kubur berada di arah kiblat, maka lebih dibenci daripada di samping kanan atau kiri. Jika berada di belakang orang-orang shalat, maka itu lebih ringan namun tidak lepas dari hukum makruh” [Al-Kawaakibud-Daraari ‘alaa Jamii’it-Tirmidzi hal. 153].
(C) Tidak jelas apakah pelarangan dalam hadis itu menjurus kepada hukum haram ataupun hanya sekedar makruh (tidak sampai pada derajat haram) saja. Hal itu dikarenakan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya (lihat kitab Shahih al-Bukhari jilid 2 halaman 111) dimana beliau mengumpulkan hadis-hadis itu ke dalam topik “Bab apa yang dimakruhkan dari menjadikan masjid di atas kuburan” (Bab maa yukrahu min ittikhodz al-Masajid ‘alal Qubur) dimana ini meniscayakan bahwa hal itu sekedar pelarangan yang bersifat makruh saja yang selayaknya dihindari, bukan mutlak haram.
Atas dasar itu, dalam kitab al-Maqolaat as-Saniyah halaman 427 disebutkan bahwa Syeikh Abdullah Harawi dalam menjelaskan hadis di atas tadi mengatakan: “Hadis tadi diperuntukkan bagi orang yang hendak melakukan ibadah di atas kuburan para nabi dengan niat untuk mengagungkan kubur mereka. Ini terjadi jika posisi kuburan itu nampak (menonjol .red) dan terbuka. Jika tidak maka melaksanakan shalat di situ tidak haram hukumnya”
Perlu diketahui bahwa Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah ketika menuliskan “Maa Yukrahu….” (Apa-Apa yang Dimakruhkan….) dalam kitab Shahih-nya, bisa mengandung dua pengertian, yaitu : 1) bermakna bukan tahrim; dan 2) bermakna tahrim.
Saya contohkan bab yang ditulis beliau rahimhullah dengan makna pertama :
1. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan Tidur Sebelum ‘Isya’ { باب ما يكره من النوم قبل العشاء }
2. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Meninggakan Shalat Malam Bagi Mereka yang Telah Biasa Mengerjakannya { باب ما يكره من ترك قيام الليل لمن كان يقومه }
3. dan lain-lain.
Adapun yang makna kedua (tahrim/pengharaman) :
1. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Niyahah (Meratap) terhadap Mayit { باب ما يكره من النياحة على الميت }
2. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Shalat Jenazah terhadap Orang-Orang Munafik dan Meminta Ampunan terhadap Orang-Orang Musyrik { باب ما يكره من الصلاة على المنافقين والاستغفار للمشركين }
3. Bab Apa-Apa yang Dimakruhkan dari Namimah (Mengadu Domba) { باب ما يكره من النميمة}
4. dan lain-lain.
Lantas,…. bagaimana dengan menjadikan kubur sebagai masjid ? Tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksudkan makruh dalam perkataan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah adalah bermakna tahrim (pengharaman). Apa indikasinya ? Indikasinya adalah bahwa lafadh hadits yang dibawakan oleh Al-Imam Bukhari rahimahullah dalam Bab Maa Yukrahu Min-Ittikhaadzil-Masaajidi ‘alal-Qubuur merupakan lafadh-lafadh laknat. Sesuai dengan kaidah Ushul-Fiqh bahwa lafadh laknat mempunyai konsekuensi pada pengharaman [lihat Badai’ul-Fawaaid 4/5-6].
Contohnya adalah firman Allah :
إِنّ الّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِناتِ لُعِنُواْ فِي الدّنْيَا وَالاَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, [QS. An-Nuur : 23]
عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال لعن الله الواصلة والمستوصلة والواشمة والمستوشمة
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : “Allah telah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang meminta disambung rambutnya; juga wanita yang mentato dan yang minta ditato” [HR. Bukhari no. 5589].
Dan perlu diketahui bahwa kalimat “makruh/karahah” dalam syari’at banyak yang menunjukkan pada makna haram (dan ini adalah madzhab ulama mutaqaddimiin). Misalnya : Setelah Allah menyebutkan tentang larangan berbuat syirik, larangan durhaka kepada dua orang tua, larangan bersikap boros, dan yang lainya [7], maka Allah menutupnya dengan :
ذَلِكَ كَانَ سَيّئُهُ عِنْدَ رَبّكَ مَكْرُوهاً
“Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu” [QS. Al-Israa’ : 38].
Juga Allah berfirman :
وَلَـَكِنّ اللّهَ حَبّبَ إِلَيْكُمُ الأِيمَانَ وَزَيّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ
“Tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan”. [QS. Al-Hujuraat : 7].
Makna makruh dalam dua ayat di atas adalah haram. Kecuali,…. bila Saudara mengatakan syirik, durhaka pada orang tua, kefasikan, kemaksiatan, dan sikap boros itu hanya sebatas makruh dimana orang yang meninggalkannya mendapat pahala dan yang mengerjakannya tidak dibebani dosa…….
Oleh karena itu, perkataan makruh ulama di bawah juga menunjukkan pengharaman.
