Selasa, 12 Oktober 2010

Apa Hukum Sutrah Dalam Shalat

Abu Al-Jauzaa' :, 01 Oktober 2010

Artikel ini disalin dari http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/10/apa-hukum-sutrah-dalam-shalat.html

Para ulama berbeda pendapat tentang permasalahan ini, yang terbagi menjadi dua kelompok besar. Jumhur ulama mengatakan sunnah (bukan wajib) – bahkan Ibnu Rusyd [Bidaayatul-Mujtahid, 1/121; Daarul-Hadiits] mengutip adanya ijma’ akan ketidakwajiban ini - , sedangkan sebagian ulama mengatakan wajib.


Di antara mereka yang mengatakan sunnah antara lain : Abu Haniifah, As-Syaafi’iy, Ahmad, Ibnu Qudaamah, An-Nawawiy, Ibnu Rajab, Ibnu ‘Aabidin, Ibnu Baaz, Ibnu ‘Utsaimiin, Lajnah Daaimah, dan yang lainnya.[1] Berikut sebagian perkataan ulama yang berpegang pada pendapat ini :
Abu Haniifah rahimahullah berkata :
ولا بأس أن يترك السترة إذا أمن المرور ولم يواجه الطريق
“Tidak mengapa meninggalkan sutrah (ketika shalat) apabila aman dari orang lewat dan tidak menghadap ke jalan” [Al-Fatawaa Al-Hindiyyah, 3/344; Daarul-Fikr].
Ibnu Rusyd rahimahullah berkata :
واتفق العلماء بأجمعهم على استحباب السترة بين المصلي والقبلة إذا صلى ، مفرداً كان أو إماماً
“Para ulama telah sepakat dengan ijma’ mereka tentang disukainya sutrah (yang diletakkan) antara orang yang shalat dan kiblat sewaktu shalat, baik shalat sendiri atau sebagai imam” [Bidaayatul-Mujtahid, 1/121].[2]
Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata :
السترة ليست شرطاً في الصلاة وإنما هي مستحبة
“Sutrah bukan merupakan syarat dalam shalat. Ia hanyalah disunnahkan saja” [Al-Mughniy, 4/6; Daarul-Fikr].
An-Nawawiy rahimahullah berkata :
يُستحبُ للمُصلي أن يكون بين يديه سترة من جداراً أو سارية أو غيرها ويدنو منها بحيث لا يزيدُ بينهما على ثلاثة أذرع
“Disunnahkan bagi orang yang shalat agar meletakkan sutrah di depannya, yang berupa tembok, tiang, atau yang lainnya dan mendekat kepadanya dengan jarak (antara dirinya dengan sutrah) tidak lebih dari tiga hasta” [Raudlatuth-Thaalibiin, 1/398; Al-Maktabah Al-Islaamiy].
Ibnu Baaz rahimahullah berkata :
الصلاة إلى سترة سنة مؤكدة وليست واجبة
“Shalat menghadap sutrah adalah sunnah muakkadah (yang sangat ditekankan), dan bukan kewajiban” [Tuhfatul-Ikhwaan bi-Ajwibati Tata’allaqa bi-Arkaanil-Islaam, hal. 81].
Ibnu ‘Utsaimiin rahimahullah berkata :
السترة في الصلاة سنة مؤكدة إلا للمأموم فإن المأموم لا يُسن له اتخاذ سترة اكتفاءً بسترة الإمام
“Sutrah dalam shalat hukumnya sunnah muakkadah, kecuali bagi makmun. Karena makmum tidak disunnahkan memakai sutrah, dimana mereka telah dicukupkan dengan sutrahnya imam” [Fataawaa Arkaanil-Islaam, hal. 343 soal no. 267].
Dalil utama yang mereka pakai adalah :
عن كثير بن كثير بن المطلب بن أبي وداعة عن بعض أهله عن جده أنه : رأى النبي صلى الله عليه وسلم يصلي مما يلي باب بني سهم والناس يمرون بين يديه وليس بينهما سترة
Dari Katsiir bin Katsiir bin Al-Muthallib bin Abi Widaa’ah, dari sebagian keluarganya, dari kakeknya : Bahwasannya ia pernah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat di tempat setelah pintu Bani Sahm. Orang-orang lewat di depan beliau, sementara tidak ada sutrah antara keduanya (Nabi dengan Ka’bah)[Diriwayatkan oleh Ahmad 6/399, Abu Daawud no. 2016, dan yang lainnya].
عن الفضل بن عباس قال : أتانا رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن في بادية لنا ومعه عباس فصلى في صحراء ليس بين يديه سترة
Dari Al-Fadhl bin ‘Abbaas, ia berkata : Kami mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kami berada di gurun. Beliau bersama ‘Abbaas, maka beliau shalat di gurun sahara dimana tidak ada di depan beliau sutrah” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/224, Abu Daawud no. no. 718, dan yang lainnya].
عن عبد الله بن عباس قال : أقبلت راكبا على حمار أتان، وأنا يؤمئذ قد ناهزت الاحتلام، ورسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي بمنى إلى غير جدار، فمررت بين يدي بعض الصف، وأرسلت الأتان ترتع، فدخلت في الصف، فلم ينكر ذلك علي.
Dari ‘Abdullah bin ‘Abbaas, ia berkata : “Aku datang dengan menunggang keledai betina, yang saat itu aku hampir menginjak masa baligh, dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat di Mina tanpa tidak menghadap dinding. Maka aku lewat di depan sebagian shaf kemudian aku melepas keledai betina itu supaya mencari makan sesukanya. Lalu aku masuk kembali di tengah shaf dan tidak ada orang yang menyalahkanku" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 76, 493, 861, 1857, dan 4412].
Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
قوله إلى غير جدار أي إلى غير سترة قاله الشافعي
“Perkataannya ‘tanpa menghadap tembok’; maksudnya adalah tanpa menghadap sutrah. Hal itu dikatakan oleh Asy-Syaafi’iy” [Fathul-Baariy, 1/171].
Adapun ulama yang mengatakan wajib antara lain : Ahmad dalam satu riwayatnya, Ibnu Hazm, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hajar Al-Haitamiy, Asy-Syaukaaniy, Al-Albaniy, Al-Wadi’iy, dan yang lainnya. Berikut sebagian perkataan ulama yang berpegang pada pendapat ini :
Ibnu Khuzaimah rahimahullah berkata :
فهذه الأخبار كلها صحاح قد أمر النبي صلى الله عليه وسلم المصلي أن يستتر في صلاته وزعم عبد الكريم عن مجاهد عن بن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى إلى غير سترة وهو في فضاء لأن عرفات لم يكن بها بناء على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم يستتر به النبي صلى الله عليه وسلم وقد زجر صلى الله عليه وسلم أن يصلي المصلي إلا إلى سترة وفي خبر صدقة بن يسار سمعت بن عمر يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تصلوا إلا إلى سترة وقد زجر صلى الله عليه وسلم أن يصلي المصلي إلا إلى سترة فكيف يفعل ما يزجر عنه صلى الله عليه وسلم
“Semua khabar ini adalah shahih. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan orang yang melakukan shalat agar memakai sutrah dalam shalatnya. Dan telah berkata ‘Abdul-Kariim, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Abbaas : ‘Bahwasannya Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat tanpa menghadap sutrah di tanah lapang’[3]. Hal ini dikarenakan ‘Arafah tidak mempunyai bangunan di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang dengannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dapat bersutrah. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seseorang yang akan melakukan shlat kecuali menghadap sutrah. Dalam hadits Shadaqah bin Yasaar (ia berkata) : Aku mendengar Ibnu ‘Umar berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Janganlah kalian shalat kecuali menghadap ke sutrah’. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seseorang yang akan melakukan shalat kecuali menghadap sutrah; lantas bagaimana bisa beliau melakukan sesuatu yang beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri larang ?” [Shahih Ibni Khuzaimah, 2/27-28; Al-Maktab Al-Islaamiy].
Ibnu Hajar Al-Haitamiy rahimahullah berkata :
السترة واجبة عند جماعة من العلماء
“Sutrah adalah wajib menurut sekelompok ulama” [Al-Fataawaa Al-Fiqhiyyah Al-Kubraa, 2/141; Daarul-Fikr].
Asy-Syaukaaniy rahimahullah berkata :
قوله فليُصلِ إلى سترة فيه أن اتخاذ السترة واجب
“Perkataan beliau ‘maka, hendaklah ia shalat menghadap sutrah’; padanya terdapat satu petunjuk bahwa mengambil sutrah (saat shalat) adalah wajib” [Nailul-Authaar, 3/5; Daarul-Hadiits].
Al-Wadi’iy rahimahullah berkata :
أما اتخاذ السترة فالصحيح الوجوب لقوله صلى الله عليه وسلم إذا صلى أحدكم فليصل إلى سترة وليدنُ منها
“Adapun permasalahan mengambil sutrah (ketika shalat), maka yang benar hukumnya adalah wajib berdasaran sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Apabila salah seorang di antara kalian shalat, maka shalatlah menghadap ke sutrah dan mendekatlah kepadanya” [Dalam muhaadlarah beliau – As-ilah Al-Ikhwati min Amriikaa].
Ulama yang berpendapat wajib berpegang pada banyak dalil, sedikit di antaranya yang dapat disebutkan :
عن ابن عمر يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تصل إلا إلى سترة ولا تدع أحدا يمر بين يديك فإن أبى فلتقاتله فإن معه القرين
Dari Ibnu ‘Umar ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sutrah (pembatas). Dan jangan engkau biarkan seorangpun lewat di hadapanmu (ketika engkau shalat). Jika ia enggan, maka perangilah ia, sesungguhnya ia bersama dengan qarin (syaithan)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah no. 800].
عن أبي سعيد الخدري قال : قال رسول اللّه صلى الله عليه وسلم: إذا صلى أحدكم فليصل إلى سترة وليدن منها
Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang di antara kalian shalat, hendaknya ia shalat dengan menghadap ke sutrah dan mendekatlah padanya” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 698].
عن موسى بن طلحة، عن أبيه؛ قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "إذا وضع أحدكم بين يديه مثل مؤخرة الرحل فليصل. ولا يبال من مر وراء ذلك".
Dari Muusaa bin Thalhah, dari ayahnya, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang di antara kalian meletakkan sesuatu di depannya seukuran pelana kuda (untuk dijadikan sutrah), hendaknya ia shalat. Dan janganlah ia pedulikan orang-orang yang yang melintas di belakangnya (sutrah)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 241].
Hadits-hadits di atas – dan juga selainnya – berisi perintah. Sesuai dengan kaidah ushul fiqh bahwa asal dari sebuah perintah menunjukkan akan wajibnya, kecuali ada dalil yang memalingkannya. Dan dalam hal ini – menurut mereka - , tidak ada dalil shahih yang memalingkan asal kewajiban tersebut.
Pembahasan
Pembahasan dalam permasalahan hukum sutrah ini akan berputar pada pembahasan dalil yang dianggap memalingkan dari asal kewajiban dalam perintah. Atau dengan kata lain, adakah dalil shahih dan sharih (jelas) dari perkataan atau perbuatan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang tidak wajibnya sutrah ? Pernahkan beliau shalat tanpa menggunakan sutrah ?
Para ulama yang berpendapat sunnahnya telah membawakan beberapa dalilnya. Sekarang akan kita bahas secara ringkas apakah pendalilan tersebut berterima ataukah tidak.
1. Hadits Al-Muthallib bin Abi Widaa’ah radliyallaahu 'anhu.
حدثنا أحمد بن حنبل، ثنا سفيان بن عيينة، قال: حدثني كثير بن كثير بن المطلب بن أبي وداعة عن بعض أهله، عن جده أنه رأى النبي صلى اللّه عليه وسلم يصلي مما يلي باب بني سهمٍ والناس يمرون بين يديه، وليس بينهما سترة
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan bin ‘Uyainah, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Katsiir bin Katsiir bin Al-Muthallib bin Abi Widaa’ah, dari sebagian keluarganya, dari kakeknya : Bahwasannya ia pernah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat di tempat setelah pintu Bani Sahm. Orang-orang lewat di depan beliau, sementara tidak ada sutrah antara keduanya [Diriwayatkan oleh Ahmad 6/399 dan Abu Daawud no. 2016].
Diriwayatkan juga oleh Al-Humaidiy no. 588, Al-Fasawiy dalam Al-Ma’rifah 2/702, Abu Ya’laa no. 7173, serta Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 1/461 dan Syarh Musykilil-Aatsaar 7/23 no. 2607; semuanya dari jalan Sufyaan bin ‘Uyainah, dari Katsiir bin Katsiir, dan selanjutnya seperti hadits di atas.
Diriwayatkan juga oleh Ibnu Hibbaan dalam Al-Mawaarid 2/119 no. 414 dari jalan Zuhair bin Muhammad Al-‘Anbariy, dari Katsii bin Katsiir, dan selanjutnya seperti hadits di atas.
Sanad ini lemah karena mubham-nya perantara antara Katsiir bin Katsiir dengan kakeknya.
Sufyaan bin ‘Uyainah telah diselisihi oleh Ibnu Juraij dimana ia meriwayatkan dari Katsiir bin Katsiir, dari ayahnya, dari kakeknya secara marfu’, sebagaimana diriwayatkan oleh : Ahmad 6/399, Ibnu Maajah no. 2958, An-Nasaa’iy 2/67 & 5/235, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykil-Aatsaar 7/23 no. 2608, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 20/289-290 no. 683.
Diriwayatkan juga oleh ‘Abdurrazzaaq no. 2387, Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Aahaadul-Matsaaniy no. 814, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar 7/25 no. 2609 dan Syarh Ma’aanil-Aatsaar 1/461, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 20/288 no. 680 & 20/289 no. 682 & 20/290-291 no. 685 & 687, Ibnu Hibbaan no. 2364, dan Ibnu Qaani’ 3/101; semuanya dari jalan Katsiir bin Katsiir, dari ayahnya, dari kakeknya secara marfuu’.
Selain itu, Ibnu Juraij juga meriwayatkan dari Katsiir bin Katsiir, dari ayahnya, dari beberapa pembesar (Bani) Al-Muthallib, dari Al-Muthallib sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy 20/290 no. 684; akan tetapi ini tidak mahfudh sebagaimana dikatakan Al-Baihaqiy 2/273.
Sufyan bin ‘Uyainah pernah meng-cross check kebenaran riwayat Katsiir bin Katsiir dari ayahnya ini, kepada Katsiir bin Katsiir secara langsung.
قال سفيان وكان ابن جريج أنبأ عنه قال حدثنا كثير عن أبيه فسألته فقال ليس من أبي سمعته ولكن من بعض أهلي عن جدي : أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى مما يلي باب بني سهم ليس بينه وبين الطواف سترة
Telah berkata Sufyaan : “Ibnu Juraij telah memberitakan darinya : Telah menceritakan kepada kami Katsiir, dari ayahnya. Maka aku pun bertanya kepada Katsiir, dan ia berkata : ‘Bukan dari ayahku aku mendengar riwayat itu, akan tetapi dari sebagian keluargaku, dari kakekku : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di tempat setelah pintu Bani Sahm. Tidak ada sutrah antara beliau dengan orang-orang yang thawaf” [Diriwayatkan oleh Ahmad 6/399, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar 7/23-24, dan Al-Baihaqiy 2/273].
Ringkasnya, riwayat Al-Muthallib bin Abi Widaa’ah ini tidak shahih (dla’iif).
2. Al-Fadhl bin Al-‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa.
حدثنا عبد الملك بن شعيب بن الليث قال حدثني أبي عن جدي عن يحيى بن أيوب عن محمد بن عمر بن علي عن عباس بن عبيد الله بن عباس عن الفضل بن عباس قال : أتانا رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن في بادية لنا ومعه عباس فصلى في صحراء ليس بين يديه سترة وحمارة لنا وكلبة تعبثان بين يديه فما بالى ذلك
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik bin Syu’aib bin Al-Laits, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari kakekku, dari Yahyaa bin Ayyuub, dari Muhammad bin ‘Umar bin ‘Aliy, dari ‘Abbaas bin ‘Ubaidillah bin ‘Abbaas, dari Al-Fadhl bin ‘Abbaas, ia berkata : Kami mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kami berada di gurun. Beliau bersama ‘Abbaas, maka beliau shalat di sahara dimana tidak ada di depan beliau sutrah. Sementara itu seekor keledai dan seekor anjing berman-main di depan beliau, dan beliau pun tidak menghiraukannya” [Diriwayatkan Abu Daawud no. 718].
‘Abdul-Malik bin Syu’aib bin Al-Laits bin Sa’d Al-Fahmiy Al-Mishriy, Abu ‘Abdillah; seorang yang tsiqah (w. 248 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [At-Taqriib, hal. 623 no. 4213].
Syu’aib bin Al-Laits bin Sa’d bin ‘Abdirrahmaan Al-Fahmiy Al-Mishriy, Abu ‘Abdil-Malik; seorang yang tsiqah, pandai, lagi faqiih (135-199 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 438 no. 2821].
Al-Laits bin Sa’d bin ‘Abdirrahmaan Al-Fahmiy Al-Mishriy, Abul-Haarits; seorang yang tsiqah, tsabat, faqiih, lagi imam (92/93/94-175/176/177 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 817 no. 5720].
Yahyaa bin Ayyuub Al-Ghaafiqiy, Abul-‘Abbaas Al-Mishriy; seorang yang shaduuq, namun kadang keliru (w. 168 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslm dalam Shahih-nya [idem, hal. 1049 no. 7561].
Muhammad bin ‘Umar bin ‘Aliy bin Abi Thaalib Al-Qurasyiy Al-Haasyimiy; seorang yang shaduuq (w. setelah tahun 130 H) [idem, hal. 881 no. 6210].
‘Abbaas bin ‘Ubaidillah seorang yang maqbuul (yaitu dalam mutaba’ah). Ibnu Hazm telah men-ta’lil hadits ‘Abbaas bin ‘Ubaidillah ini, karena ia tidak pernah bertemu dengan pamannya, Al-Fadhl bin ‘Abbaas. Apa yang dikatakan Ibnu Hazm ini disepakati Ibnu Hajar [Tahdziibut-Tahdziib, 5/123].
Diriwayatkan juga oleh Ath-Thahawiy 1/460, Ath-Thabaraaniy 18/no. 756, Al-Baihaqiy 2/278, dan Al-Baghawiy no. 549; semuanya dari jalan Yahyaa bin Ayyuub, selanjutnya seperti hadits di atas.
Penghukuman riwayat ini adalah lemah (dla’if).
Dikatakan, hadits di atas mempunyai syaahid :
حدثنا أبو معاوية حدثنا الحجاج عن الحكم عن يحيى بن الجزار عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى في فضاء ليس بين يديه شيء.
Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’aawiyyah : Telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaaj, dari Al-Hakam, dari Yahyaa bin Al-Jazzaar, dari Ibnu ‘Abbaas : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di tanah lapang, tidak ada sesuatu pun di depan beliau (yang menjadi sutrah) [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/224].
Abu Mu’aawiyyah, ia adalah Muhammad bin Khaazim At-Tamiimiy As-Sa’diy Abu Mu’aawiyyah Adl-Dlariir Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah (113-194/195 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [At-Taqriib, hal. 840 no. 5878].
Al-Hajjaaj, ia adalah Ibnu Arthaah bin Tsaur bin Hubairah An-Nakha’iy; seorang yang hasan haditsnya lagi mudallis. Dipakai Muslim dalam Shahih-nya. Adz-Dzahabiy memasukkannya dalam kitab Man Tukullima fiihi Wahuwa Muwatstsaqun au Shaalihul-Hadiits hal. 159-160 no. 78. Al-Albaaniy menerima riwayatnya selain periwayatannya yang mudallas sebagaimana nampak pada Irwaaul-Ghaliil 7/330. Basyaar ‘Awwaad dan Al-Arna’uth menyimpulkan dirinya seorang yang shaduuq, hasan haditsnya, namun mudallis [Tahriirut-Taqriib, 1/250-251 no. 1119].
Al-Hakam, ia adalah Ibnu ‘Utaibah Al-Kindiy, Abu Muhammad; seorang yang tsiqah, tsabat, lagi faqiih (50-113/114/115 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [At-Taqriib, hal. 263 no. 1461]. Ibnu Hajar memasukkannya dalam tingkatan kedua perawi mudallis, pada kitabnya Thabaqaatul-Mudallisiin no. 43.
Yahyaa bin Al-Jazzaar Al-‘Uraniy; seorang yang tsiqah. Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [Tahriirut-Taqriib, 4/80 no. 7519].
Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah 1/278, Abu Ya’laa no. 2601, dan Al-Baihaqiy dari jalan Abu Mu’aawiyyah, selanjutanya seperti hadits di atas.
Riwayat ini juga lemah, karena Hajjaaj bin Al-Arthaah yang mudallis. Di sini ia membawakan dengan ‘an’anah. Selain itu, riwayat ini juga munqathi’ (terputus), karena Yahyaa bin Al-Jazzaar Al-‘Uraniy tidak pernah mendengar dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhu [lihat : Musnad Al-Imam Ahmad 1/291].
Al-Hakam bin ‘Utaibah Al-Kindiy dalam periwayatan dari Yahyaa bin Al-Jazzaar, mempunyai mutaba’ah dari ‘Amru bin Murrah sebagai berikut :
أخبرنا شعبة عن عمرو بن مرة قال سمعت يحيى بن الجزار عن بن عباس قال جئت أنا وغلام من بني هاشم على حمار فمررنا بين يدي النبي صلى الله عليه وسلم فنزلنا وتركنا الحمار يأكل من بقل الأرض أو قال من نبات الأرض فدخلنا معه في الصلاة قال رجل لشعبة كان بين يديه عنزة قال لا
Telah mengkhabarkan kepada kami Syu’bah, dari ‘Amru bin Murrah, ia berkata : Aku mendengar Yahyaa bin Al-Jazzaar, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Aku dan seorang anak dari Bani Haasyim datang dengan mengendarai keledai. Lalu kami lewat di depan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kami pun turun dan membiarkan keledai kami memakan tumbuh-tumbuhan yang hidup di bumi. Lalu kami masuk ikut shalat bersama beliau”. Seorang laki-laki bertanya kepada Syu’bah : “Apakah di depan beliau ada ‘anazah (sebagai sutrah) ?”. Ia menjawab : “Tidak” [Diriwayatkan oleh ‘Aliy bin Al-Ja’d dalam Musnad-nya no. 92, dan darinya Abu Ya’laa no. 2423].
Syu’bah bin Al-Hajjaaj bin Al-Ward Al-‘Atakiy Al-Azdiy Abul-Busthaam Al-Waasithiy Al-Bashriy; seorang yang tsiqah, haafidh, lagi mutqin (w. 160 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [At-Taqriib, hal. 436 no. 2805].
‘Amru bin Murrah bin ‘Abdillah bin Thaariq bin Al-Haarits Al-Muradiy, Abu ‘Abdillah/’Abdirrahman Al-Kuufiy Al-A’maa; seorang yang tsiqah lagi ‘aabid (w. 116/118 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 745 no. 5147].
Al-Albaaniy menghukumi tambahan dialog antara laki-laki di atas dengan Syu’bah adalah syaadz, karena ini termasuk penyendirian ‘Aliy bin Ja’d [Silsilah Adl-Dla’iifah, 12/680].
Menurut kami, ketidakabsahan tambahan tersebut bukan karena faktor ‘Aliy bin Al-Ja’d (bin ‘Ubaid Al-Jauhariy Al-Baghdaadiy), karena ia seorang yang tsiqah lagi tsabat, dipakai Al-Bukhaariy dalam Shahih-nya [At-Taqriib, hal. 691 no. 4732]. Ketidakabsahan tambahan tersebut tidak lain karena riwayat ini lemah (munqathi’) sebagaimana riwayat sebelumnya.
Riwayat Yahyaa bin Al-Jazzaar dari Ibnu ‘Abbaas yang tersambung adalah melalui perantaraan Shuhaib Al-Mishriy, seorang yang shaduuq [Tahriirut-Taqriib, 2/144 no. 2956], sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 716-717, Ibnu Khuzaimah no. 836 & 882, Ibnu Ja’d no. 163, dan Abu Ya’laa no. 2749; semuanya dari Al-Hakam, dari Yahyaa bin Al-Jazzaar, dari Shuhaib, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata :
جئت أنا وغلام من بني عبد المطلب على حمار، ورسول اللّه صلى الله عليه وسلم يصلي فنزل ونزلت، وتركنا الحمار أمام الصف فما بالاه، وجاءت جاريتان من بني عبد المطلب فدخلتا بين الصف فما بالى ذلك.
“Aku dan seorang anak dari Bani ‘Abdil-Muthallib datang dengan mengendarai keledai, sedangkan pada waktu itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat. Lalu anak itu turun, dan aku pun juga turun (dari keledai). Kami meninggalkan keledai di depan shaff, dan beliau tidak menghiraukannya. Lalu, datanglah dua orang budak perempuan dari Bani ‘Abdil-Muthallib yang masuk di antara shaf, dan beliau pun tidak menghiraukannya” [selesai – lafadh dari Abu Daawud].
Sanadnya hasan. Riwayat ini tidak ada tambahan keterangan ketidakadaan ‘anazah atau sutrah di depan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Riwayat ini menunjukkan bahwa tambahan lafadh ‘tidak ada sesuatu pun di depan beliau (yang menjadi sutrah)’ dalam jalur Yahyaa bin Al-Jazzaar adalah tidaklah mahfudh.
Dikuatkan lagi, Shuhaib ini mempunyai mutaba’ah dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad 1/219, Ibnu Abi Syaibah 1/278 & 280, Muslim no. 504, Abu Daawud no. 715, Ibnu Maajah no. 947, An-Nasaa’iy 2/64, Abu Ya’laa no. 2382, Ibnu Khuzaimah no. 832, dan yang lainnya; semuanya dari Sufyaan bin ‘Uyainah, dari Az-Zuhriy, dari ‘Ubaidullah, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata :
كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي بعرفة. فجئت أنا والفضل على أتان. فمررنا على بعض الصف. فنزلنا عنها وتركناها. ثم دخلنا في الصف
“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat di ‘Arafah[4]. Lalu aku datang bersama Al-Fadhl dengan mengendarai keledai betina. Kami lewat di sebagian shaff. Lalu kami turun dan meninggalkan keledai itu, yang kemudian kami masuk ke dalam shaff” [selesai – lafadh Ibnu Maajah].
Sufyaan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imraan Al-Hilaaliy Abu Muhammad Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah, haafidh, faqiih, imaam, dan hujjah (107-198 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 395 no. 2464].
Az-Zuhriy, ia adalah Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin Syihaab Al-Qurasyiy Az-Zuhriy; seorang yang faqiih, haafidh, lagi mutqiin (50/51/56-123/124/125 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 896 no. 6336].
‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’uud Al-Hudzaliy, Abu ‘Abdillah Al-Madaniy; seorang yang tsiqah, faqiih, lagi tsabat (w. 94/97 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahihnya [idem, ].
Riwayat ini shahih.
[catatan kecil : Ibnu ‘Uyainah dalam riwayat ini mempunyai mutaba’ah dari Maalik sebagaimana akan dibahas pada hadits no. 3 di bawah].
Ringkas kata, hadits yang dianggap sebagai syaahid tidaklah bisa dipergunakan sebagai syahiid (silakan lihat pada hadits no. 3 di bawah). Maka, hadits kedua ini pun masih tetap dengan kelemahannya.
Berbeda halnya dengan Al-Arna’uth yang menghukumi hadits kedua ini hasan li-ghairihi dengan adanya syaahid yang disebutkan di atas. Wallaahu a’lam.
3. Hadits ‘Abdullah bin ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa
حدثنا إسماعيل بن أبي أويس قال: حدثني مالك، عن ابن شهاب، عن عبيد الله بن عبد الله بن عتبة، عن عبد الله بن عباس قال : أقبلت راكبا على حمار أتان، وأنا يؤمئذ قد ناهزت الاحتلام، ورسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي بمنى إلى غير جدار، فمررت بين يدي بعض الصف، وأرسلت الأتان ترتع، فدخلت في الصف، فلم ينكر ذلك علي.
Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Abi Aus, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Maalik, dari Ibnu Syihaab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, dari ‘Abdullah bin ‘Abbaas, ia berkata : “Aku datang dengan menunggang keledai betina, yang saat itu aku hampir menginjak masa baligh, dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat di Mina tanpa tidak menghadap dinding. Maka aku lewat di depan sebagian shaf kemudian aku melepas keledai betina itu supaya mencari makan sesukanya. Lalu aku masuk kembali di tengah shaf dan tidak ada orang yang menyalahkanku” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 76].
Hadits ini juga tidak sharih (jelas) bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menggunakan sutrah. Dinding/tembok adalah salah satu jenis dari sutrah. Penafikkan sebagian tidaklah mengkonsekuensikan penafikan semuanya sebagaimana dimaklumi dalam ushul.
Ilustrasinya : Dony adalah salah satu anak dari tiga orang anak yang dimiliki oleh Pak Noto. Jika dikatakan : Dony tidak ada di rumah, maka apakah itu berkonsekuensi anak-anak Pak Noto yang lain juga tidak ada di rumah ?.
Mina/’Arafah pada waktu itu memang belum mempunyai bangunan. Oleh karenanya, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membawa ‘anazah (tombak kecil) yang ditancapkan di depannya yang beliau pergunakan sebagai sutrah.
Perhatikan hadits berikut :
حدثنا يزيد بن أبي حكيم حدثنا الحكم يعني ابن أبان قال: سمعت عكرمة يقول: قال ابن عباس قال : ركزت العنزة بيت يدي النبي صلى الله عليه وسلم بعرفات فصلى اليها والحمار يمر من وراء العنزة.
Telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Abi Hakiim : Telah menceritakan kepada kami Al-Hakam – yaitu Ibnu Abaan - , ia berkata : Aku mendengar ‘Ikrimah berkata : Telah berkata Ibnu ‘Abbaas : "Al-‘Anazah (tombak kecil) ditancapkan di depan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam di ‘Arafah. Beliau shalat dengan menghadap ke arahnya sementara keledai melintas di belakang tongkat tersebut" [Diriwayatkan oleh Ahmad, 1/243].
Yaziid bin Abi Hakiim Al-Kinaaniy, Abu ‘Abdillah Al-‘Adniy; seorang yang shaduuq (w. setelah 220 H). Dipakai Al-Bukhaariy dalam Shahih-nya [At-Taqriib, hal. 1073 no. 7753].
Al-Hakam bin Abaan Al-‘Adniy, Abu ‘Iisaa; seorang yang shaduuq lagi ‘aabid, namun mempunyai beberapa keraguan (w. 154 H pada usia 84 tahun) [idem, hal. 261 no. 1447].
‘Ikrimah Al-Qurasyiy Al-Haasyimiy maulaa Ibni ‘Abbaas; seorang yang tsiqah, tsabat, lagi ‘aalim (w. 107 H dalam usia 80 tahun). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 687-688 no. 4707].
Sanad riwayat ini hasan.
Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa nash-nash yang diangap sebagai pemalingan wajibnya sutrah kepada sunnah/penganjuran (saja) adalah lemah. Pendek kata, yang rajih, hukum memakai sutrah ketika shalat adalah wajib.
Apakah pendalilan dan perkataan ulama tentang permasalahan ini hanya yang tercantum di atas ? Tentu saja tidak. Masih banyak yang lain. Apa yang saya tuliskan – mungkin - hanya pengulangan atau penambahan dari artikel-artikel yang telah ada.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abul-jauzaa’ – nJakal, Jokja].