وقال أبو بكر الأثرم : سمعت أبا عبد الله – يعني أحمد – يُسأل عن الصلاة في المقبرة ، فكره الصلاة في المقبرة ، فقيل له : (المسجد يكون بين القبور ، أيصلى فيه ؟) ، فكره ذلك . قيل له : (إنه مسجد ، وبينه وبين القبور حاجز) ، فكره أن يصلى فيه الفرض ، ورخص أن يصلى فيه على الجنائز ، وذكر حديث أبي مرثد الغنوي عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لا تصلوا إلى القبور ، وقال : إسناد جيد
Telah berkata Abu Bakr Al-Atsram : Aku mendengar Abu ‘Abdillah – yaitu Ahmad – ditanya tentang shalat yang dilakukan di kuburan (maqbarah), maka ia me-makruh-kannya. Lalu ditanyakan kepadanya : “Bagaimana tentang masjid yang berada di antara kubur ?”. Ia pun me-makruh-kannya hal itu juga” [Fathul-Baariy oleh Ibnu Rajab, 3/195].
والذي عليه الأكثر من أهل العلم ؛ كراهية الصلاة في المقبرة ، لحديث أبي سعيد رضي الله عنه، وكذلك نقول .
“Pendapat yang dipegang oleh kebanyakan ahli ilmu/ulama adalah makruh mengerjakan shalat di kuburan, berdasarkan hadits Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu. Dan begitulah yang menjadi pendapat kami” [Al-Ausath, 2/185].
Kesimpulan di point ini adalah bahwa menjadikan kubur sebagai masjid dan shalat di dalamnya adalah haram.
Begitu pula apa yang dinyatakan oleh salah seorang ulama Ahlusunah lain yang bermazhab Hanafi yang bernama Abdul Ghani an-Nablusi dalam kitab al-Hadiqoh ast-Tsaniyah jilid 2 halaman 631. Ia menyatakan: “Jika sebuah masjid dibangun di sisi kuburan (makam) orang saleh ataupun di samping kuburannya yang hanya berfungsi untuk mengambil berkahnya saja, tanpa ada niatan untuk mengagungkannya maka hal itu tidak mengapa. Sebagaimana kubur Ismail as terletak di Hathim di dalam Masjidil Haram dimana tempat itu adalah sebaik-baik tempat untuk melaksanakan shalat”.
Di sini saya tidak akan membantah pada hal tabarruk (karena telah terjawab pada paragraph di atas), namun hanya akan mengomentari perkataan bahwa kubur Isma’il di Masjidil-Haram adalah sebaik-baik tempat untuk shalat.
Saya jawab secara ringkas bahwa perkataan ini adalah perkataan palsu yang tidak bersumber pada satupun riwayat shahih. Bahkan riwayat dla’if tentang hal itu pun tidak tertulis dalam Al-Kutubus-Sittah, Musnad Ahmad, Mu’jam Thabarani (Kabiir, Shaghiir, dan Ausath), dan yang lainnya dari kitab hadits yang populer.
Apa yang dikatakan oleh Saudara dan orang yang Saudara nukil itu (yaitu Abdul-Ghani An-Nablusi) bersumber pada atsar-atsar mu’dlal dengan sanad-sanad yang dla’if dan mauquf yang disebutkan oleh Al-Azraqi dalam Akhbaarul-Makkah (hal. 39, 219, dan 220). Selain itu, penukilan kubur Isma’il ini juga beraneka cerita. Al-‘Allamah ‘Ali Al-Qari, seorang ahli hadits kenamaan madzhab Hanafiyyah berkata :
وذكر غيره أن صورة قبر إسماعيل عليه السلام في الحجر تحت الميزاب ، وأن في الحطيم بين الحجر الأسود وزمزم قبر سبعين نبياً
“Dan yang lain mengatakan bahwa wujud kubur Isma’il ‘alaihis-salaam itu ada di Hijr di bawah pancuran air hujan. Dan ada pula yang mengatakan terletak di Hathim antara Hajar Aswad dan Zamzam, yang terdapat kuburan 70 orang Nabi…….” [Mirqaatul-Mafaatih 1/456].
Jika memang dianggap bahwa kubur itu terdapat di sana, maka hal itu tidak terdapat lagi wujudnya. Sudah menjadi kesepakatan bahwa kubur yang sudah tidak ada bekasnya (tidak nampak tanda-tanda kuburan) adalah tidak mengapa (tidak terkena larangan dalam hadits).
Adapun anggapan bahwa shalat di Hathim itu adalah sebaik-baik tempat untuk melaksanakan shalat dikarenakan adanya kubur Isma’il, maka perkataan ini adalah perkataan khayal yang dikatakan tanpa landasan nash.
Allamah Badruddin al-Hautsi pun menyatakan hal serupa dalam kitab Ziarah al-Qubur halaman 28: “Arti dari menjadikan kuburan sebuah masjid adalah seseorang menjadikan kuburan sebagai kiblat (arah ibadah) dan untuknya dilaksanakan peribadatan”.
Bahkan, ada tiga makna sebagaimana telah dituliskan sebelumnya.
Dalil lain yang dijadikan oleh kaum Wahaby (Salafy gadungan) –terkhusus Ibnu Qoyyim al-Jauziyah- adalah kaidah Sadd adz-Dzarayi’ dimana kaidah itu menyatakan: “Jika sebuah perbuatan secara dzatnya (esensial) dihukumi boleh ataupun sunah, namun dengan melalui perbuatan itu menjadikan seseorang mungkin orang tadi terjerumus ke dalam perbuatan haram maka untuk menghindari hal buruk tersebut -agar orang tadi tidak terjerumus ke dalam jurang tersebut- perbuatan itupun lantas dihukumi haram”. (lihat kembali kitab A’lam al-Muwaqi’in jilid 3 halaman 148).
Dalil di atas tadi secara ringkas dapat kita jawab bahwa; Dalam pembahasan Ushul Fikih disebutkan “Hanya mukadimah untuk pelaksanaan perbuatan wajib yang menjurus secara langsung kepada kewajiban itu saja yang juga dihukumi wajib” seperti kita tahu kewajiban wudhu karena ia merupakan mukadimah langsung dari shalat yang wajib. Begitu juga dengan “mukadimah yang menjurus langsung kepada hal haram, hukumnya pun haram”, jadi tidak mutlak semua mukadimah. Atas dasar ini maka membangun masjid di sisi kuburan manusia mulia (para nabi atau waliyullah) jika tidak untuk tujuan syirik maka tidak menjadi apa-apa (boleh). Dan terbukti mayoritas mutlak masyarakat muslim disaat melakukan hal tersebut dengan niatan penghambaan terhadap Allah (tidak untuk menyekutukan Allah / Syirik). Kalaupun ada seorang muslim yang berniat melakukan syirik, itu merupakan hal yang sangat jarang (baca: minim) sekali.
Aneh ya,….. gara-gara Al-Haafidh Ibnul-Qayyim sejalan dengan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil-Wahhab rahimahumallah, lantas beliau dicap sebagai Wahabi. Nanti bila saya sebutkan Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, Ath-Thabari, atau yang lainnya, jangan-jangan Saudara juga mencap mereka sebagai Wahabi. Ini namanya membabi buta dalam kebencian sehingga menutup mata terhadap fakta. Alangkah aneh,…. Ibnul-Qayyim yang hidup di abad 7 Hijriyyah (wafat tahun 751 H) lekat dengan stigma Wahabi. Ini namanya stigma bersifat “flash back” ………….
Adapun penjelasan kaidah Ushul-Fiqh yang Saudara sebutkan itu tidak nyambung dengan pokok bahasan kaidah Saddudz-Dzara’i yang sedang dikritisi. Saddudz-Dzara’i adalah kaidah agung yang dijelaskan oleh para ulama dalam penghukuman hal-hal yang memicu satu keharaman terjadi. Kaidah ini menjelaskan bahwa sesuatu yang dapat memicu terjadinya keharaman atau diduga kuat menyebabkan keharaman, maka sesuatu itu hukumnya juga haram. Kaidah ini merupakan kaidah agung dalam upaya preventif menutup jalan-jalan yang menyebabkan terjadinya kemunkaran sebelum kemunkaran tersebut benar-benar terjadi. Dalil yang melandasi kaidah ini adalah :
وَلاَ تَقْرَبُواْ الزّنَىَ إِنّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلاً
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” [QS. Al-Israa’ : 32].
Perhatikan ayat di atas ! Sesungguhnya kemunkaran yang dituju pada ayat tersebut adalah “zina”, karena Allah telah menjelaskan bahwa zina merupakan suatu perbuatan yang keji lagi buruk. Namun, penekanan Allah tidak hanya pada “zina” saja. Bahkan Allah telah menutup dan mengharamkan semua jalan menuju “zina” dengan kalimat : { وَلاَ تَقْرَبُواْ الزّنَىَ} “Dan janganlah kamu mendekati zina”. Kalimat nahyi (larangan) itu mengandung konsekuensi bahwa semua hal yang dapat membuka jalan menju zina, maka hukumnya pun haram. Maka, mengumbar pandangan, mengkhayal, berkhalwat, bersentuhan tanpa ada kebutuhan dlaruriy hukumnya haram. Semua perbuatan ini merupakan muqaddimah menuju zina yang sebenarnya. Inilah Saddudz-Dzara’i.
Saya merasa heran kepada Saudara yang dengan ‘enteng’-nya mengatakan bahwa praktek yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yang menyepakati pendapat Saudara jarang sekali terjerembab pada kesyirikan. Betapa banyak akhirnya orang-orang meminta kesembuhan dan dikabulkannya hajat pada orang yang ada di dalam kubur yang mereka anggap sebagai Waliyyullah itu ? Betapa banyak orang shalat di masjid yang ada kuburnya itu sekedar formalitas saja dengan tujuan utama malah ingin mendapat ‘restu’ si penghuni kubur agar cepat punya keturunan (misalnya) ? Ia pun menjadi takut dan gembira karena penghuni kubur yang telah berkalang tanah….