[1] Adapun Maalik bin Anas rahimahullah mempunyai pendapat tersendiri :
ومن كان في سفر فلا بأس أن يصلِّي إلى غير سترة وأما في الحضر فلا يصلي إلا إلى سترة
“Barangsiapa dalam keadaan safar, maka tidak mengapa ia shalat tanpa menggunakan sutrah. Adapun jika ia dalam keadaan hadir (tidak safar), maka tidak boleh ia shalat kecuali menghadap ke sutrah” [Al-Mudawwanah, 1/289].
[2] Penukilan adanya ijma’ ini nampaknya disepakati oleh Dr. Wahbah Az-Zuhailiy. Ia berkata :
هي سنة مشروعة، لقوله صلى الله عليه وسلم: « إذا صل أحدكم فليصل إلى سترة، ولْيَدْن منها، ولا يدع أحداً يمر بين يديه، فإن جاء أحد يمر، فليقاتله، فإنه شيطان »
وليست واجبة باتفاق الفقهاء؛ لأن الأمر باتخاذها للندب، إذ لا يلزم من عدمها بطلان الصلاة وليست شرطاً في الصلاة، ولعدم التزام السلف اتخاذها، ولو كان واجباً لالتزموه.........
“Ia (sutrah) merupakan sunnah yang disyari’atkan berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Apabila salah seorang di antara kalian shalat, maka shalatlah menghadap sutrah, dan mendekatlah padanya. Dan jangan ia biarkan seorang pun untuk melintas di depannya. Apabila ada seseorang yang melintas, maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah syaithan’.
Sutrah itu bukan sesutau yang wajib menurut kesepakatan para fuqahaa’, karena perintah untuk menghadap sutrah itu adalah anjuran saja. Orang yang tidak menghadap shalat, maka batallah shalatnya; padahal sutrah bukan merupakan syarat dalam shalat. Salaf tidak selalu menggunakan sutrah. Seandainya hal itu wajib, niscaya mereka akan selalu menggunakannya…..” [Al-Fiqhul-Islaamiy, 1/752; Daarul-Fikr].
Namun, apa yang diklaim sebagai ijma’ oleh Ibnu Rusyd ataupun Az-Zuhailiy ini tidak lah benar.
[3] Hadits ini lemah; lihat Tamaamul-Minnah oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy hal. 305.
[4] Sebagaian riwayat menyebutkan : ‘Mina’.