Kubur pun dijadikan perayaan. Lebih ramai dari karnaval 17-an Agustus. Diperingatilah ulang tahun kematian si penghuni kubur secara terus-menerus. Masjid yang ada di atas/samping kubur itu pun dijadikan alat propaganda syi’ar kesyirikan dan kebid’ahan.
Peringatan kepada umat untuk tidak membangun masjid di atas/samping/sisi kubur karena berpotensi membawa ke pintu kesyirikan (sebagaimana telah terjadi pada kenyataannya) bukan hanya dikatakan oleh Ibnul-Qayyim rahimahullah.
Allah berfirman :
قَالَ نُوحٌ رّبّ إِنّهُمْ عَصَوْنِي وَاتّبَعُواْ مَن لّمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاّ خَسَاراً * وَمَكَرُواْ مَكْراً كُبّاراً * وَقَالُواْ لاَ تَذَرُنّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنّ وَدّاً وَلاَ سُوَاعاً وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْراً * وَقَدْ أَضَلّواْ كَثِيراً
Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar." Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr”. Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia). [QS. Nuh : 21-24].
Terkait ayat di atas, Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan satu hadits dalam Shahih-nya :
عن بن عباس رضى الله تعالى عنهما صارت الأوثان التي كانت في قوم نوح في العرب بعد أما ود كانت لكلب بدومة الجندل وأما سواع كانت لهذيل وأما يغوث فكانت لمراد ثم لبني غطيف بالجوف عند سبأ وأما يعوق فكانت لهمدان وأما نسر فكانت لحمير لآل ذي الكلاع أسماء رجال صالحين من قوم نوح فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون أنصابا وسموها بأسمائهم ففعلوا فلم تعبد حتى إذا هلك أولئك وتنسخ العلم عبدت
Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma (ia berkata) : “Patung-patung yang ada di kaum Nuh menjadi sesembahan orang Arab setelah itu. (Patung) Wadd menjadi sesembahan bagi Bani Kalb di Dumatul-Jandal, (patung) Suwaa’ bagi Bani Hudzail, (patung) Yaghuuts bagi Bani Murad dan Bani Ghuthaif di Al-Jauf sebelah Saba’, Ya’uuq bagi Bani Hamdaan, dan Nasr bagi Bani Himyar dan kemudian bagi keluarga Dzul-Kalaa’. Mereka adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, maka syaithan membisikkan kepada kaum mereka (yaitu kaum Nuh) agar meletakkan patung-patung mereka dalam majelis-majelis dimana kaum Nuh biasa mengadakan pertemuan, sekaligus memberi nama patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka. Maka mereka pun melakukannya. Patung tersebut tidaklah disembah pada waktu itu. Akhirnya setelah generasi pertama mereka meninggal dan ilmu telah dilupakan, maka patung-patung tersebut akhirnya disembah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4920].
Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menukil perkataan Muhammad bin Qais dalam Tafsir-nya sebagai berikut :
كانوا قوما صالحين من بني آدم, وكان لهم أتباع يقتدون بهم, فلما ماتوا قال أصحابهم الذين كانوا يقتدون بهم: لو صوّرناهم كان أشوق لنا إلى العبادة إذا ذكرناهم, فصوّروهم, فلما ماتوا, وجاء آخرون دبّ إليهم إبليس, فقال: إنما كانوا يعبدونهم, وبهم يُسقون المطر فعبدوهم.
“Mereka (Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr) adalah kaum shalih dari bani Adam yang mempunyai banyak pengikut. Ketika mereka meninggal, maka berkatalah shahabat-shahabat dari kalangan pengikut mereka : ‘Jika kita membuat gambar-gambar mereka, maka kita akan semakin tekun beribadah ketika mengingat mereka’. Maka mereka pun membuat gambar mereka. Ketika mereka (generasi pertama) meninggal, datanglah generasi berikutnya dimana Iblis mulai melakukan tipu daya kepada mereka. Iblis berkata : ‘Orang-orang sebelum kamu membuat gambar-gambar tersebut tidak lain hanyalah untuk menyembah orang-orang shalih tersebut yang dengannya mereka meminta diturunkan hujan’. Akhirnya mereka pun menyembahnya” [Tafsir Ath-Thabari, QS. Nuh : 23-24].