FATWA: 'Ilmu Itu Mesti Didatangi?

Kewajiban Menuntut Ilmu Syar'i



Råsulullåh bersabda:



‎طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ



“Menuntut ilmu itu WAJIB atas setiap Muslim.”



(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 224), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3913). Diriwayatkan pula oleh Imam-imam ahli hadits yang lainnya dari beberapa Shahabat seperti ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id al-Khudri, dan al-Husain bin ‘Ali radhiyallaahu ‘anhum)



Imam al-Qurthubi rahimahullaah menjelaskan bahwa hukum menuntut ilmu terbagi dua:



Pertama, hukumnya wajib; seperti menuntut ilmu tentang shalat, zakat, dan puasa. Inilah yang dimaksudkan dalam riwayat yang menyatakan bahwa menuntut ilmu itu (hukumnya) wajib.



Kedua, hukumnya fardhu kifayah; seperti menuntut ilmu tentang pembagian berbagai hak, tentang pelaksanaan hukum hadd (qishas, cambuk, potong tangan dan lainnya), cara mendamaikan orang yang bersengketa, dan semisalnya. Sebab, tidak mungkin semua orang dapat mempelajarinya dan apabila diwajibkan bagi setiap orang tidak akan mungkin semua orang bisa melakukannya, atau bahkan mungkin dapat menghambat jalan hidup mereka. Karenanya, hanya beberapa orang tertentu sajalah yang diberikan kemudahan oleh Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya.



Ketahuilah, menuntut ilmu adalah suatu kemuliaan yang sangat besar dan menempati kedudukan tinggi yang tidak sebanding dengan amal apa pun.



[Lihat Tafsiir al-Qurthubi (VIII/187), dengan diringkas. Tentang pembagian hukum menuntut ilmu dapat juga dilihat dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/56-62) oleh Ibnu ‘Abdil Barr]



Keutamaan Menuntut ilmu DENGAN MENDATANGI MAJELIS ILMU



1. Menuntut ilmu termasuk Jihad fiy Sabilillaah



Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:



مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ



"Barangsiapa keluar dalam rangka menuntut ilmu maka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali."



(HR. Tirmidziy, dan beliau menghasankannya)



2. Dimudahkan jalan menuju surga



Råsulullåh shållallåhu 'alayhi wa sallam bersabda:



‎ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ



Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga.



(Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2699), Ahmad (II/252, 325), Abu Dawud (no. 3643), At-Tirmidzi (no. 2646), Ibnu Majah (no. 225), dan Ibnu Hibban (no. 78-Mawaarid).)



Di dalam hadits ini terdapat janji Allah ‘Azza wa Jalla bahwa bagi orang-orang yang berjalan dalam rangka menuntut ilmu syar’i, maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju Surga.



“Berjalan menuntut ilmu” mempunyai dua makna:



Pertama, Menempuh jalan dengan artian yang sebenarnya, yaitu berjalan kaki menuju majelis-majelis para ulama.



Kedua, Menempuh jalan (cara) yang mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu seperti menghafal, belajar (sungguh-sungguh), membaca, menela’ah kitab-kitab (para ulama), menulis, dan berusaha untuk memahami (apa-apa yang dipelajari). Dan cara-cara lain yang dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu syar’i.



“Allah akan memudahkan jalannya menuju Surga” mempunyai dua makna.



Pertama, Allah akan memudah-kan memasuki Surga bagi orang yang menuntut ilmu yang tujuannya untuk mencari wajah Allah, untuk mendapatkan ilmu, mengambil manfaat dari ilmu syar’i dan mengamalkan konsekuensinya.



Kedua, Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga pada hari Kiamat ketika melewati “shirath” dan dimudahkan dari berbagai ketakutan yang ada sebelum dan sesudahnya. Wallaahu a’lam.



3. Diridhai oleh malaikat



Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



‎وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ



"Sunnguh Para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu"



4. Dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi hinga ikan yang ada didasar laut



Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ



Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut.



5. Dengan menuntut ilmu, kita bisa meraih keutamaan seorang alim



Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ



Kelebihan serang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang.



6. Ilmu merupakan warisan dari nabi, para penuntut ilmu adalah pencari warisan nabi.



Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ



Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.



[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), dan Ibnu Hibban (no. 80 al-Mawaarid)]



Sumber: [almanhaj: http://www.almanhaj.or.id/content/2307/slash/0; Disalin dari Muqaddimah buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]



Keutamaan mendatangi majelis ilmu



Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :



dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,



إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ



“Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala memiliki para malaikat khusus yang senantiasa berkeliling mencari di mana adanya majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang padanya terdapat dzikir maka mereka pun duduk bersama orang-orang itu dan meliputi mereka satu sama lain dengan sayap-sayapnya sampai-sampai mereka memenuhi jarak antara orang-orang itu dengan langit terendah, kemudian apabila orang-orang itu telah bubar maka mereka pun naik menuju ke atas langit.”



Nabi berkata,



قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ



“Maka Allah ‘azza wa jalla pun bertanya kepada mereka padahal Dia adalah yang Maha Mengetahui keadaan mereka, ‘Dari mana kalian datang?’.



فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ



Para malaikat itu menjawab, ‘Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu yang ada di bumi. Mereka mensucikan-Mu (bertasbih), mengagungkan-Mu (bertakbir), mengucapkan tahlil, dan memuji-Mu (bertahmid), serta meminta (berdo’a) kepada-Mu.’



قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي



Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang mereka minta kepada-Ku?’.



قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ



Para malaikat itu menjawab, ‘Mereka meminta kepada-Mu surga-Mu.’



قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي



Allah bertanya, ‘Apakah mereka telah melihat surga-Ku?’.



قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ



Mereka menjawab, ‘Belum wahai Rabbku.’



قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي



Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimana lagi jika mereka benar-benar telah melihat surga-Ku?’.



قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ



Para malaikat itu berkata, ‘Mereka juga meminta perlindungan kepada-Mu.’



قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي



Allah bertanya, ‘Dari apakah mereka meminta perlindungan-Ku?’.



قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ



Mereka menjawab, ‘Mereka berlindung dari neraka-Mu, wahai Rabbku’.



قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي



Maka Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?’.



قَالُوا لَا



Mereka menjawab, ‘Belum, wahai Rabbku.’



قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي



Lalu Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimanakah lagi jika mereka telah melihat neraka-Ku.’



قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ



Mereka mengatakan, ‘Mereka meminta ampunan kepada-Mu.’



قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا



Maka Allah mengatakan, ‘Sungguh Aku telah mengampuni mereka. Dan Aku telah berikan apa yang mereka minta dan Aku lindungi mereka dari apa yang mereka minta untuk berlindung darinya.’.”



قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ



Nabi bersabda, “Para malaikat itu berkata, ‘Wahai Rabbku, di antara mereka ada si fulan, seorang hamba yang telah banyak melakukan dosa, sesungguhnya dia hanya lewat kemudian duduk bersama mereka.’.”



قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ



Nabi mengatakan, “Maka Allah berfirman, ‘Dan kepadanya juga Aku akan ampuni. Orang-orang itu adalah sebuah kaum yang teman duduk mereka tidak akan binasa.’.”



(HR. Muslim dalam Kitab ad-Dzikr wa ad-Du’a wa at-Taubah wa al-Istighfar, hadits no. 2689, lihat Syarh Muslim [8/284-285] cetakan Dar Ibn al-Haitsam)



[sumber: http://abumushlih.com/keutamaan-majelis-dzikir.html/]



Atho’ -rohimahulloh- ketika ditanya apakah majlis dzikir itu?, ia menjawab: (Yang dimaksud dengan majlis dzikir adalah) Majlis yang membahas tentang halal dan harom, bagaimana kamu sholat, bagaimana kamu puasa, bagaimana kamu nikah, bagaimana kamu mentalak, dan bagaimana mengadakan jual-beli…”



(Al-Hilyah 3/313).



[sumber: http://addariny.wordpress.com/2009/12/05/mengkritisi-dzikir-jamai-1-utk-dewasa/]



Tercelanya orang-orang yang MENINGGALKAN atau MALAS menghadiri majelis ilmu



Råsulullåh shållallåhu 'alayhi wa sallam bersabda:



‎لَا يُوشِكُ رَجُلٌ يَنْثَنِي شَبْعَانًا عَلَى أَرِيكَتِهِ



"Kiranya tak akan lama lagi ada seorang laki-laki yang duduk dalam keadaan kenyang di tempat duduknya…"



(HR. Ahmad (dan ini lafazhnya); Abu Dawud, Ibnu Abdil Barr, al-Khatib al-Baghdadiy, Ibnu Nashr al-Mawarziy, al-Ajurriy, al-Baihaqiy; dari jalur Hariz bin 'Utsman; juga jalur 'Abdullah bin Abi Auf; dan dari jalur al-Miqdam; Dishahihkan syaikh salim bin 'ied al-Hilaliy)



Dikatakan oleh Syaikh Salim; ini merupakan sifat orang-orang kaya dan berharta YANG TINGGAL DALAM RUMAH MEREKA, TIDAK MENUNTUT ILMU, sebagaimana kebiasaan yang dilakukan orang-orang takabbur dan sombong. (Ensiklopedi Larangan)



Ulama salaf terdahulu melarang orang yang hanya berguru kepada buku untuk mengajar dan berfatwa, sebagaimana mereka melarang belajar al qur'an dari orang yang tidak pernah talaqqi.



dari Al 'Auza'i ia berkata:



مَا زَالَ هَذَا الْعِلْمُ عَزِيزًا تَتَلَاقَاهُ الرِّجَالُ حَتَّى وَقَعَ فِي الصُّحُفِ فَحَمَلَهُ أَوْ دَخَلَ فِيهِ غَيْرُ أَهْلِهِ



"Ilmu ini senantiasa mulia, yang senantiasa digali oleh manusia secara langsung (talaqqi); hingga (kemudian, ilmu pun) ditulis dalam lembaran-lembaran, lalu ia (pun) membawanya kepada seseorang yang bukan ahlinya, (hingga orang itu pun) ikut campur tangan".



(ad-Darimiy)



Abu Zur'ah berkata :



"Shåhafi (yang hanya berguru kepada buku) tidak boleh berfatwa...".



(Al Faqih wal mutafaqqih 2/97).



Imam Asy Syafi'I berkata :



"Barang siapa yang bertafaqquh dari perut buku ia akan menyia siakan hukum ".



(tadzkirotussaami' wal mutakallim hal 87).



Seorang penya'ir berkata :



Siapa yang mengambil ilmu dari mulut guru

Ia akan terhindar dari penyimpangan dan perubahan.

Dan siapa yang mengambil ilmu hanya dari buku

Maka ilmunya disisi para ulama seperti tidak ada.



Dalam kitab wafayatul a'yan (3/310) Al Hafidz ibnu 'Asakir rahimahullah bersya'ir :



Jadilah engkau orang yang mempunyai semangat

Dan jangan bosan mengambil ilmu dari para ulama

Jangan engkau mengambilnya sebatas dari buku

Niscaya engkau akan terkena tashif dengan penyakit yang berat



Nasehat dari para ulama untuk menuntut ilmu dan mendatangi majelis ilmu para ulama



Fatwa Syaikh Yahya an-Najmi:



Ilmu itu diambil dari mulut para ‘ulama. Maka seorang penuntut ilmu, agar kokoh dalam ilmu di atas pondisi yang benar, maka hendaknya ia bermulazamah kepada ‘ulama, talaqqi (mengambil) ilmu langsung dari mereka. Sehingga pencarian ilmunya tegak di atas kaidah-kaidah yang benar. mampu melafazhkan nash-nash qur’ani dan hadits dengan pelafazhan yang benar, tidak ada kesalahan maupun kekeliruan. Memahami ilmu dengan pemahaman yang tepat sesuai maksudnya.



Dan lebih dari itu, dia bisa mengambil faidah dari ‘ulama : adab, akhlaq, dan sifat wara’. Hendaknya dia menghindar agar jangan sampai yang menjadi gurunya adalah kitab. Karena sesungguhnya barangsiapa yang gurunya adalah kitabnya maka ia akan banyak salahnya sedikit benarnya.



Demikianlah, inilah yang terjadi pada umat ini. Tidak seorang tampil menonjol dalam ilmu kecuali ia sebelumnya telah tertarbiyyah dan terdidik di hadapan ‘ulama.



Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql



Salah satu gejala yang berbahaya adalah belajar hanya dengan mengandalkan sarana-sarana ilmu (seperti buku dan sejenisnya). Misalnya seorang penuntut ilmu merasa cukup mengambil ilmu melalui buku-buku lalu menyingkir dari manusia, menjauhkan diri dari ulama, mengabaikan orang-orang shalih, orang-orang yang berjasa terhadap Islam yang menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar, serta memisahkan diri dari ulama, ia berkata : 'Saya cukup belajar dari buku-buku, kaset-kaset, radio dan lain-lain'. Kemudian ia bekata lagi : 'Saya mampu belajar melalui sarana-sarana ini!'.



Jawaban kami :



'Tentu saja, sarana-sarana ini merupakan nikmat, tetapi juga merupakan senjata bermata dua. Merasa cukup belajar ilmu-ilmu syar'i melalui sarana-sarana itu merupakan kekeliruan dan merupakan salah satu sebab timbulnya perpecahan umat. Karena hal itu akan mendorongnya untuk beruzlah (menyendiri) yang dilarang. Atau akan memunculkan sosok ahli ilmu yang tidak baik, karena mereka mengambil ilmu tidak sebagaimana mestinya, tidak berdasarkan kaidah dan tanpa petunjuk dan bimbingan alim ulama.



Mereka mengambil ilmu menurut cara mereka sendiri, dengan hawa nafsu, perasaan dan perhitungan pribadi mereka sendiri. Apabila terjadi pertikaian, mereka menyimpang dan menolak pendapat ulama. Padahal meskipun seseorang mempunyai kepandaian dan kemampuan serta memiliki keahlian khusus seperti apapun, ia tidak akan mungkin dengan sendirinya akan sampai kepada kebenaran selama ia tidak mengenal pedoman-pedoman salaf dan ahli ilmu pada zamannya"



[Disalin dari kitab Al-Iftiraaq Mafhumuhu ashabuhu subulul wiqayatu minhu, edisi Indonesia Perpecahan Umat ! Etiologi & Solusinya, oleh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql, terbitan Darul Haq, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari; almanhaj.or.id]



Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin



Beliau ditanya



bolehkah belajar ilmu dari kitab-kitab saja tanpa belajar kepada ulama, khususnya jika ia kesulitan belajar kepada ulama karena jarangnya mereka? Bagaimana pendapat Anda tentang ucapan yang menyatakan: barangsiapa yang gurunya adalah kitabnya maka kesalahannya akan lebih banyak dari pada benarnya?



Beliau menjawab:



Tidak diragukan lagi bahwa ilmu bisa diperoleh dengan mempelajarinya dari para ulama dan dari kitab. Karena, kitab seorang ulama adalah ulama itu sendiri, dia berbicara kepadamu tentang isi kitab itu. Jika tidak memungkinkan menuntut ilmu dari ahli ilmu maka ia boleh mencari ilmu dari kitab.



Akan tetapi memperoleh ilmu melalui ulama lebih dekat (mudah) daripada memperoleh ilmu melalui kitab, karena orang yang memperoleh ilmu melalui kitab akan banyak menemui kesulitan dan membutuhkan kesungguhan yang besar, dan akan banyak perkara yang akan dia fahami secara samar sebagaimana terdapat dalam kaidah syar'iyyah dan batasan yang ditetapkan oleh para ulama. Maka dia harus mempunyai tempat rujukan dari kalangan ahli ilmu semampu mungkin.



Adapun perkataan yang menyatakan:



'barangsiapa yang gurunya adalah kitabnya maka kesalahannya akan lebih banyak dari pada benarnya.'



Perkataan ini tidak benar secara mutlak, tetapi juga tidak salah secara mutlak. Jika seseorang mengambil ilmu dari semua kitab yang dia lihat, maka tidak ragu lagi bahwa dia akan banyak salah. Adapun orang yang mempelajarinya bersandar kepada kitab orang-orang yang telah dikenal ketsiqahannya, amanahnya, dan ilmunya, maka dalam hal ini dia tidak akan banyak salah bahkan dia akan banyak benarnya dalam perkataannya.



[Kitabul 'Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin]



Fatwa Syaikh Ibrahim ar-Ruhailiy



Pertanyaan :



Tentang perkataan al-Imam Malik “ilmu itu didatangi dan tidak mendatangi” ketika khalifah Harun ar-Rasyid memintanya untuk mengajari Makmun, ia (al-Imam Malik, pent) berkata : “datanglah ke masjid an-Nabawi” tempat dimana al-Imam Malik mengajar. Apakah ini bertentangan dengan perkataan kita tadi bahwa seorang da’i datang kepada mad’u?



Jawaban :



Ini tidak bertentangan, dan masalah ini sebagaimana yang telah kami sebutkan pada banyak masalah bahwa ini ada perinciannya.



Pada asalnya dahulu, bahkan pada petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa manusia yang berhijrah ke Nabi shallallahu alaihi wa sallam, mendatanginya dan Nabi mengajari mereka. Ini adalah asalnya pada manusia.



Akan tetapi terkadang jika ada penghalang antara manusia dan hijrah hal ini tidak mencegah dari diutusnya seseorang kepada mereka yang akan mengajari mereka. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengutus sebagian shahabatnya untuk mengajari manusia. Beliau mengutus Mu’adz ke Yaman dan ke Syam untuk mengajari manusia. Dan beliau juga mengutus sebagian shahabatnya untuk mengajari manusia ke Madinah sebelum hijrah.



Maka jika sebagian masalah rancu bagi kalian, kembalilah kepada petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Jika ilmu itu harus didatangi, kenapa Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengirim sebagian orang untuk mengajari manusia. Kemudian setelah meninggalnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam, banyak shahabat keluar dari Madinah untuk mengajari manusia dan untuk memahamkan mereka. Maka masalah ini punya perincian.



Pada asalnya para penuntut ilmu merekalah yang mendatangi para ‘ulama, karena para ‘ulama tidak mungkin datang ke setiap tempat, (para penuntut ilmu) belajar dan menuntut ilmu pada mereka.



Akan tetapi jika ada penghalang antara sebagian penuntut ilmu dan sebagian manusia dari hijrah dan datang kepada para ‘ulama maka tidaklah dilarang bagi seorang ‘ulama untuk mempertimbangkan dan datang kepada mereka untuk mengajari mereka. Maka yang ini termasuk Sunnah dan yang itu termasuk Sunnah.



Dan aku selalu memperingatkan dari mengambil perkataan sebagian Salaf dan tidak memperhatikan perkataan lainnya yang bertentangan dengannya, dan membuat hukumnya umum.



Jadi perkataan ini, ini benar, dan ini adalah pada asalnya, oleh karena itu perhatikanlah! Manusia berhijrah kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Akan tetapi apakah Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan : “Tidaklah kami mengajarkan ilmu kepada manusia yang didatangi kepada mereka dan kita tidak mengutus seorangpun”? Tidak.



Maka bagi orang yang mampu datang, belajar dan bertafaqquh. Dan barangsiapa yang antaranya dengan hijrah terhalang dengan suatu urusan seperti kelemahan dan yang lainnya, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengutus kepada mereka orang yang mengajari mereka.



Jika rancu sebagian perkara maka kembalilah kepada petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam sehingga jelaslah perkara. Dan kami selalu tidak menganggap ditaqrirnya sesuatu dari agama ini kecuali dengan dalilnya. Maka ini adalah dalil yang jelas dan nyata bahwa ditempuh cara yang ini dan yang itu.



Asalnya bagi para ‘ulama adalah mereka didatangi, akan tetapi jika ada penghalang antara sebagian manusia untuk datang kepada para ‘ulama, maka para ‘ulama mempertimbangkan untuk pergi ke sebagian tempat untuk mengajari manusia. Na’am.



[Diterjemahkan dari rekaman Dauroh Masyayikh Madinah di Kebun Teh Wonosari Lawang – Malang Juli 2007. File : syaikh ibrohim 3.mp3 >> 65:46 - 69:12; tholib.wordpress.com]


Sumber:

1. Catatan Abu Zuhriy

2. www.tholib.wordpress.com

Senin, 20 September 2010

Petunjuk Praktis Hukum dan Kaifiyah Sholat Beserta Dalil-Dalilnya

Abu Al-Jauzaa' :, 27 Januari 2009

Shalat adalah satu ibadah ’amaliy terbesar yang harus dilakukan muslim yang pernah mengikrarkan dua kalimat syahadat. Ia merupakan tiang agama. Namun sayangnya, banyak diantara kaum muslimin yang menyia-nyiakannya. Ini adalah musibah bagi dirinya dan juga kaum muslimin seluruhnya......

Diantara yang telah mengerjakannya (dan kita ucapkan alhamdulillah atas hal ini), masih banyak yang tidak mengerti akan hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat. Bagaimana cara yang benar dalam shalat. Oleh karena itu, di sini saya akan mencoba meringkaskannya tentang bahasan ini..... Semoga Allah ta’ala menjadikannya satu kemanfaatan bagi diri saya (di dunia dan di akhirat), juga bagi kaum muslimin semua.

1. Makna Shalat

Shalat secara bahasa (etimologis) maknanya adalah doa [1]. Adapun secara syari’at (terminologis) maknanya adalah perkataan dan perbuatan yang dimulai dari takbir (takbiratul-ihram) dan diakhiri dengan salam, yang dibarengi dengan niat.

2. Dalil Pensyari’atan Shalat

Allah ta’ala berfirman :

قُل لّعِبَادِيَ الّذِينَ آمَنُواْ يُقِيمُواْ الصّلاَةَ وَيُنْفِقُواْ مِمّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلانِيَةً مّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خِلاَلٌ

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan” [QS. Ibrahim : 31].

3. Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat

Orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya, maka dia telah kafir dan keluar dari agama Islam. Kaum muslimin (ulama) telah sepakat mengenai hal itu. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang hukum orang meninggalkan shalat karena malas atau bisikan hawa nafsu (tanpa mengingkari kewajibannya). Sebagian ulama mengkafirkan, dan sebagian lagi tidak mengkafirkan (kufur ashghar). Yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan tidak kafir.[2] Akan tetapi bukan berarti hal ini meremehkan kewajiban shalat. Bahkan orang yang meninggalkan shalat (karena malas dan dorongan hawa nafsu), maka ia telah berbuat salah satu dosa besar yang paling besar yang hampir menjerumuskannya pada pintu kekafiran. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat” [HR. Muslim no. 82].

4. Jumlah Shalat Fardlu

Jumlah shalat fardlu dalam sehari semalam adalah lima kali shalat.

عن طلحة بن عبيد الله يقول: جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم من أهل نجد، ثائر الرأس، يسمع دوي صوته ولا يفقه ما يقول، حتى دنا، فإذا هو يسأل عن الإسلام، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (خمس صلوات في اليوم والليلة) فقال: هل علي غيرها؟ قال: (لا إلا أن تطوع).

Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah ia berkata : “Telah datang seorang laki-laki penduduk Nejed kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kepalanya telah beruban, gaung suaranya terdengar tetapi tidak bisa dipahami apa yang dikatakannya kecuali setelah dekat. Ternyata ia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : ‘Shalat lima waktu dalam sehari semalam’. Ia bertanya lagi : ‘Adakah saya punya kewajiban shalat lainnya ?’. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : ‘Tidak, melainkan hanya amalan sunnah saja” [HR. Al-Bukhari no. 46].

Ia adalah shubuh (2 raka’at), dhuhur (4 raka’at), ‘asar (4 raka’at), maghrib (3 raka’at), dan ‘isya’ (4 raka’at).

5. Waktu-Waktu Shalat

Allah ta’ala berfirman :

أَقِمِ الصّلاَةَ لِدُلُوكِ الشّمْسِ إِلَىَ غَسَقِ الْلّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوداً

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” [QS. Al-Israa’ : 78].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وقت الظهر إذا زالت الشمس. وكان ظل الرجل كطوله. ما لم يحضر العصر. ووقت العصر ما لم تصفر الشمس. ووقت صلاة المغرب ما لم يغب الشفق. ووقت صلاة العشاء إلى نصف الليل الأوسط. ووقت صلاة الصبح من طلوع الفجر. ما لم تطلع الشمس.

“Waktu dhuhur jika matahari telah tergelincir sampai bayangan seseorang sama tinggi dengan seseorang itu selama belum masuk waktu ‘ashar. Waktu ‘ashar sampai matahari berwarna kuning. Waktu shalat maghrib selama sinar matahari belum hilang. Waktu shalat ‘isya’ sampai tengah malam. Waktu shalat shubuh mulai terbitnya fajar (shadiq) sampai matahari belum terbit” [HR. Muslim no. 612].

Perinciannya adalah sebagai berikut :

a) Waktu shubuh, dimulai dari terbitnya fajar shadiq sampai sebelum matahari terbit.

b) Waktu dhuhur, dimulai saat matahari telah tergelincir (bayangan seseorang telah nampak sesaat setelah matahari tepat di atas kepala) sampai panjang bayangan seseorang sama dengannya tinggi badannya.

c) Waktu maghrib, dimulai sesaat setelah matahari tenggelam sampai dengan sinar lembayung merah di ufuk barat habis.

d) Waktu ‘isya’, dimulai setelah sinar lembayung merah di ufuk barat habis sampai dengan tengah malam tiba.

6. Waktu Terlarang untuk Shalat

Dari Amru bin Abasah radliyallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia pernah berkata kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Beritahukanlah kepadaku sesuatu tentang shalat”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صل صلاة الصبح. ثم أقصر عن الصلاة حتى تطلع الشمس حتى ترتفع. فإنها تطلع حين تطلع بين قرني شيطان. وحينئذ يسجد لها الكفار. ثم صل. فإن الصلاة مشهودة محضورة. حتى يستقل الظل بالرمح. ثم أقصر عن الصلاة. فإن، حينئذ، تسجر جهنم. فإذا أقبل الفيء فصل. فإن الصلاة مشهودة محضورة. حتى تصلي العصر. ثم أقصر عن الصلاة. حتى تغرب الشمس. فإنها تغرب بين قرني شيطان. وحينئذ يسجد لها الكف

“Lakukanlah shalat Shubuh, kemudian berhentilah melakukan shalat lain, hingga terbit matahari, hingga matahari meninggi. Sesungguhnya matahari itu terbit di antara sepasang tanduk setan. Waktu itulah orang-orang musyrik bersujud kepadanya. Kemudian shalatlah karena shalat pada saat itu disaksikan oleh para malaikat hingga bayang-bayang tembok tegak. Kemudian berhentilah melakukan shalat lain, karena kala itu neraka Jahannam dinyalakan. Apabila matahari sudah tergelincir, shalatlah hingga datang waktu Ashar. Kemudian berhentilah melakukan shalat hingga matahari tenggelam. Karena matahari tenggelam di antara sepasang tanduk setan, dan ketika itulah orang-orang musyrik bersujud kepadanya” [HR. Muslim no. 832].

Perincian waktu terlarang untuk shalat adalah sebagai berikut :

a) Setelah shalat Shubuh sampai terbit matahari.

b) Ketika terbit matahari sampai matahari meninggi setinggi satu tombak (dimulainya waktu Dluha).

c) Ketika matahari tepat di atas kepala (pertengahan siang) sampai tergelincir (zawal – masuk waktu Dhuhur).

d) Setelah shalat Ashar sampai terbenam matahari.

e) Ketika matahari mulai tenggelam sampai betul-betul tenggelam (masuk waktu Maghrib).

Kelima waktu di atas adalah diharamkan bagi setiap muslim untuk melakukan shalat sunnah mutlak.[3] Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang dilakukannya shalat sunnah dengan sebab-sebab tertentu (contoh : shalat tahiyyatul masjid, shalat sunnah wudlu, shalat kusuf (gerhana), dan lain-lain) yang dilakukan pada 5 waktu terlarang tersebut. Yang lebih rajih (kuat) insya allah adalah diperbolehkan – wallahu a’lam. [4]

7. Meninggalkan Shalat karena Ketiduran atau Kelupaan.

Maka hendaknya ia segera mengerjakannya begitu ia teringat, sebagaimana perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

من نسي صلاة فليصل إذا ذكرها لا كفارة لها إلا ذلك

“Barangsiapa yang tidak mengerjakan shalat karena lupa, maka hendaknya ia mengerjakan shalat tersebut ketika ia teringat dengannya. Tidak ada kaffarat lain selain itu” [HR. Al-Bukhari no. 572 dan Muslim no. 684].

8. Syarat sahnya shalat :

a) Islam

b) Berakal

c) Tamyiz (mampu membedakan antara baik dan buruk

d) Suci dari hadats besar dan hadats kecil.

e) Suci badan, pakaian, dan tempat shalat.

f) Menutup aurat (bagi wanita seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan).

g) Dikerjakan pada waktunya.

h) Menghadap kiblat.

i) Niat

9. Rukun-Rukun Shalat :

a) Berdiri jika mampu.

b) Takbiratul-ihram.

c) Membaca Al-Fatihah.

d) Rukuk.

e) I’tidak setelah rukuk.

f) Sujud pada tujuh anggota tubuh.

g) Bangkit dari sujud.

h) Duduk antara dua sujud.

i) Thuma’ninah pada seluruh gerakan.

j) Tertib pada seluruh pelaksanaan rukun-rukun shalat.

k) Tasyahud akhir.

l) Duduk (pada tasyahud akhir).

m) Bershalawat pada Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam.

n) Salam.

10. Shalat Berjama’ah Bagi Wanita

v Para ulama sepakat bahwa kaum wanita tidak wajib mengerjakan shalat berjama’ah, akan tetapi syari’at tetap membenarkan mereka shalat berjama’ah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة

“Shalat berjama’ah duapuluh tujuh derajat lebih utama daripada shalat sendirian” [HR. Al-Bukhari no. 619 dan Muslim no. 650].

v Posisi imam seorang wanita yang mengimami wanita lainnya adalah di tengah-tengah shaff pertama.

عن ريطة الحنفية أن عائشة أمتهن وقامت بينهن في صلاة مكتوبة

Dari Raithah Al-Hanaifiyyah : “Bahwasannya ‘Aisyah pernah mengimami mereka dan ia berdiri di tengah mereka (barisan pertama) dalam shalat fardlu” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 5086, Ad-Daruquthni 1/404, dan Baihaqi 3/131; shahih bisyawahidihi].

v Rumah adalah Tempat Shalat yang Paling Baik Bagi Wanita

عن بن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تمنعوا نساءكم المساجد وبيوتهن خير لهن

Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid; akan tetapi shalat di rumah adalah lebih baik bagi mereka” [HR. Abu Dawud no. 567, Ibnu Khuzaimah no. 1683, Al-Hakim no. 755 dan yang lainnya; shahih lighairihi].

v Seorang wanita boleh mengimami sesama wanita atau anak kecil yang belum baligh. Wanita tidak boleh menjadi imam bagi laki-laki.

11. Kaifiyyah (Tata Cara) Shalat

a) Niat

Tidak disyari’atkan mengucapkan/melafadhkan niat, sebab hal itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, para shahabat, dan para ulama setelahnya (termasuk imam empat).[5]

b) Menghadap Sutrah (Pembatas dalam Shalat).