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata :
وإنما صور أوائلهم الصور ليتأسوا بها ويتذكروا أعمالهم الصالحة ، فيجتهدوا كاجتهادهم ، ويعبدوا الله عند قبورهم ، ثم خلفهم قوم جهلوا مرادهم ووسوس لهم الشيطان أن أسلافهم كانوا يعبدون هذه الصور ويعظمونها . فحذر النبي صلى الله عليه وسلم عن مثل ذلك ، سداً للذريعة المؤدية إلى ذلك
“Mula-mula para pendahulu mereka membuat patung orang-orang shalih itu adalah agar dapat meneladani mereka dan mengenang mengingat perbuatan-perbuatan shalih mereka, sehingga dapat memiliki kesungguhan beribadah yang sama seperti mereka. Karenanya, mereka menyembah Allah di sisi kuburan mereka. Kemudian setelah mereka meninggal, datanglah generasi generasi yang tidak mempunyai pengetahuan cukup terhadap agama sehingga tidak mengerti maksud pendahulu mereka, lalu syaithan membisikkan pada mereka bahwa pendahulu mereka tersebut menyembah patung-patung itu dan mengagungkannya. Oleh karena itulah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang terjadinya hal demikian untuk menutup rapat-rapat segala hal yang dapat mengarah ke perbuatan tersebut (Saddu lidz-Dzari’ah)” [Lihat Fathul-Majiid hal. 218 – Maktabah Taufiqiyyah, Cairo].
Dalam kesempatan lain Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah juga berkata :
وكل ذلك لقطع الذريعة المؤدية إلى عبادة من فيها كما كان السبب في عبادة الأصنام
"Semua itu dimaksudkan untuk memutus jalan yang menjurus kepada ibadah terhadap orang yang ada di dalam kubur tersebut. Sebagaimana halnya yang terjadi pada orang-orang yang menyembah berhala" [idem, hal. 220].
Al-Imam Ibnu Baththal rahimahullah ketika menjelaskan hukum menjadikan kubur kaum muslimin sebagai masjid/tempat ibadah, menukil perkatan Al-Muhallab :
وإنما نهى عن ذلك، والله أعلم، قطعًا للذريعة ولقرب عبادتهم الأصنام واتخاذ القبور والصورة آلهة
“Sesungguhnya termasuk larangan dari hal itu wallaahu a’lam. Yaitu dikarenakan untuk memutuskan perantara dan pendekatan diri mereka dalam beribadah kepada berhala, serta memutuskan upaya menjadikan gambar dan patung sebagai tuhan” [8] [Syarhul-Bukhari li-Ibni Baththal Al-‘Ukbari 3/96].
Al-Imam As-Suyuthi dalam Ad-Durrul-Mantsur (6/269) berkata : Diriwayatkan oleh ‘Abdun bin Humaid dari Abu Muthahhir, dia bercerita di sisi Abu Ja’far (yaitu Al-Baqir) Yazib bin Al-Muhallab, dia bercerita : “Sesungguhnya dia telah terbunuh di permukaan bumi yang menjadi tempat penyembahan selain Allah”. Kemudian dia menyebutkan Wadd. Dia menyebutkan bahwa Wadd adalah seorang muslim yang sangat dicintai kaumnya. Ketika meninggal dunia, kaumnya berkumpul di sekitar kuburnya di tanah Babil. Dan mereka pun merasa kasihan padanya. Ketika Iblis mengetahui kesedihan mereka padanya, Iblis tersebut kemudian berpakaian menyerupai manusia dan kemudian berkata,”Aku tahu rasa sedih kalian terhadap orang ini. Apakah kalian mau aku buatkan gambar sesuatu yang mirip dengannya, sehingga dengan tetap berada di perkumpulan kalian, kalian bisa mengingatnya ?”. Mereka menjawab : “Mau”. Lalu Iblis membuat gambar yang mirip dengan orang shalih tersebut (Wadd), kemudian mereka meletakkannya di tempat perkumpulan mereka sambil mengingat-ingatnya. Setelah mereka selalu mengingat-ingatnya Iblis pun berkata,”Apakah kalian mau aku buatkan patung yang menyerupai wajahnya di rumah masing-masing kalian ?”. Mereka menjawab : “Mau”. Lalu Iblis pun membuatnya lagi setiap rumah satu patung yang menyerupai orang shalih tersebut. Mereka pun menyambutnya dan terus-menerus mengingat orang tersebut melalui patung itu”. Kemudian ia (Al-Baqir) menceritakan : “Anak-anak mereka pun mengetahui hal itu seraya melihat yang mereka kerjakan dengan patung itu. Hingga akhirnya mereka melahirkan banyak keturunan. Lalu, anak-anak mereka pun mempelajari cara mengingat orang shalih tersebut melalui patung itu, hingga akhirnya mereka menjadikannya sebagai ilah selain Allah” [selesai].
Dari riwayat tersebut, para ulama telah menjelaskan bahwa sebenarnya generasi pertama kaum Nuh bukanlah penyembah berhala. Namun kemudian mereka tertipu oleh Iblis/syaithan untuk membuat hal-hal yang mereka anggap dapat menyempurnakan ibadah mereka, namun ternyata malah membuka jalan ke pintu kesyirikan. Sama halnya dengan pembangunan masjid di kuburan yang diniatkan untuk ber-tabarruk dan mengenang orang-orang shalih yang telah meninggal. Mereka menganggap bahwa beribadah di masjid tersebut lebih afdlal dan lebih sempurna karena keberadaan orang shalih yang ada di liang kubur itu, dibandingkan masjid lainnya. Alasan ini mirip dengan alasan generasi pertama kaum Nuh dimana mereka membuat patung-patung hanya untuk mencari barakah dan agar mereka semakin giat dalam beribadah. Begitulah cara syaithan menjerumuskan manusia ke lembah kesyirikan. Mereka memulai dari hal-hal yang dipandang remeh di mata sebagian manusia. Bagaikan kerbau yang digembala - sedikit-demi sedikit syaithan membawa manusia ke masuk ke pintu syubhat dan bid’ah hingga akhirnya benar-benar masuk kepada kesyirikan yang nyata.