Sutrah adalah sesuatu yang digunakan sebagai pembatas shalat yang diletakkan di depan orang shalat.

Hukum menghadap sutrah ini adalah wajib bagi shalat munfarid (sendirian) dan bagi imam [6]. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لا تصل إلا إلى سترة ولا تدع أحدا يمر بين يديك فإن أبى فلتقاتله فإن معه القرين

“Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sutrah (pembatas). Dan jangan engkau biarkan seorangpun lewat di hadapanmu (ketika engkau shalat). Jika ia enggan, maka perangilah ia, sesungguhnya ia bersama dengan qarin (syaithan)” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 800; shahih].

وَقَالَ ابن مَسعود : أَربَع منَ الخلَفَاء : أن يصلي الرّجل إلى غير سترة … أو يسمع المنادي ثم لا يجيبه

Dan Ibnu Mas’ud berkata : “Empat hal dari kemunkaran yaitu : Seseorang melakukan shalat tidak menghadap sutrah….. atau mendengar panggilan (adzan) lalu tidak menjawabnya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/61 dan Al-Baihaqi dalam Al-Kubra 2/285; shahih].

Tinggi sutrah minimal seukuran bagian belakang pelana kuda atau kira-kira dua pertiga sampai satu hasta, berdasarkan hadits:

إذا قام أحدكم يصلي فإنه يستره إذا كان بين يديه مثل آخرة الرحل

“Jika berdiri salah seorang di antara kalian untuk melaksanakan shalat, sesungguhnya terbatasi dia jika di depannya terdapat seukuran bagian pelana kendaraan tunggangan/kuda” [HR. Muslim no. 510].

Adapun jarak antara tempat berdiri shalat dengan sutrah adalah sepanjang tiga hasta, berdasarkan hadits :

...ثم صلى وجعل بينه وبين الجدار نحوا من ثلاثة أذرع

“….Kemudian beliau shalat dimana jarak antara beliau dan dinding (sebagai sutrah – Abul-Jauzaa’ (Pent.)) adalah sekitar tiga hasta” [HR. An-Nasa’i no. 749 dan Ahmad 2/138; shahih].

c) Berdiri jika mampu

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

صل قائما فإن لم تستطع فقاعدا فإن لم تستطع فعلى جنب

“Shalatlah sambil berdiri. Bila tidak sanggup, maka shalatlah sambil duduk. Bila tidak sanggup juga, shalatlah sambil berbaring” [HR. Al-Bukhari no. 1066, Abu Dawud no. 939, dan At-Tirmidzi no. 369].

Seluruh ulama sepakat (ijma’) bahwa orang yang sehat lagi mampu wajib melakukan shalat fardlu sambil berdiri, baik sendiri maupun menjadi imam.

Bila ia sedang naik pesawat, kapal, atau kendaraan lain yang tidak mungkin baginya untuk turun (ke tanah/darat) sewaktu-waktu, maka ia tetap wajib shalat sambil berdiri jika mampu. Namun jika tidak mampu, maka boleh baginya shalat sambil duduk.

Boleh mengerjakan shalat sunnah sambil duduk tanpa alasan apapun, akan tetapi ia hanya mendapatkan pahal setengah dari orang yang berdiri. ‘Imran bin Hushain pernah bertanya kepada Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wasallam tentang orang yang shalat sambil duduk. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab :

إن صلى قائما فهو أفضل ومن صلى قاعدا فله نصف أجر القائم ومن صلى نائما فله نصف أجر القاعد

“Barangsiapa yang shalat dengan berdiri, maka hal itu lebih baik. Orang yang mengerjakan shalat sambil duduk mendapatkan setengah pahala orang yang mengerjakannya sambil berdiri. Orang yang mengerjakan shalat sambil berbaring mendapatkan setengah pahala orang yang mengerjakannya sambil duduk” [HR. Bukhari no. 1064].

Namun jika ia melakukan shalat sambil duduk atau berbaring karena udzur (sakit atau yang lainnya), maka ia tetap mendapatkan pahala sebagaimana orang berdiri (tidak kurang). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا

“Barangsiapa yang jatuh sakit atau melakukan perjalanan jauh, maka dicatatkan pahala baginya pahala seperti yang biasa ia dilakukannya ketika bermukim atau sehat” [HR. Al-Bukhari no. 2834].

d) Takbiratul-Ihram dan Mengangkat Tangan

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مفتاح الصلاة الطهور وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم

“Kunci shalat itu adalah suci, pengharamannya[7] adalah takbir (yaitu takbiratul-ihram), dan penghalalannya[8] adalah salam” [HR. Abu Dawud no. 61, Asy-Syafi’i dalam Al-Umm 1/87, At-Tirmidzi no. 3 dan lain-lain; hasan].

إنه لا تتم صلاة لأحد من الناس حتى يتوضأ، فيضع الوضوء مواضعه ثم يقول :‏ اَللهُ أَكْبَرُ

“Sesungguhnya tidaklah sempurna shalat salah seorang di antara manusia sehingga ia berwudlu dan meletakkan wudlu tersebut pada tempatnya (yaitu pada anggota badan yang wajib terkena air wudlu), lalu berkata : Allaahu Akbar” [HR. Thabarani dalam Al-Kabiir no. 4526; shahih].

Kadangkala Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir.

أن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: رأيت النبي صلى الله عليه وسلم افتتح التكبير في الصلاة، فرفع يديه حين يكبر، حتى يجعلهما حذو منكبيه

Bahwasannya ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma berkata : “Aku melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memulai shalat dengan takbir. Maka beliau mengangkat kedua tangannya ketika (bersamaan) takbir setinggi kedua pundaknya” [HR. Al-Bukhari no. 705].

Kadangkala beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan sebelum takbir.

أن بن عمر قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام للصلاة رفع يديه حتى تكونا حذو منكبيه ثم كبر

Bahwasannya Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila berdiri untuk shalat, maka beliau mengangkat kedua tangannya setinggi kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir” [HR. Muslim no. 390].

Kadangkala beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan setelah takbir.

عن أبي قلابة أنه رأى مالك بن الحويرث إذا صلى كبر ثم رفع يديه وإذا أراد أن يركع رفع يديه وإذا رفع رأسه من الركوع رفع يديه وحدث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يفعل هكذا

Dari Abu Qilabah : “Bahwasannya ia melihat Malik bin Al-Huwairits apabila ia melakukan shalat, maka ia bertakbir kemudian mengangkat kedua tangannya. Dan apabila ia hendak rukuk, maka ia mengangkat kedua tangannya. Apabila ia mengangkat kepalanya dari rukuk (i’tidal), maka ia mengangkat kedua tangannya. Ia mengatakan bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan demikian (dalam shalat)” [HR. Al-Bukhari no. 704 dan Muslim no. 391].

Beliau shallalaahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan sejajar kedua pundaknya (berdasarkan hadits di atas). Kadangkala, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya.

عن مالك بن الحويرث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا كبر رفع يديه حتى يحاذي بهما أذنيه

Dari Malik bin Al-Huwairits : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya” [HR. Muslim no. 391].

e) Meletakkan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri di Dada

عن سهل بن سعد قال كان الناس يؤمرون أن يضع الرجل اليد اليمنى على ذراعه اليسرى في الصلاة

Dari Sahl bin Sa’id radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Adalah para shahabat diperintahkan (oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam) bahwa seseorang agar meletakkan tangan kanannya di atas hasta kirinya dalam shalat” [HR. Al-Bukhari no. 707].

Dari Wa’il bin Hujr radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ووضع يده اليمنى على يده اليسرى على صدره

“Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau meletakkan tangan kanannya atas tangan kirinya di dadanya” [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 479].

Adapun meletakkan kedua tangan di bawah dada atau perut, maka hal ini tidak benar (menyelisihi sunnah).[9]

f) Melihat Tempat Sujud dan Khusyu’

عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا صلى رفع بصره إلى السماء فنزلت الذين هم في صلاتهم خاشعون فطأطأ رأسه

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah shalat dengan mengangkat pandangannya ke langit. Maka turunlah ayat : “(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya” {QS. Al-Mukminun : 2}. Maka beliau kemudian menundukkan kepalanya” [HR. Al-Hakim no. 3483; shahih sesuai syarat Muslim].

Dilarang menoleh ketika shalat, sebagaimana penjelasan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika beliau ditanya tentang hukum menoleh ketika shalat :

هو اختلاس يختلسه الشيطان من صلاة العبد

“Itulah ikhtilaas (mencuri-curi), yang dicuri-curi syaithan dari shalat seorang hamba” [HR. Al-Bukhari no. 718].

Akan tetapi diperbolehkan untuk melirik (tanpa menoleh) jika ada keperluan.

عن بن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يلحظ في الصلاة يمينا وشمالا ويلوى عنقه خلف ظهره

Dari Abdullah bin ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melirik ke kanan dan ke kiri dalam shalat, namun beliau tidak menolehkan leher beliau ke belakang” [HR. At-Tirmidzi no. 587 dan Ibnu Khuzaimah no. 485 dengan sanad shahih].

g) Membaca Iftitah/Istiftah

Hukumnya adalah sunnah menurut jumhur ulama (dan ini adalah pendapat yang rajih/kuat). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إنه لا تتم صلاة لأحد من الناس حتى يتوضأ، فيضع الوضوء يعني مواضعه ثم يكبر ويحمد الله جل وعز ويثني عليه ويقرأ بما تيسر من القرآن

“Sesungguhnya shalat seseorang tidaklah sempurna kecuali bila dia wudlu pada anggota tubuh yang terkena air wudlu, kemudian mengucapkan takbir, memuji Allah jalla wa ‘azza dan mengagungkannya, serta membaca Al-Qur’an yang mudah baginya” [HR. Abu Dawud no. 857; shahih].

Kalimat { وَيَحْمَدُ اللهَ جَلَّ وَعَزَّ} “memuji Allah jalla wa ‘azza” dijelaskan oleh para ulama mempunyai makna membaca doa iftitah.

Macam-macam doa iftitah/istiftah antara lain :

o { اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اَللَّهُمَ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ }

Alloohumma baa’id bainii wa bainaa khothooyaaya kamaa baa’atta bainal-masyriqi wal-maghrib. Alloohumma naqqinii min khothooyaaya kamaa yunaqqots-tsaubul-abyadlu minad-danas. Alloohummagh-silnii min khothooyaaya bits-tsalji wal-maa-i wal-barad.

“Ya Allah, jauhkanlah diriku dari dosa-dosaku sebagaimana Engkau telah menjauhkan jarak antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala dosa-dosaku seperti baju putih yang dibersihkan dari noda. Ya Allah, cucilah diriku dari segala dosa-dosaku dengan salju, air, dan embun” [HR. Al-Bukhari no. 711 dan Muslim no. 598].

o {سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ}

Subhaanakalloohumma wabihamdika watabaarokas-muka wata’aalaa jadduka walaa ilaaha ghoiruka.

"Aku menyucikan-Mu dan memuji-Mu ya Allah. Sungguh berkah nama-Mu dan sungguh tinggi kekayaan-Mu. Dan tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau” [HR. Abu Dawud no. 776, At-Tirmidzi no. 243, dan yang lainnya; shahih].

* Dan yang lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam hadits-hadits shahih.

h) Membaca Isti’adzah

Para ulama sepakat bahwa hukum membaca isti’adzah di permulaan shalat (maksudnya : sebelum membaca Al-Fatihah) adalah wajib. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang kewajiban membacanya di tiap raka’at.

Allah ta’ala berfirman :

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيمِ

“Apabila kamu hendak membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk” [QS. An-Nahl : 98].

Isti’adzah dalam shalat dapat dilakukan dengan membaca salah satu lafadh sebagai berikut :

o { أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ }

A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim

“Aku berlindung kepada Allah dari gangguan syaithan yang terkutuk” [QS. An-Nahl : 98].

o { أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ }

A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi

“Aku berlindung kepada Allah dari gangguan syaithan yang terkutuk, yaitu dari bisikan, tiupan, dan hembusannya” [HR. Ahmad 6/156 no. 25266; hasan].

o { أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ }

A’uudzu billaahis-samii’il-‘aliimi minasy-syaithoonir-rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari gangguan syaithan yang terkutuk, yaitu dari bisikan, tiupan, dan hembusannya” [HR. Abu Dawud no. 775; shahih].

i) Membaca Surat Al-Fatihah

Wajib membaca Al-Fatihah (dan ini menjadi bagian dari rukun shalat). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب

“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah” [HR. Al-Bukhari no. 723 dan Muslim no. 394].

Jika ada orang yang tidak hafal surat Al-Fatihah, maka dia boleh membaca :

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلاَ إِلَهَ إِلا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلا بِاللهِ

Subhaanalloohi wal-hamdulillaahi walaa ilaaha illalloohu walloohu akbar. Walaa haula walaa quwwata illaa billaah

“Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Allah Maha Besar dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah” [HR. Abu Dawud no. 832; hasan].

Namun keringanan ini hanya berlaku bagi orang yang benar-benar tidak mampu menghafalnya setelah berusaha sekuat tenaga untuk menghafalnya.

Dalam shalat jama’ah jahriyyah (yang dikeraskan suaranya, seperti shalat shubuh, maghrib, dan ‘isya’), maka bacaan basmalah adalah sirr (tidak dikeraskan – tapi tetap dibaca) berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم وأبا بكر وعمر رضى الله تعالى عنهما كانوا يفتتحون الصلاة ب-{اَلحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ}

”Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan ‘Umar membuka (bacaan) shalatnya dengan membaca Alhamdulillaahi rabbil-‘aalamiin”. [HR. Al-Bukhari no. 710].

j) Mengucapkan Amiin Setelah Membaca Al-Fatihah

عَنْ وَائِل بْنِ حُجْر قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأَ { وَلاَ الضَالِينَ } قَالَ آمِيْنَ وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ

Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bila selesai membaca Waladl-dlooolliin; maka beliau berkata : Aamiin, dan beliau mengangkat suara dengannya” [HR. Abu Dawud no. 932; shahih].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إذا أمن الإمام فأمنوا فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه

“Jika imam mengucapkan aamiin, maka ikutilah dengan mengucapkan aamiin juga. Sesungguhnya, barangsiapa yang ucapan amin-nya bersamaan dengan aamiin yang diucapkan oleh malaikat; maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” [HR. Al-Bukhari no. 747 dan Muslim no. 410].

Sebagian ulama mengatakan bahwa membaca aamiin setelah Al-Fatihah adalah wajib. Adapun tambahan rabbighfirlii sebelum membaca aamiin (sebagaimana dilakukan oleh sebagian kaum muslimin), maka itu adalah perbuatan yang sama sekali tidak dilandasi dalil (shahih). Sudah sepatutnya perbuatan tersebut untuk ditinggalkan.

k) Membaca Surat /Ayat yang Dihafal dari Al-Qur’an

§ Hukumnya adalah sunnah.

عَنْ أبِيْ هرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ يَقُوْلُ فيْ كُلِّ صَلاَةٍ يُقْرَأُ فَمَا أَسْمَعَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْمَعْنَاكُمْ وَمَا أَخْفَى عَنَّا أَخْفَيْنَا عَنْكُمْ وَإِنْ لَمْ تَزِدْ عَلَى أُمِّ الْقُرْآنِ أَجْزَأَتْ وَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ta’ala ‘anhu ia berkata : "Al-Qur’an dibaca pada setiap shalat. Bacaan yang dikeraskan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kami pun mengeraskannya ketika kami menjadi imam. Dan bacaan yang tidak dikeraskan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka kami pun tidak mengeraskannya. Jika kamu tidak menambah bacaan selain Ummul-Qur’an (Al-Fatihah), maka itu sudah cukup. Jika kamu menambah bacaan surat selain Ummul-Qur’an, maka itu lebih baik" [HR. Al-Bukhari no. 738].

عن جبير بن مطعم قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم قرأ في المغرب بالطور

Dari Jubair bin Muth’im ia berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca surat Ath-Thuur dalam shalat maghrib” [HR. Al-Bukhari no. 731 dan Muslim no. 463].

§ Sebagian ulama menjelaskan bahwa sebaiknya bacaan pada raka’at pertama lebih panjang daripada raka’at kedua.