Sangatlah tepat apa yang dikatakan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berikut :
“Oleh karena itu Allah dan Rasul-Nya melarang mendirikan masjid di atas kuburan. Inilah yang pada umumnya menjerumuskan umat-umat terdahulu ke dalam syirik akbar atau yang lebih rendah daripada itu (yaitu syirik ashghar). Kesyirikan akibat mengagungkan kuburan orang yang diyakini keshalihannya lebih dekat kepada hati manusia dibandingkan syirik akibat menyembah pohon atau batu. Oleh sebab itu, kita sering menjumpai ahli syirik duduk dengan tenang dan khusyu’ di sisi kuburan melakukan ibadah yang tidak pernah mereka lakukan di rumah-rumah Allah dan di waktu sahur. Bahkan di antara mereka ada yang sujud menghadap kuburan dan (kebanyakan mereka) berharap memperoleh barakah shalat dan berdoa di sisi kubur, yang tidak pernah mereka harapkan sewaktu mereka berada di masjid. Karena mafsadah (kerusakan) inilah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memutuskan sumbernya. Bahkan dengan tegas beliau melarang shalat di kuburan sama sekali, meskipun ia tidak bermaksud mencari barakah dengan shalat di tempat itu. Jika seseorang shalat di sisi kuburan dengan tujuan untuk mendapatkan barakah dengan shalat di tempat itu, ini sesungguhnya penentangan terhadap Allah dan Rasul-Nya, meyelisihi agama-Nya, dan melaksanakan kebid’ahan yang tidak diijinkan Allah. Dan kaum muslimin telah sepakat berdasarkan apa yang mereka ketahui dengan pasti dari agama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ini bahwa shalat di sisi kubur siapapun adalah terlarang” [Iqtidlaa’ Shiraathil-Mustaqiim 2/680-681; Maktabah Ar-Rasyid].
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :
قال العلماء: إنما نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن اتخاذ قبره وقبر غيره مسجداً خوفاً من المبالغة في تعظيمه والافتتان به،
“Para ulama telah berkata bahwa larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menjadikan kubur beliau dan kubur yang lainnya sebagai masjid/tempat ibadah hanyalah dikarenakan kekhawatiran beliau dari berlebih-lebihannya (kaum muslimin) dalam mengagungkannya dan terfitnah dengannya” [Syarah Shahih Muslim lin-Nawawi Bab An-Nahyi ‘an Banaail-Masaajid ‘alal-Qubuur wa Ittikhaadzish-Shuwari fiiha wan-Nahyi ‘an Ittikhaadzil-Qubuuri Masajid].
Maka, sangatlah mengherankan jika Saudara mengklaim bahwa kaum muslimin yang pro dengan pendapat Saudara itu tidak ada (atau sedikit menurut bahasa yang Saudara pakai) yang melakukan kesyirikan ketika beribadah di masjid komplek pekuburan. Selain niat tabarruk itu sendiri sudah bermasalah (sebagaimana telah dijelaskan dalam uraian sebelumnya), tindakan mendirikan masjid di kuburan orang (yang dianggap) shalih itu sendiri merupakan muqaddimah menuju kesyirikan. Kenyataannya, orang yang melakukan kesyirikan di masjid-masjid komplek pekuburan itu saat ini jumlahnya tidaklah sedikit. Banyak orang yang meminta pelancar rejeki, dibereskan urusan, dipercepat jodoh, dan yang semisal kepada kubur orang-orang yang dianggap Wali. Ya…. habis shalat di masjid, disusul ngalap berkah, dan sekalian ngadep ke “almarhum Kyai Anu” untuk mengabulkan permintaan. Tidak lupa tersedia/terjual ayam sembelihan, bunga tujuh rupa, kitab mujarobat kubra, dan lain-lain. Pak imam yang juga merangkap juru kunci makam pun siap menjadi mediator tawassul-an bagi para pengunjung kepada “almarhum Kyai Anu”. Benar-benar one stop praying. Paket lengkap !!!
Dalil inti yang dapat dijadikan argument diskusi dengan pengikut Wahaby dalam masalah pelarangan membangun masjid di sisi makam para manusia Saleh adalah ayat dan prilaku Salaf Saleh. Di sini akan kita sebutkan beberapa dalil saja untuk meringkas pembahasan.