§ Disunnahkan pula membaca surat lain setelah Al-Fatihah pada raka’at ketiga dan/atau keempat berdasarkan hadits :

عن أبي سعيد الخدري أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الظهر في الركعتين الأوليين في كل ركعة قدر ثلاثين آية وفي الأخريين قدر خمس عشرة آية

Dari Abi Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca surat (setelah Al-Fatihah) dalam dua raka’at pertama shalat Dhuhur untuk setiap raka’atnya sekitar tigapuluh ayat. Sedangkan dalam dua raka’at terakhir beliau membaca sekitar lima belas ayat” [HR. Muslim no. 452].

§ Bila shalat sendirian, maka ia boleh memperpanjang bacaan ayat sesukanya. Namun jika ia menjadi imam, maka hendaknya ia memperhatikan kondisi makmum. Jika makmum adalah dari kalangan yang kuat, semangat ke-Islamannya tinggi, dan biasa dibacakan ayat-ayat yang panjang; maka tidak apa-apa jika ia memperpanjang bacaan suratnya. Namun jika makmumnya adalah orang yang lemah, para wanita, anak-anak, dan orang-orang yang mempunyai keperluan; hendaknya ia memperpendek bacaan suratnya.

عن أنس بن مالك أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم قال إني لأدخل في الصلاة وأنا أريد إطالتها فأسمع بكاء الصبي فأتجوز في صلاتي مما أعلم من شدة وجد أمه من بكائه

Dari Anas bin Malik, bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda : “Sungguh aku akan memulai shalat (berjama’ah) dan aku ingin memperpanjangnya. Namun tiba-tiba aku mendengar suara tangisan seorang bayi. Maka aku memperingan (memperpendek) shalatku, karena aku mengetahui betapa cintanya (gelisahnya) ibunya terhadap tangis (anak)-nya itu” [HR. Al-Bukhari no. 677 dan Muslim no. 470].

l) Rukuk

* Setelah membaca ayat Al-Qur’an, hendaknya ia berhenti sejenak sebelum memulai gerakan untuk rukuk, sebagaimana riwayat Samurah bin Jundub radliyallaahu ‘anhu.[10] Lama berhenti ini sekitar satu nafas.

o Mengangkat kedua tangan ketika hendak rukuk.

عن وائل بن حجر ........فلما أراد أن يركع رفعهما مثل ذلك (رفع يديه)

Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Ketika beliau hendak rukuk, maka beliau melakukan hal yang serupa (yaitu mengangkat kedua tangannya)” [HR. Abu Dawud no. 726; shahih].

o Meletakkan kedua tangannya di lututnya dengan menguatkan pegangan dan merenggangkan jari-jemarinya. Posisi tangan agak dijauhkan dan sedikit dibengkokkan di kedua siku.

عن وائل بن حجر .......فلما أراد أن يركع رفعهما مثل ذلك ثم وضع يديه على ركبتيه

Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Ketika beliau hendak rukuk, maka beliau melakukan hal yang serupa (yaitu mengangkat kedua tangannya), kemudian meletakkan kedua tangannya pada lututnya” [idem].

فقال أبو حميد الساعدي....... وإذا ركع أمكن يديه من ركبتيه

Berkata Abu Humaid As-Sa’idy radliyallaahu ‘anhu : “….. Dan apabila beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam rukuk, maka beliau menguatkan kedua tangannya pada kedua lututnya” [HR. Al-Bukhari no. 794].

عن أبي حميد : .... ثم ركع فوضع يديه على ركبتيه كأنه قابض عليهما ووتر يديه فتجافى عن جنبيه

Abu Humaid radliyallaahu ‘anhu berkata : “….. Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam rukuk dan beliau meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya, seakan-akan beliau memegang erat kedua lututnya tersebut. Beliau membengkokkan dan menjauhkan kedua tangannya di samping badannya” [HR. Abu Dawud no. 734, At-Tirmidzi no. 260 dan Ibnu Khuzaimah no. 589; shahih].

عن وائل بن حجر أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا ركع فرج بين أصابعه

Dari Wail radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila rukuk, maka beliau merenggangkan jari-jemarinya” [HR. Al-Hakim no. 814; shahih].

* Ketika rukuk, posisi punggung dan kepala adalah lurus dan rata.

كان إذا ركع سوِى ظهره حتى لو صب عليه الماء لاستقر

“Apabila beliau rukuk, maka beliau meluruskan punggungnya. Bahkan seandainya disiramkan air di atas punggung tersebut, maka pasti tidak akan tumpah ke bawah” [Lihat Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 4732].

إن رسول اللَّه لم يصب رأسه ولم يقنعه

“Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak menundukkan kepalanya dan tidak pula mengangkat/ menegakkannya” [HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa; shahih].

* Bacaan dalam rukuk (bisa dipilih dan dibaca yang mudah) :

- { سُبْحَانَ رَبِّيَّ الْعَظِيْمِ}

Subhaana Rabbiyal-‘Adhiim (tiga kali)

“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung” [HR. Abu Dawud no. 871, Ibnu Majah no. 890, dan lain-lain; shahih].

- { سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَ اغْفِرْ لِيْ }

Subhaanakalloohumma wabihamdika alloohummagh-firlii

“Aku menyucikanmu ya Allah, Tuhan kami, dan aku memujimu. Ya Allah, ampunilah aku” [HR. Al-Bukhari no. 761 dan Muslim no. 484].

- { سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ }

Subbuuhun qudduusun robbul-malaaikati war-ruuh

“Engkau Maha Suci, Maha Qudus, Tuhan para malaikat dan ruh" [HR. Muslim no. 487 dan Abu Dawud no. 872].

Masing-masing doa/bacaan dalam rukuk di atas dapat diulang lebih dari tiga kali berdasar keumuman hadits :

عن البراء رضى الله تعالى عنه قال كان ركوع النبي صلى اللَّه عليه وسلم وسجوده وإذا رفع رأسه من الركوع وبين السجدتين قريبا من السواء

Dari Al-Barra’ radliyallaahu ‘anhu ia berkata : "Adalah rukuk dan sujudnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, serta bangkitnya beliau dari rukuk (i’tidal) dan duduknya diantara dua sujud; hampir sama lamanya" [HR. Al-Bukhari no. 768 dan Muslim no. 471].

* Wajib thuma’ninah dalam rukuk. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

....ثم اركع حتى تطمئن راكعا

"Kemudian rukuklah sampai engkau merasa thuma’ninah dalam rukuk itu" [HR. Al-Bukhari no. 724 dan Muslim no. 397].

m) Bangkit dan Berdiri dari Rukuk (I’tidal).

· Mengucapkan : { سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ} « Sami’alloohu liman hamidah » ketika mengangkat badan dari rukuk, dan { رَبَنَا لَكَ الْحَمْدُ} « Robbanaa lakal-hamdu » ketika telah berdiri. Hal itu berdasarkan hadits :

عن أبي هريرة يقول كان رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة يكبر حين يقوم ثم يكبر حين يركع ثم يقول : سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حين يرفع صلبه من الركعة ثم يقول وهو قائم رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu : "Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila berdiri shalat beliau mengucapkan takbir ketika dalam keadaan berdiri, kemudian beliau bertakbir ketika hendak rukuk. Beliau mengucapkan : Sami’alloohu liman hamidah (Mudah-mudahan Allah mendengarkan/memperhatikan orang-orang yang memuji-Nya) ketika beliau mengangkat/ menegakkan tulang pungungnya. Kemudian beliau mengucapkan setelah berdiri : Robbanaa lakal-hamdu (Tuhan kami, Engkaulah yang pantas mendapat pujian)" [HR. Al-Bukhari no. 756].

Ucapan « Robbanaa lakal-hamdu » bisa juga diucapkan dengan lafadh :

ü { رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ} « Robbanaa walakal-hamdu » "Ya Allah, dan Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian" [HR. Al-Bukhari no. 657].

ü { اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ} « Alloohumma robbanaa lakal-hamdu » "Ya Allah, Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian" [HR. Muslim no. 404].

ü { اَللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ } « Alloohumma robbanaa walakal-hamdu » "Ya Allah, dan Engkaulah yang pantas mendapatkan pujian" [HR. Al-Bukhari no. 762].

Dalam shalat berjama’ah, maka ketika imam mengucapkan « Sami’alloohu liman hamidah », maka makmum mengikutinya dengan ucapan « Robbanaa lakal-hamdu » (atau yang lain sebagaimana di atas).

· Setelah ucapan « Robbanaa lakal-hamdu » (atau yang semisal di atas), maka disunnahkan untuk menambah dengan ucapan:

مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Mil-as samaawaati wa mil-al ardli wa mil-a maa syi’ta min syain ba’du

"Sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu" [HR. Muslim no. 476].

· Posisi tangan ketika berdiri i’tidal adalah bersedekap di dada menurut pendapat yang paling kuat. Hal itu berdasarkan keumuman hadits :

كان الناس يؤمرون أن يضع الرجل اليد اليمنى على ذراعه اليسرى في الصلاة

“Adalah para shahabat diperintahkan (oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam) bahwa seseorang agar meletakkan tangan kanannya di atas hasta kirinya dalam shalat” [HR. Al-Bukhari no. 707 dari Sahl bin Sa’d radliyallaahu ‘anhu].

· Wajib thuma’ninah ketika i’tidal dan disunnahkan memperpanjangnya, berdasarkan hadits :

عن ثابت قال كان أنس ينعت لنا صلاة النبي صلى اللَّه عليه وسلم فكان يصلي وإذا رفع رأسه من الركوع قام حتى نقول قد نسي

Dari Tsabit ia berkata : “Anas pernah memberikan contoh shalat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian Anas melakukan shalat. Setelah bangun dari rukuk, Anas berdiri lama hingga kami menyangka ia lupa untuk sujud” [HR. Bukhari no. 767 dan Muslim no. 472].

n) Sujud

v Bertakbir ketika turun untuk sujud, berdasarkan hadits :

.....ثم يكبر حين يرفع رأسه ثم يكبر حين يسجد

“….Kemudian beliau bertakbir ketika mengangkat kepalanya (i’tidal), dan kemudian beliau pun bertakbir ketika hendak sujud” [HR. Al-Bukhari no. 756].

v Terkadang beliau mengangkat tangan ketika hendak sujud, berdasarkan hadits :

عن مالك بن الحويرث أنه رأى النبي صلى اللَّه عليه وسلم رفع يديه في صلاته وإذا ركع وإذا رفع رأسه من الركوع وإذا سجد وإذا رفع رأسه من السجود......

Dari Malik bin Al-Huwairits : “Bahwasannya ia melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya dalam shalatnya ketika hendak rukuk, ketika mengangkat kepalanya dari rukuk (i'tidal), ketika hendak sujud, dan ketika mengangkat kepala dari sujud…..” [HR. An-Nasa’i no. 1085; shahih].

v Mendahulukan tangan daripada lutut ketika turun dari sujud. Hal ini berdasarkan hadits :

عن أبي هريرة قال رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم إذا سجد أحدكم فلا يبرك كما يبرك البعير وليضع يديه قبل ركبتيه

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Apabila salah seorang diantara kalian hendak sujud, maka janganlah ia menyungkur seperti menyungkurnya seekor unta. Hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya” [HR. Abu Dawud no. 840, Nasa’i no. 1091, dan yang lainnya; shahih] [11].

v Ketika sujud, beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sujud dengan tujuh anggota badan (dahi dan hidung – dianggap satu kesatuan –, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

عن بن عباس أَن رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم قال أمرت أن أسجد على سبعة أعظم الجبهة وأشار بيده على أنفه واليدين والرجلين وأطراف القدمين

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : “Aku diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota tubuh, yaitu dahi (beliau berisyarat ke hidungnya), kedua (telapak) tangan, kedua kaki (maksudnya kedua lutut), dan kedua ujung kaki” [HR. Al-Bukhari no. 776 dan Muslim no. 490].

v Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sujud dengan bertelekan dengan kedua tangannya, mengangkat kedua siku, melebarkan bentangan tangannya, meletakkan kedua telapak tangan sejajar dengan kedua bahunya atau kedua telinganya, merapatkannya jari-jarinya serta mengarahkannya ke kiblat.

عن البراء قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سجدت فضع كفيك وارفع مرفقيك

Dari Al-Barra’ bin ‘Azib ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Apabila engkau sujud, maka letakkanlah dua telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikumu” [HR. Muslim no. 494]. [12]

عن عبد اللَّه بن مالك ابن بحينة أن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا صلى فرج بين يديه حتى يبدو بياض إبطيه

Dari Abdillah bin Malik bin Buhainah radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila shalat, maka beliau membentangkan kedua tangannya hingga kelihatan putih ketiaknya” [HR. Al-Bukhari no. 383 dan Muslim no. 495].

عن وائل بن حجر قال : ....... ثم سجد فكانت يداه حذاء أذنيه

Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sujud, sedangkan kedua tangannya di hadapan (sejajar) kedua telinganya” [HR. Ahmad 4/317 no. 18878; shahih].

عن وائل أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا سجد ضم أصابعه

Dari Wail radliyallaahu ‘anhu : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila sujud, maka beliau merapatkan jari-jarinya” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 642; hasan].

عن البراء بن عازب رضى اللَّه عنه قال : كان رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم إذا سجد فوضع يديه بالأرض استقبل بكفيه وأصابعه القبلة

Dari Al-Barra’ bin ‘Azib radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila sujud maka beliau meletakkan kedua tangannya di bumi/tanah, serta menghadapkan kedua tangan dan jari-jemarinya ke arah kiblat” [HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa ; shahih].

v Menempelkan/merapatkan dua kaki dan mengarahkan jari-jari kaki ke arah kiblat

قالت عائشة زوج النبي فقدت رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم وكان معي على فراشي فوجدته ساجدا راصا عقبيه مستقبلا بأطراف أصابعه القبلة

Telah berkata ‘Aisyah istri Nabi : “Aku kehilangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang sebelumnya bersamaku di tempat tidur. Maka aku menemukan beliau sedang bersujud menempelkan tumitnya, ujung-ujung jemarinya menghadap kiblat” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 654; shahih].

v Bacaan dalam sujud (bisa dipilih dan dibaca yang mudah) :

- {سُبْحَانَ رَبِّيَّ الْأَعْلَى}

Subhaana robbiyal-a’laa (tiga kali)

“Maha Suci Allah yang Maha Tinggi” [HR. Abu Dawud no. 871, Ibnu Majah no. 890, dan lain-lain; shahih].

- {سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَ اغْفِرْ لِيْ}

Subhaanakalloohumma wabihamdika alloohummagh-firlii

“Aku menyucikanmu ya Allah, Tuhan kami, dan aku memujimu. Ya Allah, ampunilah aku” [HR. Al-Bukhari no. 761 dan Muslim no. 484].

- { سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ }

Subbuuhun qudduusun robbul-malaaikati war-ruh

“Engkau Maha Suci, Maha Qudus, Tuhan para malaikat dan ruh" [HR. Muslim no. 487 dan Abu Dawud no. 872].

Masing-masing doa tersebut dapat dibaca berulang-ulang (lebuh dari tiga kali) dengan keumuman hadits yang mnejlaskan lamanya sujud beliau ketika shalat.

v Dianjurkan memperbanyak doa ketika sujud. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وأما السجود فاجتهدوا في الدعاء فقمن أن يستجاب لكم

“…Adapun ketika bersujud, maka perbanyaklah doa, karena hal itu lebih pantas untuk dikabulkan” [HR. Muslim no. 479 dan Abu Dawud no. 876].

Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sujudnya sering berdoa dengan doa berikut :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَلَّهُ وآخِرَهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ وَسِرَّهُ

Alloohumagh-firlii dzanbii kullahu diqqohu wa jillahu wa-awwalahu wa aakhirohu wa ‘alaaniyyatahu wa sirrohu

“Ya Allah, ampunilah semua dosaku, dosa kecil maupun besar, dosa pertama maupun terakhir, dosa yang dilakukan dengan terang-terangan mapun sembunyi-sembunyi" [HR. Muslim no. 483].

v Diperintahkan untuk thuma’ninah dalam sujud (dan juga rukuk) serta dilarang untuk sujud (dan rukuk) seperti patukan burung/ayam.

عن رفاعة أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم قال للرجل الذي صلى ..... ثم إذا أنت سجدت فاثبت وجهك ويديك حتى يطمئن كل عظم منك إلى موضعه

Dari Rifa’ah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada orang yang sedang melakukan shalat : “…..Kemudian jika kamu melakukan sujud, maka tancapkanlah wajah (dahi) dan kedua tanganmu sehingga setiap persendian thuma’ninah pada tempatnya” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 638; hasan].