Dalam ayat 21 dari surat al-Kahfi disebutkan: “Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. orang-orang yang berkasa atas urusan mereka berata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya””. Jelas sekali bahwa mayoritas masyarakat ahli tauhid (monoteis) kala itu sepakat untuk membangun masjid di sisi makam para penghuni gua (Ashabul-Kahfi). Tentu kaum Wahaby pun sepakat dengan kaum muslimin lainnya bahwa al-Quran bukan hanya sekedar kitab cerita yang hanya begitu saja menceritakan peristiwa-peristiwa menarik zaman dahulu tanpa memuat ajaran untuk dijadikan pedoman hidup kaum muslimin. Jika kisah pembuatan masjid di sisi makam Ashabul-Kahfi merupakan perbuatan syirik maka pasti Allah swt menyindir dan mengkritik hal itu dalam lanjutan kisah al-Quran tadi, karena syirik adalah perbuatan yang paling dibenci oleh Allah swt. Namun terbukti Allah swt tidak melakukan peneguran baik secara langsung maupun secara tidak langsung (sindiran). Atas dasar itu pula terbukti para ulama tafsir Ahlusunah menyatakan bahwa para penguasa kala itu adalah orang-orang yang bertauhid kepada Allah swt, bukan kaum musyrik penyembah kuburan (Quburiyuun), istilah yang sering dipakai kaum Wahaby untuk menyerang kaum muslimin yang menghormati makam para wali Allah. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh az-Zamakhsari dalam kitab Tafsir al-Kassyaf jilid 2 halaman 245, Fakhrurrazi dalam kitab Mafatihul Ghaib jilid 21 halaman 105, Abu Hayyan al-Andalusy dalam kitab al-Bahrul Muhith dalam menjelaskan ayat 21 dari surat al-Kahfi tadi dan Abu Sa’ud dalam kitab Tafsir Abi Sa’ud jilid 5 halaman 215.
Kita jawab alasan tersebut dari dua sisi sebagai berikut :
1. Telah masyhur dalam kaidah Ushul tentang { أن شريعة من قبلنا ليست شريعة لنا} “Syari’at orang-orang sebelum kita pada asalnya tidaklah menjadi syari’at kita”. [9] Apalagi jika itu bertentangan secara jelas dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Syari’at orang-orang sebelum kita hanyalah bisa kita terima jika memang sesuai dan tidak bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
Banyak sekali nash-nash dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskannya. Satu contoh : Allah telah menetapkan hari Sabtu untuk orang Yahudi sebagai hari beribadah, sebagaimana firman-Nya :
إِنّمَا جُعِلَ السّبْتُ عَلَىَ الّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ
Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya. [QS. An-Nahl : 124].
Jika mengikuti alur logika Saudara, tentu kita juga wajib untuk mengagungkan hari Sabtu. Sebab, ini merupakan firman dan perintah dari Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an. Namun,….. apakah memang begini pola berpikirnya ? Kewajiban tersebut telah mansukh dan tidak berlaku bagi umat Islam, sebab Allah telah menetapkan hari khusus bagi umat Islam, yaitu hari Jum’at.
Begitu pula untuk kasus pendirian masjid di atas kuburan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan bahwa hal itu bukan merupakan syari’at Islam dengan sabdanya :
عن الحارث النجراني قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم قبل أن يموت بخمس وهو يقول : "ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد ، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد إني أنهاكم عن ذلك "
Dari Al-Harits An-Najrani dia bercerita : Aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wasiat lima hari sebelum wafat : “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para Nabi mereka dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Maka, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesunguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/374-375; shahih sesuai persyaratan Muslim].
2. Jikalau Saudara menolak jawaban kami di point 1, maka dalam ayat tersebut juga tidak ada pernyataan secara tegas bahwa pembangunan masjid itu merupakan syari’at dan perintah dari Allah atau merupakan tindakan raja/penguasa semata. Perhatikan secara cermat ayat tersebut :
وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوَاْ أَنّ وَعْدَ اللّهِ حَقّ وَأَنّ السّاعَةَ لاَ رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُواْ ابْنُواْ عَلَيْهِمْ بُنْيَاناً رّبّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الّذِينَ غَلَبُواْ عَلَىَ أَمْرِهِمْ لَنَتّخِذَنّ عَلَيْهِمْ مّسْجِداً
Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: "Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka." Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya." [QS. Al-Kahfi : 21].
Ayat tersebut mengandung ihtimal (kemungkinan) bahwa orang yang berniat dan memerintahkan untuk membangun masjid di atas goa tempat kubur para pemuda Ashaabul-Kahfi adalah orang-orang kafir di jaman itu. Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas menukil perkataan Ibnu Jarir Ath-Thabari bahwa ada dua pendapat mengenai status orang-orang tersebut : Pertama, mereka adalah orang-orang Islam di antara mereka; dan Kedua, mereka adalah orang-orang musyrik di antara mereka. Dan di sini, kemungkinan kedua lah yang nampaknya lebih kuat. Hal ini didasari oleh dalil tentang laknat Allah kepada orang Yahudi :
عن أبي هريرة : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (قاتل الله اليهود، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد)
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Semoga Allah memerangi (mengutuk) orang-orang Yahudi dimana mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 437, Muslim no. 530, Abu Dawud no. 3227, An-Nasa’iy 4/95, Abu Ya’laa no. 5844, Ahmad 2/284, dan yang lainnya].