عن أبي هريرة يقول أمرني خليلي صلى اللَّه عليه وسلم بثلاث ونهاني عن ثلاث أمرني بركعتي الضحى وصوم ثلاثة أيام من الشهر والوتر قبل النوم ونهاني عن ثلاث عن الالتفات في الصلاة كالتفات الثعلب وأقعاء كأقعاء القرد ونقر كنقر الديك

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Kekasihku (yaitu Rasulullah) shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kepadaku tiga hal dan melarangku tiga hal pula. Beliau memerintahkanku untuk mengerjakan dua raka’at shalat dluhaa, puasa tiga hari pada setiap bulannya, dan shalat witir sebelum tidur. Beliau melarangku atas tiga hal, yaitu berpaling dalam shalat seperti berpalingnya serigala, duduk seperti duduknya kera, dan mematuk (dalam shalat) seperti mematuknya ayam jantan” [HR. Ath-Thayalisi no. 2593; hasan].

o) Duduk di Antara Dua Sujud

§ Mengucapkan takbir ketika mengangkat kepala dari sujud.

ثم يكبر حين يسجد ثم يكبر حين يرفع رأسه

“….Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bertakbir ketika sujud, dan bertakbir pula ketika mengangkat kepala beliau (dari sujud)” [HR. Al-Bukhari no. 756].

§ Kadang beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya ketika mengangkat kepalanya dari sujud.

ثم سجد ووضع وجهه بين كفيه وإذا رفع رأسه من السجود أيضا رفع يديه حتى فرغ من صلاته

“Kemudian beliau sujud dan meletakkan wajahnya di antara dua telapak tangannya. Dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud, maka beliau juga mengangkat kedua tangannya, hingga beliau menyelesaikan shalatnya” [HR. Abu Dawud no. 723; shahih].

عن وائل بن حجر قال : ...... وكان يرفع يديه كلما كبر ورفع ووضع بين السجدتين

Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : ”..... Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya setiap beliau bertakbir. Beliau mengangkat dan meletakkan (kedua tangannya) di antara dua sujud” [HR. Ahmad no. 18881; hasan].

§ Beliau duduk iftirasy dengan cara duduk di atas telapak kaki kiri dan menegakkan kaki kanannya.

عن عبد الله بن عمر قال من سنة الصلاة أن تنصب القدم اليمنى واستقباله بِأصابعها القبلة والجلوس على اليسرى

Dari Abdullah bin ‘Umar ia berkata : “Termasuk sunnah shalat adalah menegakkan telapak kaki kanan, menghadapkan jari-jarinya ke kiblat, dan beliau duduk di atas telapak kaki kirinya” [HR. Nasa’i no. 1158; shahih].

Boleh juga duduk dengan cara iq’a’ (duduk dengan menegakkan dua telapak kaki/tumit).

عن ابن عباس رضي اللَّه تعالى عنه، قال:من السنة في الصلاة أن تضع أليتيك على عقبيك بين السجدتين

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : “Termasuk di antara sunnah dalam shalat adalah kamu meletakkan kedua pantatmu di atas kedua tumitmu ketika duduk di antara dua sujud” [HR. Thabarani dalam Al-Kabiir no. 10852; shahih. Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Muslim no. 536].

§ Bacaan ketika duduk di antara dua sujud (bisa dipilih salah satu) :

ü { اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَعَافِنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ }

Alloohummagh-firlii warhamnii wa ‘aafinii wahdinii warzuqnii

“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, sehatkanlah aku, dan berilah aku rizki” [HR. Abu Dawud no. 850].

ü { رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَارْفَعْنِيْ }

Robighfirlii warhamnii wajburnii warzuqnii warfa’nii

“Tuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, berilah aku rizki, dan angkatlah derajatku” [HR. Ibnu Majah no. 898; shahih].

ü { اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ }

Alloohummagh-firlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii

“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, tunjukilah aku, dan berilah aku rizki” [HR. At-Tirmidzi no. 284; shahih].

Yang paling lengkap dengan penggabungan beberapa riwayat hadits adalah sebagai berikut :

{ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ، وَارْحَمْنِيْ، وَاجْبُرْنِيْ، وَارْفَعْنِيْ، وَاهْدِنِيْ، وَعَافِنِيْ، وَارْزُقْنِيْ}

Alloohummagh-firlii warhamnii wajburnii warfa’nii wahdinii wa’aafinii warzuqnii

“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, angkatlah derajatku, tunjukilah aku, sehatkanlah aku, dan berikanlah aku rizki”.

ü { رَبِّ اغْفِرْ لِيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ }

Robbighfirlii robbighfirlii

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, ya Tuhanku ampunilah aku” [HR. Ibnu Majah no. 897; jayyid].

§ Diperintahkan untuk thuma’ninah ketika duduk.

ثُمَّ يَقُوْلُ اَللهُ أَكْبَرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ وَيَثْنِيْ رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَيَقْعُدُ عَلَيْهَا حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ إِلَى مَوْضِعِهِ

“….Kemudian beliau mengucapkan ‘Alloohu akbar’ dan mengangkat kepalanya (dari sujud). Beliau membengkokkan kaki kirinya serta duduk di atasnya hingga setiap tulang kembali pada tempatnya (yaitu duduk dengan tegak dan tenang)” [HR. Abu Dawud no. 730; shahih].

p) Berdiri untuk Melanjutkan Raka’at Kedua (dan Keempat).

o Duduk istirahat sebelum berdiri ke raka’at kedua (dan keempat).

عن مالك بن الحويرث الليثي أنه رأى النبي صلى اللَّه عليه وسلم يصلي فإذا كان في وتر من صلاته لم ينهض حتى يستوِي قاعدا

Dari Malik bin Al-Huwairits Al-Laitsi : “Bahwasannya ia melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat. Apabila beliau berada pada raka’at ganjil (yaitu rakaat pertama dan ketiga) dalam shalatnya, maka beliau tidak langsung bangkit berdiri (ke raka’at kedua dan keempat) hingga beliau duduk sejenak terlebih dahulu” [HR. Al-Bukhari no. 789].

o Berdiri dengan mendahulukan mengangkat kedua lutut sebelum tangan.

عن مالك بن الحويرث أنه كان يقول : ألا أحدثكم عن صلاة رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم فيصلي في غير وقت الصلاة ، فإذا رفع رأسه من السجدة الثانية في أول ركعة استوى قاعدا ، ثم قام ، فاعتمد على الارض

Dari Malik bin Al-Huwairits : Bahwasannya ia berkata : "Maukah kalian aku ceritakan bagaimana shalat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ? Maka beliau shalat di luar waktu shalat. Apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud kedua pada raka’at pertama, maka beliau duduk dengan tegak. Kemudian apabila beliau bangkit, maka beliau bertelekan pada tanah” [HR. Asy-Syafi’i dalam Al-Umm 1/227; shahih]. [13]

o Kadang beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menggenggamkan/mengepalkan kedua telapak tangannya untuk bertelekan ke tanah ketika berdiri dari sujud.

عن الازرق بن قيس : رأيت ابن عمر يعجن في الصلاة : يعتمد على يديه إذا قام . فقلت له ؟ فقال : رأيت رسول الله صلى اللَّه عليه يفعله

Dari Al-Azraq bin Qais : Aku melihat Ibnu ‘Umar melakukan ‘ajn (menggenggam tangan) ketika shalat, yaitu bertelekan dengan dua tangannya ketika berdiri. Maka aku bertanya kepadanya tentang hal tersebut. Maka ia menjawab : “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukannya” [HR. Abu Ishaq Al-Harbi dengan sanad shalih].

q) Wajib Membaca Al-Fatihah pada Setiap Raka’at

وكان من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال جاء رجل ورسول الله صلى الله عليه في المسجد فصلى قريبا منه ثم انصرف إليه فسلم عليه فقال له رسول الله صلى الله عليه .........ثم اقرأ بأم القرآن ثم اقرأ بما شئت .......ثم اصنع ذلك في كل ركعة

Dari salah seorang shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ia berkata : Datang seseorang dan pada waktu itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berada di masjid. Maka orang tersebut melakukan shalat di dekat beliau. Setelah usai melakukan shalat, maka ia berpaling kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam terhadap beliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya (tentang bagaimana tata cara shalat yang benar) : “….Kemudian bacalah Ummul-Qur’an (Al-Fatihah) dan setelah itu bacalah surat yang engkau kehendaki……kemudian lakukanlah hal tersebut pada setiap raka’at (dalam shalatmu)” [HR. Ibnu Hibban no. 1787 dengan sanad qawiy (kuat)].

r) Tasyahud Awal

v Duduk tasyahud awal adalah duduk iftirasy sebagaimana duduk di antara dua sujud

عن أبي حميد الساعدي : ...... فإذا جلس في الركعتين جلس على رجله اليسرى ونصب اليمنى

Dari Abu Humaid As-Sa’idi : “….Apabila beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam duduk pada raka’at kedua (yaitu duduk tasyahud awal), maka beliau duduk di atas telapak kaki kirinya dengan menegakkan telapak kaki kanannya” [HR. Al-Bukhari no. 794].

v Meletakkan kedua tangan di atas lutut (atau di atas paha), tangan kanan menggenggam (atau membuat lingkaran antara jari tengah dan ibu jari), dan berisyarat dengan jari telunjuk tangan kanan dengan mengerak-gerakannya.

عن بن عمر أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا جلس في الصلاة وضع يديه على ركبتيه ورفع إصبعه اليمنى التي تلي الإبهام فدعا بها ويده اليسرى على ركبته اليسرى باسطها عليها

Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila duduk dalam shalat, beliau meletakkan kedua (telapak) tangannya di atas kedua lututnya, dan beliau mengangkat jari (telunjuknya) yang kanan, maka beliaupun berdoa (bersamaan) dengan itu, dan (telapak) tangan kirinya terhampar di atas lututnya yang kiri” [HR. Muslim no. 580, At-Tirmidzi no. 294, Ibnu Majah no. 913, dan yang lainnya].

Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Umar :

كان إذا جلس في الصلاة وضع كفه اليمنى على فخذه اليمنى وقبض أصابعه كلها وأشار بإصبعه التي تلي الإبهام ووضع كفه اليسرى على فخذه اليسرى

"Bahwasannya apabila beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam duduk (tasyahud) dalam shalat, maka beliau meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya. Beliau menggenggam semua jari tangan kanannya dan berisyarat dengan jari telunjuk. Dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya" [HR. Muslim no. 580].

ان وائل بن حجر الحضرمي قال : ........فوضع كفه اليسرى على فخذه وركبته اليسرى وجعل حد مرفقه الأيمن على فخذه اليمنى ثم قبض بين أصابعه فحلق حلقة ثم رفع إصبعه فرأيته يحركها يدعو بها

Bahwasannya Wail bin Hujr Al-Hadlrami radliyallaahu ‘anhu berkata : “…..Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha dan lututnya yang kiri pula, dan meletakkan ujung siku tangan kanannya di atas pahanya yang kanan dan beliau pun membuat lingkaran (dengan jari tengah dan ibu jarinya) dan beliau mengangkat jari (telunjuknya). Maka aku pun (yaitu Wail) melihat beliau menggerak-gerakkannya (jari telunjuk) sambil berdoa dengannya” [HR. Ahmad no. 18890; shahih]. [14]

عن عبد الله بن الزبير قال : .....وأشار بإصبعه السبابة ووضع إبهامه على إصبعه الوسطى

Dari Abdullah bin Zubair radliyallaahu ‘anhuma : “…..Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jarinya di atas jari tengahnya” [HR. Muslim no. 579].

عن وائل بن حجر قال : ....... ثم أشار بسبابته ووضع الإبهام على الوسطى حلق بها

Dari Wail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “…..Kemudian beliau shallallaau ‘alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jari di atas jari tengah dengan membuat lingkaran” [HR. ‘Abdurrazzaq no. 2522; shahih].

Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan hal itu pada setiap tasyahud, baik tasyahud awal maupun akhir.

عن عبد الله بن الزبير قال كان رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم إذا جلس في الثنتين أو في الأربع يضع يديه على ركبتيه ثم أشار بأصبعه

Dari ‘Abdullah bin Zubair radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila duduk di raka’at kedua atau di raka’at keempat, beliau meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya, kemudian berisyarat dengan jari (telunjuknya)” [HR. Nasa’i dalam As-Shughraa no. 1161; shahih].

v Membaca tasyahud, di antaranya adalah (bisa dipilih salah satu):

- { اَلتَّحِيَّاتُ للهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ }

At-tahiyyaatu lillaah, wash-sholawaatu wath-thoyyibaat, as-salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatulloohi wabarokatuh, as-salaamu ‘alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh

“Segala ucapan selamat, kebahagiaan, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakahnya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya” [HR. Al-Bukhari no. 797 dan Muslim no. 402].

- { اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ َالطَّيِّبَاتُ للهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ . وفي رواية: عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ }

At-tahiyyaatul-mubaarokaatush-sholawaatuth-thoyyibaatu lillaah, as-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh, as-salaamu ‘alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadar-“Rosuulullah” [dalam riwayat lain :] ’abduhu warosuuluh

“Segala ucapan selamat, barakah, kebahagiaan, dan kebahagiaan adalah milik Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan barakahnya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah ‘Rasululah’ [dalam riwayat yang lain :] ‘hamba-Nya dan utusan-Nya’ “ [HR. Muslim no. 403, Abu ‘Awanah no. 1597, Nasa’i no. 1174].

- { اَلتَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ للهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ }

At-tahiyyaatuth-thoyyibaatush-sholawaatu lillaah, as-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarakaatuh, as-salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin, asyhadu al-laa ilaaha illalloohu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh

“Segala ucapan selamat, kebaikan, dan kebahagiaan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya” [HR. Muslim no. 404].

Perhatikan yang kalimat yang digaris bawah di atas. Sebagian ulama berpendapat bahwa kalimat as-salaamu ‘alaika itu diucapkan ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Adapun setelah beliau meninggal, maka disyari’atkan mengganti kalimat tersebut dengan : as-salaamu ‘alan-nabiy. Hal ini berdasarkan beberapa riwayat, diantaranya :

عن عطاء أن أصحاب النبي صلى اللَّه عليه وسلم كانوا يسلمون و النبي صلى اللَّه عليه وسلم حي اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ فلما مات قالوا اَلسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dari ‘Atha’ : Bahwasannya para shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bila mereka memberikan salam (dan shalawat ketika shalat) dan waktu itu beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam masih hidup : As-salaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh. Namun ketika beliau telah wafat, maka mereka mengatakan : “As-salaamu ‘alan-nabiyyi warohmatulloohi wabarokatuh “ [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 3075; shahih].

Dan inilah yang lebih benar dalam pengamalan. Wallaahu a’lam.

v Membaca shalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, diantaranya adalah (bisa dipilih salah satu):

- { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ }

Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa ahli baitihi wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa shollaita ‘alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiid. Wabaarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa ahli baitihi wa ‘alaa azwaajihi wadzurriyyatihi kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiid

“Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” [HR. Ahmad no. 23221; shahih].

- { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ }

Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohiim, innaka hamiidum-majiid. Alloohumma baarik alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohiima innaka hamiidum-majiid

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahiim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahiim. Sesunggunya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR. Al-Bukhari no. 3190 dan Muslim no. 406].

- { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ }

Alloohumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shollaita ‘alaa aali Ibroohiim, wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiima fil-‘aalamiina innaka hamiidum-majiid

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahiim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahiim di seluruh alam. Sesunggunya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR. Muslim no. 405].

- { اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النبي الأمي وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ}

Alloohumma sholli ‘alaa Muhammad, an-nabiyyil-ummiyyi wa ‘alaa aali Muhammad

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad – nabi yang ummi – dan kepada keluarga Muhammad” [HR. Abu Dawud no. 981; hasan].

Bolehkah menambah kata “sayyidinaa” sebelum lafadh/penyebutan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan Ibrahim ‘alaihis-salaam dalam shalawat ketika shalat ?