Dalam hadits di atas (juga hadits-hadits lain sebagaimana telah dituliskan sebelumnya) nampak bahwa larangan menjadikan kubur sebagai masjid (tempat peribadatan) telah ada semenjak jaman para Nabi diutus kepada orang Yahudi. Dan ini tentu jauh sebelum jaman Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Maka dari itu Al-Hafidh Ibnu Rajab Al-Hanbaly rahimahullah ketika menjelaskan hadits pelaknatan Allah kepada kaum Yahudi yang telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid; mengatakan :
وقد دل القرآن على مثل ما دل عليه هذا الحديث ، وهو قول الله عزوجل في قصة أصحاب الكهف :{ قال الذين غلبوا على أمرهم لنتخذن عليهم مسجداً } فجعل اتخاذ القبور على المساجد من فعل أهل الغلبة على الأمور ، وذلك يشعر بان مستنده القهر والغلبة واتباع الهوى وأنه ليس من فعل أهل العلم والفضل المنتصر لما أنزل الله على رسله من الهدى
“Al-Qur’an juga telah menunjukkan seperti apa yang ditunjukkan oleh hadits ini, yaitu firman Allah ‘azza wa jalla tentang kisah Ashhaabul-Kahfi : “Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya” (QS. Al-Kahfi : 21). Dengan demikian, Allah ‘azza wa jalla telah mengkatagorikan tindakan menjadikan kubur sebagai masjid merupakan perbuatan orang-orang yang berkuasa mengendalikan urusan. Dan itu menunjukkan bahwa sandarannya adalah pemaksaan dan kekuasaan serta ketundukan terhadap hawa nafsu. Hal itu bukan merupakan perbuatan ulama yang selalu mendapatkan pertolongan Allah, dimana Allah telah menurunkan beberapa petunjuk-Nya kepada Rasul-Nya” [Fathul-Baari bi-Syarhil-Bukhari 65/280 oleh Ibnu Rajab Al-Hanbaly – melalui perantara Tahdziirus-Saajid hal. 42].
Itu saja yang dapat dituliskan. Lebih kurangnya mohon maaf.
Wallaaahu ta’ala a’lam.
Semoga ada manfaatnya.
[1] Tafsir Al-Qurthubi (4/139).
[2] Dikecualikan dengan air zam-zam, sebab ada dalil shahih yang menyebutkan tentang keutamaannya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
خَيْرُ الْمَاءِ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ...
“Sebaik-baik air yang ada di muka bumi adalah air zam-zam” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir 11/98; hasan].
[3] Dikecualikan atas shalat jenazah bagi orang yang tidak sempat menshalatkannya. Diperbolehkan baginya shalat jenazah di kubur jenazah tersebut dengan dalil hadits Abdullah bin ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata :
مات إنسان، كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعوده، فمات بالليل، فدفنوه ليلا، فلما أصبح أخبروه، فقال: (ما منعكم أن تعلموني). قالوا: كان الليل فكرهنا، وكانت ظلمة، أن نشق عليك، فأتى قبره فصلى عليه.
“Ada seseorang meninggal dunia di malam hari – yang Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam telah menjenguknya – lalu mereka menguburkannya di malam hari. Dan pada pagi harinya mereka memberitahu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bertanya : ‘Apa yang menghalangi kalian untuk memberitahuku ?’. Mereka menjawab : “Waktunya sudah malam lagi sangat gelap, sehingga kami tidak ingin menyusahkanmu”. Kemudian beliau mendatangi kuburannya dan kemudian menshalatinya (yaitu shalat jenazah)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1247 dan Ibnu Majah no. 1530].
Para ulama telah menjelaskan bahwa shalat jenazah diperbolehkan di masjid karena pada shalat tersebut tidak terdapat rukuk dan sujud.
[4] Adapun klaim sebagian orang di beberapa negara yang mengaku punya beberapa helai rambut, pakaian, dan yang lainnya dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka ini klaim-klaim yang tidak benar.
[5] Di antara tokohnya adalah Muhammad Alawi Abbas, Yusuf Sahid Hasyim Ar-Rifa’i, Muhammad Amin Al-Kurdi, Al-Buthi, dan yang lainnya.
[6] Apalagi lebih dari satu kubur !!
[7] Silakan lihat selengkapnya dalam QS. Al-Israa’ : 23-38.
[8] Akan tetapi di sini Al-Muhallab mengatakan bahwa terdapat keluasan dimana seseorang dapat berpaling ke arah kanan atau kiri dari tempatnya (agar tidak menghadap ke kubur), karena menghadap ke shalat kubur dapat membuat shalat tidak sah. Dan yang benar, adalah tetap tidak diperbolehkan shalat walaupun ia berada di sisi kubur karena telah tetap larangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk tidak shalat di antara kubur (walau tidak menghadap ke kubur) sebagaimana telah disebutkan di atas.
[9] Salah satunya bisa ditengok dalam kitab Al-Ihkaam karya Ibnu Hazm.
Artikel ini disalin dari
www.abul-jauzaa.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)