Pendapat yang rajih adalah tidak boleh. Hal itu dikarenakan apa yang diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah tanpa kata “sayyidinaa”. Begitu pula dengan apa yang diajarkan oleh para shahabat. Tidak satupun di antara mereka yang mengucapkan dan menambahkan “sayyidinaa”. Lafadh shalawat adalah lafadh yang sifatnya tauqifiyyah (yang berdasarkan wahyu) dimana tidak diperbolehkan penambahan kalimat-kalimat dari manusia. Apalagi hal itu diucapkan dalam shalat. Satu hal yang menunjukkan hal itu (yaitu satu lafadh doa haruslah persis sama dengan yang diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alahi wasallam) adalah ketika beliau menegur Al-Barra’ bin ‘Azib ketika Al-Barra’ keliru dalam mengucapkan doa/dzikir sebelum tidur. Al-Barra’ mengisahkan :

فرددتها علي النبي صلى الله عليه وسلم فلما بلغت : اَللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ قلت وَرَسُوْلِكَ قال لا وَنَبِّيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

“Maka aku mengulanginya (doa yang diajarkan Nabi) di hadapan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ketika aku sampai pada bacaan : “Alloohumma aamantu bi-kitaabikal-ladzii anzalta”; maka aku melanjutkannya dengan : “warosuulika”. (Mendengar itu) maka beliau menegurku : “Bukan begitu !, akan tetapi (yang benar) : ‘wanabiyyikal-ladzii arsalta’” [HR. Al-Bukhari no. 244]. [15]

s) Bangkit kepada Raka’at Ketiga dan/atau Keempat.

عن أبي هريرة أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان إذا أراد أن يسجد كبر ثم يسجد وإذا قام من القعدة كبر ثم قام

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu : ”Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam apabila hendak sujud, maka beliau bertakbir, kemudian sujud. Dan apabila beliau hendak berdiri dari tempat duduknya (dalam shalat), maka beliau bertakbir, kemudian berdiri” [HR. Abu Ya’la no. 6029 dengan sanad jayyid].

قال أبو حميد........ ثم إذا قام من الركعتين كبر ورفع يديه حتى يحاذي بهما منكبيه

Berkata Abu Humaid radliyallaahu ’anhu : ”....Kemudian apabila beliau shallallaahu ’alaihi wasallam berdiri dari raka’at kedua, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya” [HR. Abu Dawud no. 730; shahih].

t) Tasyahud Akhir.

· Secara umum, apa yang dilakukan pada tasyahud awal juga dilakukan pada tasyahud akhir. Hanya saja dalam tasyahud akhir, posisi duduk adalah tawaruk.

عن أبي حميد الساعدي : ..... وإذا جلس في الركعة الآخرة قدم رجله اليسرى ونصب الأخرى وقعد على مقعدته

Dari Abu Huamid As-Sa’idi radliyallaahu ’anhu : ”......Dan apabila beliau shallallaahu ’alaihi wasallam duduk pada raka’at terakhir, maka beliau menjorokkan (telapak) kaki kirinya, menegakkan (telapak) kaki kanan, dan duduk di atas pantatnya” [HR. Al-Bukhari no. 794].

· Membaca doa sebelum salam

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

عن أبي هريرة يقول قال رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم إذا فرغ أحدكم من التشهد الآخر فليتعوذ بالله من أربع من عذاب جهنم ومن عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات ومن شر المسيح الدجال

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Apabila salah seorang diantara kamu telah menyelesaikan (bacaan) tasyahud akhir, maka mohonlah kepada Allah agar dilindungi dari empat perkara, (yaitu) : siksa neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah/cobaan hidup dan mati, dan kejahatan Al-Masih Ad-Dajjal” [HR. Muslim no. 588].

Adapun lafadh doanya adalah :

{ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ }

Alloohumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannama wa min ‘adzaabil-qobri wa min fitnatil-mahyaa wal-maaati wa min syarri fitnatil-masiihid-dajjaal

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati, serta dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal” [idem].

Selain doa tersebut juga bisa dibaca :

{ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْماً كَثِيْراً وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَة مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ }

Alloohumma innii dholamtu nafsii dhulman katsiiroo, walaa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta, faghfirlii maghfirotam-min ‘indika, warhamnii innaka antal-ghofuurur-rohiim

“Ya Allah, sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan berilah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [HR. Al-Bukhari no. 799,5967,6953; dan Muslim no. 2705].

{ اَللَّهُمَّ حَاسِبنِْيْ حِسَاباً يَسِيْراً}

Alloohumma haasibnii hisaabay-yasiiro

”Ya Allah, hisablah/perhitungkanlah (segala amalku) dengan hisab/perhitungan yang mudah” [HR. Ahmad no. 24261 dengan sanad jayyid].

{ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ اْلأَحَدُ الْصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوا أَحَد أَنْ تَغْفِرَ لِيْ ذُنُوْبِيْ إِنَِّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ }

Alloohumma innii as-aluka yaa alloohul-ahadush-shomad, alladzii lam yalid walam yuulad, walam yakul-lahuu kufuwan ahad. An-taghfiro lii dzunuubii innaka antal-ghofuurur-rohiim

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ya Allah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, yang tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya; agar Engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [HR. Abu Dawud no. 985; shahih].

u) Salam

Salam pertama termasuk bagian rukun shalat yang harus dikerjakan, sedangkan salam kedua merupakan sunnah.

عن عامر بن سعد عن أبيه قال كنت أرى رسول الله صلى اللَّه عليه وسلم يسلم عن يمينه وعن يساره حتى أرى بياض خده

Dari ’Amir bin Sa’d dari ayahnya radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Aku melihat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam melakukan salam (di akhir shalat) dengan menoleh ke kanan dan ke kiri, sehingga aku melihat putih pipi beliau” [HR. Muslim no. 582].

عن عائشة أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان يسلم في الصلاة تسليمة واحدة تلقاء وجهه يميل إلى الشق الأيمن شيئا

Dari ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam pernah melakukan satu kali salam (yaitu ke kanan tanpa ke kiri) dalam shalatnya. Beliau memiringkan wajahnya sedikit ke sebelah kanan” [HR. At-Tirmidzi no. 296; shahih].

Ada beberapa macam cara salam dalam shalat, yaitu :

§ Mengucapkan « assalaamu ’alaikum warohmatullooh » ke kanan dan ke kiri

عن عبد الله أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان يسلم عن يمينه وعن شماله حتى يرى بياض خده اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Dari Abdullah (bin Mas’ud) radliyallaahu ’anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri hingga terlihat putih pipinya (dengan ucapan :) ”Assalaamu’alaikum warohmatullooh, assalaamu ’alaikum warohmatullooh” [HR. Abu Dawud no. 996; shahih].

§ Mengucapkan salam pertama (ke kanan) « assalaamu ’alaikum warohmatulloohi wabarookatuh » dan salam kedua (ke kiri) «assalaamu ’alaikum warahmatullah »

عن وائل قال صليت مع النبي صلى اللَّه عليه وسلم فكان يسلم عن يمينه اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ وعن شماله اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Dari Wail radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Aku pernah shalat bersama Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam, dimana beliau mengucapkan salam ke kanan : Assalaamu ’alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh; dan ke kiri : Assalaamu ’alaikum warohmatullooh” [HR. Abu Dawud no. 997; shahih].

§ Mengucapkan salam pertama (ke kanan) «assalaamu ’alaikum warahmatullah » dan salam ke dua (ke kiri) « assalaamu ’alaikum »

عن واسع بن حبان قال قلت لابن عمر أخبرني عن صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم كيف كانت قال فذكر التكبير قال يعني وذكر اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ عن يمينه اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ عن يساره

Dari Wasi’ bin Hibban ia berkata : Aku bertanya kepada Ibnu ’Umar : ”Khabarkanlah kepadaku bagaimana sifat shalat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ?”. Maka Ibnu ’Umar menjawab : ”Maka beliau mengucapkan takbir, yaitu (maksudnya) mengucapkan Assalaamu ’alaikum warohmatullooh ke kanan dan Assalaamu ’alaikum ke kiri” [HR. Nasa’i no. 1321; shahih].

§ Mengucapkan sekali salam ke kanan dengan «assalaamu ’alaikum warahmatullah » sebagaimana disebutkan dalam hadits ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa di atas.



Abul-Jauzaa’ – akhir Muharram 1430 – Ciomas Permai, Bogor.





Bahan bacaan : Shifatu Shalatin-Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (Syaikh Al-Albani – Maktabah Al-Ma’arif), Ashlu Shifati Shalatin-Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (Syaikh Al-Albani – Maktabah Al-Ma’arif), Fiqih Sunnah untuk Wanita (Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim – Al-I’tisham), Kitabul-’Ilm (Syaikh Ibnu ’Utsaimin – Daaruts-Tsuraya), Ad-Duruusul-Muhimmah (Syaikh Ibnu Baaz – islamhouse.com/Departemen Urusan Keislaman, Saudi Arabia), Menggerakkan Jari Telunjuk ketika Tasyahud (Ustadz Ibnu Saini – Maktabah Abdullah), Taisirul-’Allam Syarh ’Umdatil-Ahkaam (Syaikh Aali Bassam – Daar Ibnu Haitsam), Sunnah-Sunnah dalam Shalat yang Ditinggalkan (Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir – Bahrul-Ulum), Mausu’ah Hadits (Maktabah Ruuhul-Islaam), Fathul-Baariy (Ibnu Rajab – Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah), Syarh Matni Syuruuthish-Shalaah wa Arkaanihaa wa Waajibatihaa lisy-Syaikh Muhammad bin ’Abdil-Wahhab (Dr. Muhammad Aman Al-Jaami – Maktabah Ruuhul-Islaam), Hukmu Taarikish-Shalah (Syaikh Al-Albani – Daarul-Jalalain), dan yang lainnya.

[1] Contohnya adalah sebagaimana firman Allah ta’ala : {يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ صَلّواْ عَلَيْهِ وَسَلّمُواْ تَسْلِيماً} “Hai orang-orang yang beriman, berdoalah (bershalawatlah) kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” [QS. Al-Ahzab : 56].

[2] Hal ini didasarkan oleh sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللهُ تَعَالَى مَنْ أَحْسَنَ وُضُوْءَهُنَّ وَصَلاَهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ وَأَتَمَّ رُكُوْعَهُنَّ وَخُشُوْعَهُنَّ كَانَ لَهُ عَلَى اللهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفرَ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

“Allah ta’ala telah mewajibkan shalat lima waktu (atas para hamba-Nya). Barangsiapa yang membaguskan wudlunya, shalat tepat pada waktunya, menyempurnakan rukuknya, dan khusyu’; maka dia memiliki perjanjian di sisi Allah (untuk itu) untuk mendapatkan ampunan. Dan barangsiapa yang tidak berbuat demikian, maka ia tidak mempunyai perjanjian apapun dengan Allah. Jika Allah kehendaki, maka dia akan diampuni. Dan jika Allah kehendaki, maka dia akan disiksa” [HR. Abu Dawud no. 425; shahih].

[3] Ada perbedaan ulama mengenai larangan shalat setelah ‘Asar. Sebagian ulama mengatakan bahwa diperbolehkan mengerjakan shalat sunnah setelah ‘Asar dengan syarat matahari masih tinggi (panas). Adapun jumhur ulama tetap melarangnya.

[4] Lihat penjelasan Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qaththani dalam bukunya Shalatut-Tathawwu’ : Mafhumun wa Fadlaailun wa Anwa’un wa Adabun fii Dlauil-Kitab was-Sunnah.

[5] Abu Ishaq Asy-Syairazy rahimahullah, seorang pembesar madzhab Syafi’iyyah berkata : “Kemudian ia berniat. Berniat termasuk fardhu-fardhu shalat karena berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : ‘Sesugguhnya amalan itu tergantung niatnya dan bagi setiap orang apa yang ia niatkan’.; dan karena ia juga merupakan ibadah murni (mahdlah). Maka tidak sah tanpa disertai niat seperti puasa. Sedang tempatnya niat itu adalah di hati. Jika ia berniat dengan hatinya, tanpa lisannya, niscaya cukup. Di antara sahabat kami ada yang berkata : ‘Dia berniat dengan hatinya, dan melafazhkan (niat) dengan lisan’. Pendapat ini tak ada nilainya karena niat itu adalah menginginkan sesuatu dengan hati”. [Lihat Al-Muhadzdzab (3/168 bersama Al-Majmu’) karya Asy-Syairazy rahimahullah]

An-Nawawiy rahimahullah berkata ketika menukil pendapat orang-orang bermadzhab Syafi’iyyah yang membantah ucapan Abu Abdillah Az-Zubairy di atas : “Para sahabat kami -yakni orang-orang madzhab Syafi’iyyah- berkata : ‘Orang yang berpendapat demikian telah keliru. Bukanlah maksud Asy-Syafi’i dengan “mengucapkan” dalam shalat adalah ini (bukan melafazhkan niat). Bahkan maksudnya adalah (mengucapkan ) takbir’”. [Lihat Al-Majmu (3/168)]

[6] Adapun sutrah makmum adalah sutrah yang dipakai oleh imam.

[7] Yaitu sebagai isyarat dimulainya shalat dimana pada waktu itu diharamkan mengerjakan sesuatu apapun kecuali dari gerakan shalat.

[8] Yaitu sebagai isyarat telah selesainya shalat yang sekaligus diperbolehkannya mengerjakan suatu pekerjaan yang lain.

[9] Hadits yang menyatakan tentang peletakan kedua tangan di perut adalah dla’if (lemah).

[10] Terdapat pembicaraan yang panjang dalam hadits Samurah ini yang mempunyai inti bahwa hadits ini adalah lemah. Namun maknanya adalah benar bahwa terdapat dua tempat untuk berhenti sejenak dalam shalat, yaitu setelah takbiratul-ihram dan setelah membaca qira’at sebelum rukuk. Ini adalah madzhab jumhur ulama. Untuk pembahasan takhrij hadits, silakan baca Irwaaul-Ghalil juz 2 hal. 284-288 hadits no. 505. Dan penjelasan hukum silakan baca Ashlu Shifatish-Shalatin-Nabi hal. 601. Wallaahu a’lam.

[11] Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Al-Auza’i, Imam Ahmad, dan jumhur ahli hadits. Adapun hadits-hadits yang menyatakan sunnah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan, maka hadits-hadits ini adalah dla’if [lihat kitab Irwaa’ul-Ghaliil no. 357].

[12] Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang menghamparkan kedua siku ketika sujud (yaitu dengan menempelkan kedua siku di lantai) dengan sabdanya : {اعْتَدِلُوْا فِي السُّجُوْدِ وَلاَ يَبْسُطُ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبُ} “Luruslah (punggungmu) ketika sujud, dan janganlah salah seorang diantara kamu menghamparkan kedua hasta/sikunya seperti anjing menghamparkannya” [HR. Al-Bukhari no. 768].

[13] Adapun hadits Wail bin Hujr, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhum yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mendahulukan mengangkat tangan daripada lutut ketika berdiri dari sujud adalah hadits dla’if (lemah). Lihat selengkapnya pembahasan takhrij hadits dalam kitab Irwaaul-Ghaliil .

[14] Adapun hadits : { أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يشير بأصبعه إذا دعا ولا يحركها } “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuknya dan tidak menggerak-gerakkannya” [HR. Abu Dawud no. 989, An-Nasa’i no. 1270, Abu ‘Awanah no. 2019, dan yang lainnya]; adalah hadits syadz lagi dla’if, sehingga tidak dipakai.

[15] Doa selengkapnya adalah : {اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ رَغْبَة وَرَهْبَة إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ اَللَّهمَّ آمَنْتُ بِكتَابِكَ الَّذيْ أَنْزَلْت وَنَبِّيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ}

“Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu dengan penuh harap dan rasa takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat mencari keselamatan dari murka dan siksa-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus”.

Perhatikanlah ! Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak memberikan toleransi kepada Al-Barra’ bin ‘Azib ketika ia salah mengucapkan doa, dengan mengganti lafadh “nabi” menjadi “rasul”. Padahal, secara substansi kedua kata ini dalam keseluruhan makna doa tidaklah berbeda. Hanya saja, beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam tetap menginginkan keselarasan doa yang diucapkan Al-Barra’ dengan yang beliau ajarkan kepadanya.

Lantas, bagaimana jika kita menambah lafadh “sayyidinaa” kepada Nabi pada shalawat dalam shalat ? Penolakan ini bukanlah berarti penolakan kedudukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai sayyid bagi manusia. Namun, semata-mata hanyalah meneladani lafadh doa yang beliau ajarkan sesuai dengan hadits-hadits shahih yang sampai pada kita.